Pages

Kamis, 16 Januari 2020

Cinta Absurd Virginia Dan Vita

“If you do not tell the truth about yourself,
 you cannot tell it about other people.”

~Virginia Woolf (25 Januari 1882 - 28 Maret 1941)

Akhir pekan kemarin, saya menonton biopik "Vita & Virginia" (2019). Sebuah film yang diangkat dari kisah cinta  Virginia Woolf dengan Vita Sackville-West, seorang sosialita yang tergila-gila padanya.

Vita (Gemma Arterton), isteri seorang diplomat dan penata taman, Sir Harold Nicolson, memang dikenal dengan berbagai skandal lesbiannya, sehingga membuat sang Ibu (Isabella Rosellini), perempuan aristoktrat merasa malu dan sering bertengkar dengannya. Ibunya khawatir, kebiasaan yang memalukan ini berdampak buruk pada perkembangan jiwa kedua anak Vita dan merusak reputasi keluarga mereka. 
Penampilan androgini Vita dan kepiawaiannya menulis puisi cinta kemudian mempertemukan Vita dengan Virginia (Elizabeth Debicki) yang bersama suaminya, Leonard Woolf mendirikan  Hogarth Press. Vita ingin Virginia bersedia menerbitkan tulisannya. Dia juga secara berani memperlihatkan rasa kagumnya pada Virginia dan meminta Leonard mengizinkan Virginia pergi bersamanya. Meski awalnya Virginia menolak ajakan Vita, tapi hujanan surat dan puisi cinta Vita mampu menggoyahkan hatinya. Vita mampu menaklukkan hasrat liar Virginia yang selama ini dia curahkan lewat novel-novelnya. 

"..... I miss you even more than I could have believed; and I was prepared to miss you a good deal. So this letter is just really a squeal of pain. It is incredible how essential to me you have become. I suppose you are accustomed to people saying these things. Damn you, spoilt creature; I shan’t make you love me any the more by giving myself away like this—But oh my dear, I can’t be clever and stand-offish with you: I love you too much for that. Too truly..." demikian isi salah satu surat cinta Vita untuk Virginia yang ditulis pada kisaran tahun 1926. 

Meskipun keduanya masih terikat dalam pernikahan yang sah dengan pria, namun mereka saling  menulis ratusan surat puitis satu sama lain. Hubungan asmara itu pula yang menginspirasi Virginia menulis salah satu karyanya yang paling terkenal, "Orlando " (1928). Sebuah novel fenomenal yang dengan berani  mengangkat isu transgender. 

Film karya sutradara Chanya Button ini mengambil setting masyarakat kelas atas di London pada tahun 1920-an dengan menampilkan  sejumlah tokoh sastra, jurnalis dan politisi yang hidup di masa itu. 
Virginia dan Vita 
Virginia dan Leonard Woolf

Vita dan Nicolson 
Vita dan kedua anaknya
Skandal Vita 
Virginia lahir di London pada tahun 1882 dengan nama Adeline Virginia Stephen dan biasa dipanggil Ginia. Kakak perempuannya, Vanessa , seorang pelukis yang sangat berbakat dan tergabung dalam Bloomsbury Group, sebuah komunitas  seniman radikal, penulis dan pemikir yang dibentuk pada awal abad 20. Pada tahun 1912, Virginia menikah dengan Leonard Woolf, seorang penulis sayap kiri yang aktif secara politis sekaligus teman kuliah kakaknya.

Sedangkan Vita Sackville-West yang  10 tahun lebih muda dari Woolf berasal dari keluarga aristokrat dan sangat terkenal di kalangan sosialita terutama lewat skandal-skandal cinta sesama jenisnya. Sikap maskulinitas yang ditampilkan Vita sebenarnya lebih sebagai bentuk protes pada kegagalannya mewarisi Knole, rumah leluhur trah Sackvilles karena dia seorang perempuan. 

Apa yang dialami Vita kemudian menginspirasi Virginia menulis esai berjudul "A Room of One's Own " ( 1929). Sebuah esai yang mengangkat isu feminis tentang pentingnya perempuan untuk mandiri secara finansial.  

Vita menikah dengan Harold Nicolson pada 1913, dengan pernikahan yang tergolong absurd, dimana Nicolson membiarkan istrinya melakukan hubungan sesama jenis di luar pernikahan mereka dan dia juga melakukan hal yang sama dengan teman prianya. Skandal terbesar yang dilakukan Vita saat dia kawin lari dengan kekasih perempuannya, Violet Trefusis tahun 1917. Dua tahun kemudian, keduanya baru kembali ke Inggris dan membuat keluarga Vita sempat dikucilkan di kalangan koleganya. Tahun 1922, Vita mulai tergila-gila dengan kecerdasan Virginia dan mengaku pada Nicolson bahwa dia jatuh cinta dengan Virginia. Butuh tiga tahun dia untuk mendapat balasan cinta dari Virginia. 
Vita dan Violet
Setelah pertemuannya dengan Virginia dan keinginan menggebu-gebu Vita yang berkali-kali mendapat penolakan dari Virginia, akhirnya Hogarth Press,  bersedia menerbitkan tulisan Vita secara komersil.  Keuntungan dari novel-novel Vita yang laku keras secara tidak langsung juga ikut menyelamatkan Hogarth Press dari kebangkrutan. 

Luka Virginia
Di masa kedekatan dengan Vita itu pula , Virginia sedang berjuang untuk kesehatan mentalnya. Kematian mendadak ibunya tahun 1895 saat dia berusia 13 tahun disusul kematian orang-orang terdekat dalam hidupnya, Stella (kakak tirinya, yang meninggal tahun 1897) sang Ayah pada tahun 1904, dan Thoby, saudara yang sangat dicintainya  (1907) menjadi pemicu depresi yang menderanya. Dia bahkan berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. 
Virginia saat remaja
Sepanjang tahun 1913 - 1915,  Virginia melakukan beberapa upaya bunuh diri, termasuk dengan melompat dari jendela dan mengonsumsi obat penenang secara berlebihan. Akibatnya, Virginia jadi sering berhalusinasi dan tidak mau makan hingga terserang insomnia. 

Hubungan asmara Virgiania dan Vita berlangsung sejak 1925 dan berakhir pada 1935 dengan masa paling intens selama kurun 1925 hingga 1928. Virginia terus tenggelam dengan depresi yang dia derita dan Vita tetap dengan kebiasaannya berganti kekasih. 
Virginia saat berjuang melawan depresi
Tiga minggu setelah Leonard Woolf tidak mendapati istrinya di rumah, jenazah Virginia ditemukan di Sungai Ouse dengan kantong baju penuh dengan batu. 

Leonard tetap mempertahankan Hogarth Press dan cinta tulusnya pada Virginia, demikian pula dengan Nicolson yang tidak pernah meninggalkan Vita hingga Vita meninggal dunia pada 2 Juni 1962. Nicolson juga tidak menikah lagi hingga dia tutup usia pada 1 Mei 1968.  Sungguh cinta yang sangat absurd. 
Hari-hari terakhir Virginia bersama Leonard
Vita dan Nicolson 







2 komentar:

  1. Menarik banget :). Aku paling suka sbnrnya baca ato nonton film yg based on kisah nyata begini. Apalagi dengan tema yg ga biasa seperti LGBT. Yang kalo di puter di negara sendiri, mungkin udah kena banned to sensor di mana2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. samaaa mba... ternyata banyak tokoh2 dunia yang LGBT. film ini juga ngga tayang di Indonesia seperti halnya film Frida

      Hapus