Pages

Jumat, 24 Januari 2020

Capote, Penulis Berdarah Dingin

“Writing has laws of perspective, of light and shade just as painting does, or music. If you are born knowing them, fine. If not, learn them. Then rearrange the rules to suit yourself.”

~ Truman Capote 
(30 September 1924 - 25 Agustus 1984) 



Tidak banyak penulis yang mampu meninggalkan masterpiece sebagaimana Truman Capote. Bahkan berita kecil dari pojok halaman belakang sebuah koran lokal mampu membuatnya menulis sebuah novel fenomenal, "In Cold Blood". Novel yang pernah diunggulkan dapat memenangkan Pulitzer itu telah diadaptasikan ke beberapa film layar lebar dan serial televisi. Salah satunya, film "Capote" (2005) yang mengantarkan Philip Seymour, pemeran Truman Capote, meraih Oscar.


Pembunuhan Keluarga Clutter
Film yang saya tonton saat melawan insomnia ini lebih berfokus pada proses Capote menulis novel "In Cold Blood" dan persahabatannya dengan Perry Smith (Clifton Collins, Jr). Banyak yang menduga, kalau Capote tidak sekadar bersahabat dengan salah seorang pelaku pembunuhan Keluarga Clutter ini. 

Berlatarbelakang tahun 1959 ketika Capote sedang minum teh sambil membaca koran The New York Times. Dia terpaku pada sebuah berita kecil yang memuat tentang pembunuhan empat anggota keluarga Clutter. Mayat keempatnya ditemukan di rumah mereka, sebuah peternakan yang terletak di Kansas. 

Seketika Capote menelepon William Shawn (Bob Balaban), editor di majalah The New Yorker dan menceritakan kalau dia ingin berangkat ke Kansas untuk menulis peristiwa pembunuhan tersebut. Hal ini  tentu saja membuat Shawn terkaget-kaget tapi tak berusaha mencegah keinginan Capote. 
Kliping berita pembunuhan Keluarga Clutter
Rumah Keluarga Clutter, tempat terjadinya perampokan dan pembunuhan sadis
Keluarga Clutter

Bersama sahabat masa kecilnya, Nelle Harper Lee (Catherine Keener), pemenang Pulitzer Prize untuk novelnya "To Kill a Mockingbird", Capote naik kereta menuju Kansas.  Mereka sebenarnya tidak hanya bersahabat tapi juga masih sepupu jauh. Saya jatuh cinta pada keduanya terutama sejak membaca Novel "Tru & Nelle" yang menceritakan masa kecil mereka yang lucu sekaligus mengharukan. 

Dalam perjalanan karier Capote, Nelle juga berperan sebagai manajer dan sekretaris tak resminya, termasuk saat mengolah berita pembunuhan ini hingga  menjadi novel kriminal paling laris di dunia.  Bukan hal mudah untuk  mendapatkan akses meliput peristiwa pembunuhan di sebuah kota kecil. Apalagi detektif Alvin Dewey (Chris Cooper) yang memimpin kasus ini juga bukan orang yang suka dengan publisitas. Dia bahkan sempat mengusir Capote. 

Pantang menyerah, Capote kemudian berusaha menemui Alvin di rumahnya. Tak disangka, Marie (Amy Ryan), istri Alvin, merupakan penggemar novel-novel Capote. Marie bahkan memohon pada Alvin agar mengundang Capote dan Nelle makan malam di rumah mereka yang akhirnya membuat Alvin mengizinkan Capote melihat foto para korban. 
Capote di makam Keluarga Clutter
Capote bersama Nelle

Capote dan Nelle versi film "Capote"
Capote bersama Alvin dan Marie
Perry & Dick 
Pada saat mereka menyantap makan malam sambil mengobrol, Alvin mendapat kabar kalau tersangka pembunuhan Keluarga Clutter berhasil ditangkap di tempat persembunyiannya. Pada malam itu pula, untuk pertama kalinya Capote melihat Perry Smith dan Richard "Dick" Hickock (Mark Pellegrino). Keduanya tampak lemah dan polos, sedikitpun tak ada yang mengesankan kalau mereka merupakan pembunuh berdarah dingin. 

Selain kedekatannya dengan Alvin, pembawaan Capote yang supel dan kebiasaannya yang royal, memudahkannya bisa menembus penjara tempat kedua tersangka itu ditahan. Selanjutnya, Capote pun mulai menjalin hubungan yang intens dengan Perry. Kedekatan dengan Perry pula yang membuat Capote mengubah tujuan awalnya yang hanya ingin menuliskan reportase, menjadi sebuah novel nonfiksi. Shawn pun antusias dengan rencana Capote itu, meski akhirnya butuh waktu yang cukup lama menyelesaikannya. 

Seorang Capote bahkan sempat memutuskan menghentikan penulisan buku itu, terutama saat hubungannya dengan Perry memburuk. Beberapa kali Perry sempat menolak bertemu dengannya karena merasa Capote telah memanfaatkan dirinya.  Bahkan, Jack Dunphy ( Bruce Greenwood), teman dekat Capote, mencurigai Capote terlalu emosional terhadap Perry. 
Perry Smith dan Dick Hickock saat ditangkap
Perry Smith dan Dick Hickock di arsip Kepolisian Kansas
Capote dan Jack Dunphy versi film "Capute" 
Film ini secara detail menyajikan  perjalanan kasus pembunuhan tersebut hingga akhirnya para juri memutuskan keduanya bersalah dan hakim memvonis mereka dengan hukuman mati. 

Mulailah Capote menghabiskan tahun-tahun panjang menulis sisi kelam kedua pemuda itu, termasuk pertemuan Capote dengan kakak kandung Perry. Capote juga yang mencarikan Perry dan Dick  penasehat hukum meski akhirnya dia tidak mampu menyelamatkan Perry dan Dick dari tiang gantungan.  

Selama Capote menyelesaikan bukunya itu, novel yang ditulis Nelle diangkat ke layar lebar dan dijagokan menerima hadiah Pulitzer. Capote merayakan keberhasilan Nelle dengan mabuk-mabukan, karena jauh di dalam hatinya dia sangat mendambakan bisa memenangkan Pulitzer.

Setelah berkali-kali mengajukan banding dan ditolak, Capote dan Nelle menerima telegram dari Perry agar mereka segera datang ke Kansas. Perry ingin Capote menyaksikan kematiannya. Sebuah permintaan yang membuat siapapun yang berada di posisi Capote akan merasakan sakit yang menyesakkan sepanjang hidup. Adegan ini sangat menguras emosi dan menjadi bagian paling getir dari film "Capote". Terutama saat mata Perry menatap Capote penuh kepedihan sebelum dia menuju kematiannya. 
Perry Smith dan Capote


Perry Smith dan Capote versi Film "Capote"
Perry Smith dan Dick menjelang dieksekusi versi film "Capote"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar