Pages

Jumat, 07 Februari 2020

La Vie On Rose: Kesepian Menyakitkan Edith Piaf

" I want to die young. I think it's awful to get old, and sickness is ugly." 

~ Edith Piaf 
( 19 Desember 1915 - 10 Oktober 1963)

Saya mengenal lagu-lagu Edith Piaf dari almarhum Ayah saya yang suka memutarnya saat mengantar saya ke kampus. Selama perjalanan hampir satu jam itu, saya mendengar lagu-lagu itu sambil melamunkan hal-hal romantis, terutama lagu "La Vie On Rose", padahal saya tak paham artinya.  Belakangan, saya menemukan biopik tentang kisah hidup Edith Piaf yang ternyata sangat memilukan. 
Film berbahasa Perancis yang mengantarkan Marion Cotillard , pemeran Edith meraih piala Oscar 2008 ini dibuka dengan penampilan Edith di sebuah hall mewah di New York, pada Februari 1959.  Sementara itu kepanikan terjadi di belakang panggung, para kru mulai mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memanggil ambulans untuk menyelamatkan sang Diva. Benarlah, di akhir lagu, Edith jatuh pingsan lalu membawa penonton ke sebuah jalanan kumuh di Perancis tahun 1918. 

Seorang gadis kecil yang lusuh dan kumal tampak menangis ketakutan karena diganggu sekelompok anak laki-laki nakal. Dari kejauhan, ibunya sedang bernyanyi untuk mendapatkan uang. Perempuan muda itu sangat kesal karena dia tak leluasa bekerja dengan seorang anak ada bersamanya. Dia pun menulis surat pada suaminya yang sedang berada di medan pertempuran bahwa dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia juga  menuliskan dalam suratnya bahwa dia akan pergi mengejar mimpinya menjadi artis dan meninggalkan anak mereka, Edith pada ibunya. 
Edith saat dalam pengasuhan neneknya di rumah bordil

Tinggal Di Rumah Bordil 
Begitu kembali dari medan pertempuran, sang Ayah langsung mencari anaknya yang saat dia temukan dalam keadaan tidak terurus. Anak itu menderita katarak dan sulit mendengar. Dia lalu membawa Edith kecil ke rumah ibunya, yang berada di Normandia dan menitipkan Edith karena dia harus kembali bekerja. Nenek Edith menjalankan bisnis prostitusi dan Edith dengan cepat menjadi kesayangan semua pekerja seks yang ada di rumah bordil tersebut. 

Selama tinggal bersama neneknya di Normandia. Edith mendapatkan banyak limpahan kasih sayang, terutama dari pekerja seks bernama Titine. Dari Titine pula, Edith belajar bernyanyi karena Titine selalu menyanyikan lagu untuknya. 

Ketika katarak yang diderita Edith semakin parah dan membuatnya tak bisa melihat, Titine dan pekerja seks lainnya  mendorong nenek Edith membawa Edith berziarah ke Santa Therese de Lisieux  untuk mendapatkan air suci yang dipercaya bisa menyembuhkan kebutaan. Pada akhirnya, Edith memang bisa kembali melihat dan memutuskan sampai akhir hayatnya dia tidak akan melepaskan kalung salib, kemana pun dia pergi. 

Film ini disajikan dengan menampilkan berbagai kilas balik kehidupan Edith secara acak, termasuk saat dia menyesali kematian anak tunggalnya,  Marcelle,  yang scene-nya justru muncul di bagian-bagian akhir film. 
Satu-satunya anak kandung Edith yang meninggal karena meningitis
Edith sendiri lahir dengan nama Edith Giovanna Gassion di sebuah distrik kumuh di kawasan Belleville, Paris. Banyak yang menyebutkan kalau Edith sebenarnya lahir di tepi jalan Rue de Belleville 72, tapi kalau berdasarkan akta kelahirannya, Edith  lahir di Hopital Tenon dan nama Edith diambil ibunya dari nama Edith Cavell, seorang perawat yang dihukum mati karena menolong tentara Perancis, dua bulan sebelum kelahiran Edith.  

Ibu kandung Edith bernama Annetta Giovanna Maillard namun lebih dikenal dengan nama panggung Line Marsa. Dia melahirkan Edith di usia 17 tahun saat dia bekerja sebagai penyanyi kafe. Ayahnya, Louis Alphonse Gassion, seorang pemain akrobat yang kemudian bergabung dengan Tentara Perancis. 

Edit bersama saudara seayahnya

Edith bersama Ayah kandung dan Ibu tirinya
Burung Gereja Kecil

Edith menghabiskan masa kecil dan sebagian masa remajanya di jalanan. Setelah memutuskan  keluar dari kelompok sirkus keliling,  Ayahnya (Jean - Paul Rouve) melakukan atraksi akrobat di jalanan dan Edith bernyanyi. Karena tak tahan dengan sikap Ayahnya yang kasar, Edith kemudian memilih mencari uang sendiri, menyanyi di jalanan seperti  ibunya. 

Bersama saudara seayahnya, Simone (Sylvie Testud) yang biasa dia panggil Momone, Edith menyanyi di berbagai sudut jalan kota Paris hingga akhirnya dia bertemu dengan Louis Leplee ( Gerald Depardieu), seorang pemilik kelab malam mewah di kota Paris. Louis yang biasa dipanggil Papa Leplee pula yang kemudian memberi tambahan Piaf di belakang nama Edith. Nama Piaf yang berarti burung gereja kecil diberikan Leplee karena Edith bertubuh kecil dengan tinggi 142 cm tapi memiliki suara yang sangat indah. 

Sayangnya, tak lama setelah berhasil mengorbitkan Edith, Leplee tewas terbunuh dan Edith sempat dicurigai terlibat meski pada akhirnya polisi melepaskannya. 
Edith dan Simone
Awal-awal karier menyanyi Edith
Mencintai Suami Orang
Setelah kematian Leplee, Edith pun mulai menata ulang karier menyanyi dan rumah tangganya. Meski tiga kali menikah, tapi cinta sejatinya hanya pada  Marcel Cerdan (Jean  Pierre Martins), seorang juara dunia , petinju kebanggaan Amerika. Masalahnya, Mercel sudah menikah dan memiliki tiga anak dan sangat mencintai keluarganya. 

Edith sering  curhat ke Simone betapa Marcel sangat mendahulukan keluarganya dari apapun. Kemana pun pergi, Marcel pasti menelepon istri dan anak-anaknya. Edith pun sangat menyadari dan tidak ingin merusak hubungan Marcel dengan keluarganya. Ketika Marcel meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat, Edith sangat terguncang dan mengalami depresi yang membuatnya harus berhenti bernyanyi hingga berbulan-bulan. Adegan saat Edith mendengar kabar kematian Marcel di film yang juga memenangkan piala Oscar untuk tata rias, merupakan scene yang sangat menguras emosi. Kehilangan seseorang yang sebenarnya tidak pernah dimiliki memang sangat menyakitkan. 
Edith dan Marcel
Foto kehangatan Marcel Cerdan dan keluarganya
Kecanduan Morfin
Kecelakaan parah yang pernah dialami membuat Edith kecanduan morfin. Selain itu, depresi setelah kematian Marcel juga membutuhkan pelampiasan. Apalagi sejak remaja Edith juga sudah akrab dengan alkohol. Hal itu membuatnya sering sakit-sakitan hingga berbulan-bulan. Tubuhnya yang ringkih sering tak mampu menopang berat badannya sendiri. Simone yang setia mengurusinya pun acap menjadi sasaran kemarahan Edith. 

Film ini berjalan lambat mengikuti langkah Edith yang mulai melambat. Belum lagi tubuh mungilnya yang mulai membungkuk. Pada saat itu pula dia bertemu suami terakhirnya yang lebih muda 20 tahun dari dirinya, Theo Saropo. Edith meninggal dunia di usia yang sebenarnya baru 47 tahun. Tapi penampilan terakhirnya tampak jauh lebih tua. 
Edith juga  seorang alkoholic




Meski sakit tapi tetap produktif

Edith bersama Theo

Kalung Salib yang tak pernah dari lehernya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar