Pages

Selasa, 19 November 2019

Hartuti, Perempuan Tangguh Penjaga Sabira

Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi perempuan ini tetap setia menjaga Sabira. Semangat yang dia dapatkan dari almarhum suaminya itu membuatnya kokoh, tak ubahnya Noord Wachter, Sang Penjaga Utara yang berdiri gagah menjaga pulau itu sejak 150 tahun lampau.  
Hartuti (foto : Ade Nur Sa'adah)
Matahari persis di atas kepala. Terik menyengat ubun-ubun. Sungguh siang yang garang. Aroma laut yang tajam menampar bakul-bakul ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Kamal, Jalan Kamal Pantai, Jakarta Utara, tempat saya berbincang dengan Hartuti, salah seorang Nominasi #IbuIbukotaAwards Bidang Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Perempuan kelahiran 7 Juli 1940 ini memang bukan perempuan biasa. Dia tidak hanya tangguh menghadapi gelombang laut saat mengungsi dari Pulau Genteng menuju pulau tak berpenghuni bernama Sabira,  tapi dia juga perempuan dengan mimpi besar yang tak semua perempuan memilikinya.
“ Saya ini awalnya hanyalah  istri seorang nelayan yang merasa sangat senang kalau suami pulang melaut dengan membawa ikan yang banyak,” kata Tuti, memulai kisahnya. Angin di dermaga membuat dia harus sesekali merapikan letak kerudungnya.

Foto : Ade Nur Sa'adah

 Bersama suami, Haji Joharmansyah yang menikahinya pada 24 April 1964, mereka tinggal di Pulau Genteng, Kelurahan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Sayangnya, tahun 1974 mereka digusur dari pulau itu dan ditempatkan di Pulau Pemagaran. “ Masing-masing kepala keluarga mendapatkan satu kapling lahan di pulau itu. Tapi tidak ada yang mau pindah. Kemuduan suami saya mendapat cerita dari nelayan lainnya kalau di Pulau Sabira masih banyak ikannya. Warga Pulau Genteng yang mau digusur pun jadi terbagi dua, sebagian ke Sabira dan sebagian lagi ke Kelapa dua,” Tuti menambahkan.

Pulau Sabira dengan Noord Wachter yang menjaganya  (Foto : Leo Nugraha)

Menaklukkan Sabira
Karena mendengar cerita nelayan tersebut, Joharmansyah kemudian memutuskan memilih pindah ke Sabira. Bersama 20 keluarga lainnya, secara bertahap mereka pindah ke Sabira yang terletak di ujung Utara Kepulauan Seribu.
“ Bukan hal mudah bisa tinggal di Sabira. Pulau ini kosong tanpa penghuni kecuali petugas penjaga mercusuar. Mereka melarang kami mendirikan rumah. Kami hanya dibolehkan mendirikan tenda.”
Tidak hanya itu, petugas penjaga mercusuar juga suka meminta sebagian ikan hasil tangkapan mereka. “Tapi saya dan keluarga nelayan lainnya tetap memilih bertahan tinggal di pulau ini. Pulau harapan kami.”

Foto : Dokumen Kompas
Sejak tahun 1975, mereka sudah memutuskan menetap di Sabira. Di pulau itu pula, Joharmansyah bersama Hartuti  mulai melakukan berbagai hal yang diharapkan bisa membuat kehidupan mereka di Sabira semakin baik, termasuk mendirikan sekolah darurat untuk anak-anak warga.

Cerita tentang pulau Sabira dengan ikannya yang berlimpah akhirnya sampai ke nelayan dari Bugis yang selama ini berada di Belitung. “ Tahun 1978, masuk ke pulau ini delapan perahu yang berisi nelayan Bugis dan ingin menetap di Sabira. Maka, warga yang tinggal di Sabira menjadi semakin banyak. Sampai tahun 1980, belum banyak yang tahu kalau ada pulau bernama Sabira di Kepulauan Seribu, termasuk Pemda setempat,” mata Tuti menerawang ke masa lalu, menceritakan bagaimana kemudian mereka kedatangan staf Kelurahan Pulau Kelapa untuk mendata keberadaan mereka.
Tuti bersama Muspida Kepulauan Seribu (foto : Dokumen Pribadi Hartuti)
Menerima kedatangan Gubernur DKI Anies Baswedan (foto : Dokumen Pribadi Hartuti)
Tidak hanya pihak dari Kelurahan hingga Pemda DKI, pemerintah Lampung juga menawarkan mereka menjadi warga Lampung, mengingat posisi Sabira lebih dekat ke Lampung. Butuh waktu 8 jam perjalanan dengan perahu nelayan dari pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, untuk sampai ke Sabira. Sementara pelayaran ke Lampung hanya butuh waktu separuhnya. Tapi sekarang,  pemerintah telah menyediakan kapal mesin  yang hanya membutuhkan waktu 2 jam ke Sabira. 

Joharmansyah kemudian dipilih warga menjadi Ketua RW Sabira yang pertama. Kepercayaan sebagai Ketua RW tersebut dia emban sampai akhir hayatnya tahun 2012,  lalu Tuti didapuk menggantikannya.  

Bersama suaminya, Tuti bergantian mengajar di sekolah darurat yang mereka dirikan. Saking daruratnya, para orang tua murid membuat sendiri meja dan kursi untuk anaknya.  “Kalau suami melaut, saya yang mengajar.”

Selain mengajar di sekolah darurat, Ibu enam anak dan nenek dari 15 cucu ini juga mengajari  istri nelayan mengolah hasil tangkapan suami  menjadi ikan asin, bakso hingga kerupuk untuk menambah pemasukan keluarga.

Murid-murid PAUD di Sebira (foto : Dokumen Pribadi Hartuti)
Karena jumlah murid semakin bertambah, Joharmansyah  dan Tuti merasa kewalahan sehingga meminta warga yang memiliki pendidikan guru untuk membantu mengajar di sekolah darurat itu. Untuk membayar gaji guru tersebut, tak jarang Joharmansyah  harus menomboki dari uang pribadinya. “Padahal waktu itu kami sudah punya empat orang anak, tapi bapak yakin kalau memberi tidak akan mengurangi rezeki, malah sebaliknya.” Saya yang mendengarnya, tidak mampu menyembunyikan kekaguman saya.
Tuhan pun menjawab harapan Joharmansyah dan Tuti. Sekolah darurat yang mereka gagas kini menjadi SD -  SMP SATU ATAP 02 yang gurunya merupakan PNS dan sebagian honorer. Sekolah itu didirikan tahun 1985 dan baru diresmikan tahun 1989 oleh Gubernur Wiyogo Atmodarminto yang tercatat sebagai gubernur pertama yang menginjakkan kaki ke Pulau Sabira.

Sekolah yang dirintis Joharmansyah dan Tuti (foto dokumen Info Sebira)
Sabira yang awalnya tak diketahui keberadaannya, kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata andalan di kawasan Kepulauan Seribu. Joharmansyah dan Tuti menaklukkannya dengan cara yang sangat visioner. Mengagumkan. 

Melawan Tengkulak
Setelah mendirikan SD dan SMP, tahun 1992, Tuti mulai merintis PKK dan Posyandu di pulau seluas 8,8 hektare yang kini dihuni 500 jiwa dari 160 KK.
    “Keberadaan PKK bagi saya dan ibu-ibu Pulau Sabira bukan hanya tempat melakukan kegiatan keperempuanan semata, tapi juga bentuk perjuangan kami melawan tengkulak,” ujar Tuti. Matanya tampak menahan kemarahan saat menceritakan bagaimana jahatnya tengkulak merusak perekonomian nelayan.
    “Biasanya mereka datang menawarkan pinjaman modal untuk nelayan melaut dan selanjutnya mereka dengan kejam memeras nelayan tersebut tanpa ampun. Ekonomi nelayan pun berada di bawah kendali mereka.  Makanya saya selalu tegaskan kepada warga, terutama para istri nelayan agar jangan sampai termakan bujuk rayu para tengkulak.”
    Berkat edukasi yang ditanamkan Tuti pada warga, kini mereka bisa mengelola sendiri hasil tangkapan ikan mereka. Selain itu, makanan olahan ikan yang mereka produksi juga sudah menembus pasar kota lain di Indonesia, terutama ikan asin selar khas dari Sabira.

Ikan asin selar khas dari Sabira (foto : Dokumen Info Sabira)

Setelah Joharmansyah wafat, kini Tuti yang meneruskan semangat almarhum menjaga Sabira. Rumah mereka juga menjadi tempat tamu menetap selama berada di Sabira. Semangat Tuti dalam menghadirkan suasana lingkungan yang humanis dan harmonis di Pulau Sabira nyatanya mampu mengantarkan dirinya  menjadi salah satu Nominasi dalam ajang IbuIbukota Awards.

“Ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di Youtube dan Instagram @Ibu.Ibukota” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar