Pages

Selasa, 08 Mei 2018

Ketika Rasulullah Melarang Ali Berpoligami

Meski Rasulullah saw berpoligami, namun beliau tidak mengizinkan menantunya Ali Bin Abi Thalib ra melakukan hal yang sama terhadap Fatimah. Karena Rasulullah tidak akan membiarkan apapun yang dapat membuat hati Fatimah terluka.
Pro dan kontra tentang masalah poligami kembali ramai dibicarakan terutama di linimasa. Berita tentang seorang ulama yang memperkenalkan istri ketiganya, dan ungkapan perasaan istri seorang musisi religi yang suaminya menikah lagi tanpa izin darinya, menjadi topik yang paling banyak dibahas warganet.
Mayoritas muslim yang pro pada praktik poligami berpegang pada Alquran surat an-Nisa ayat 3 yang membolehkan seorang laki-laki menikahi maksimal empat orang perempuan, asalkan dia mampu bersikap adil.  Namun jarang sekali ada yang mengangkat hadis tentang  Rasulullah yang pernah melarang menantunya Ali bin Abi Thalib melakukan poligami.
Hadis tersebut dirawi dari Miswar bin Makhramah ra yang mengisahkan,”  Saya mendengar Rasulullah berkutbah di mimbar :  Bani Hasyim bin Mughirah meminta izinku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan. Kecuali kalau Ali bin Abi Thalib menceraikan puteriku terlebih dahulu, lalu silahkan menikah dengan puteri mereka. Dia ( Fatimah) adalah bagian dari diriku, sesuatu yang membuat hatinya galau akan membuat hatiku galau juga, dan sesuatu yang menyakitinya akan membuatku sakit juga .”(HR. Bukhari).
Masih dari Miswar bin Makhramah ra, dikisahkan ,” Ali meminang anak perempuan Abu Jahal, padahal dia sudah beristri Fatimah,  puteri Rasulullah saw. Fatimah mendengar hal tersebut, lalu mendatangi Rasulullah Saw, seraya berkata: dia menganggapmu tidak akan pernah marah (wahai ayahku). Ini, Ali akan menikahi anak Abu Jahal, lalu Rasulullah saw bergegas dan aku mendengar, setelah selesai salat, baginda berkata: “Amma ba’du (maka setelah itu), aku telah menikahkan puteriku terhadap Abu al Asr bin ar-Rabid dan dia setia serta jujur terhadapku. Fatimah itu bagian dari diriku, aku tidak akan pernah senang jika ada orang yang berbuat buruk terhadapnya, jika ada orang yang membuat fitnah (gangguan) kepadanya –demi Allah, tidak akan pernah bisa berkumpul puteri Rasulullah dengan puteri musuh Allah dalam pangkuan satu orang suami selamanya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
Poligami Rasulullah
Selama dua puluh tahun pernikahannya dengan Siti Khadijah, Rasulullah tidak berpoligami. Kalau pun kemudian Rasulullah melakukan poligami juga dengan alasan yang jelas, salah satunya melindungi janda para mujahid. Istri Rasulullah umumnya janda yang sudah berusia tua dan memiliki banyak anak.
Begitupun, bukan berarti pernikahan Rasulullah berjalan tanpa riak. Rasulullah pernah meninggalkan semua istrinya selama sebulan karena sikap cemburu Aisyah yang berlebihan terhadap Maria Alqibtiyah dan memengaruhi istri Rasulullah lainnya. Selain Siti Khadijah, Rasulullah memang hanya memperoleh anak dari Maria Alqibtiyah.
Meski  alasan Ali menikahi putri Abu Jahal untuk menyelamatkannya dari kekejaman Abu Jahal yang marah karena putrinya memeluk Islam, tapi Rasulullah tetap melarang Ali berpoligami. Rasulullah tidak ingin hati Fatimah terluka karena Ali menikah lagi.
Tak bisa dipungkiri kalau dalam praktik poligami, tidak semua perempuan mampu menolaknya. Banyak hal yang membuat mereka tidak berdaya ketika dipoligami suami, di antaranya mempertimbangkan masa depan anak, masalah biaya hidup, bahkan ada pula yang takut melanggar syariat agama. Namun, tidak jarang yang berani melakukan perlawanan dengan memilih bercerai daripada dimadu.
Fakta Pahit Poligami
Berdasarkan data rekapitulasi perceraian yang diproses Pengadilan Agama yang ada di Indonesia dan catatan Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan sepanjang tahun 2015 lalu terdapat 252.857 cerai gugat dan 98.808 cerai talak. Ironisnya, 7.476 dari kasus perceraian tersebut disebabkan praktik poligami yang tidak berjalan baik, terutama poligami yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Banyak praktik poligami yang menyebabkan para istri tidak mendapatkan hak yang adil, baik nafkah lahir maupun batin. Padahal Alquran secara tegas menyebutkan bahwa boleh menikah maksimal dengan empat perempuan asalkan bisa bersikap adil. Hal ini secara tersirat menjelaskan bahwa  berlaku syarat dan ketentuan yang cukup berat sebelum seseorang memutuskan berpoligami. Siapakah yang bisa memastikan bahwa dia mampu bersikap adil, termasuk untuk urusan cinta dan rasa…

Jika dengan berpoligami ada hati yang terluka, apakah itu sesuai dengan sunnah Nabi? Padahal, menyakiti bukanlah ajaran Islam, yang selalu mengajarkan cinta dan kasih sayang serta keadilan. Memiliki seorang istri tidak hanya memuliakan perempuan tapi juga membuat lebih fokus dalam beribadah karena waktu tidak lagi terbagi untuk istri-istri yang lain. 

illustrasi : google image 

Rabu, 02 Mei 2018

Belajar Bertualang Ala Deddy Huang

Saat ini, traveling tidak lagi hanya sekadar hobi tapi juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Deddy Huang, travel blogger asal Palembang ini telah membuktikannya. 

foto : IG deddyhuang


Mendapat kesempatan belajar dari orang yang sudah menemukan passion dirinya merupakan kesempatan yang sayang dilewatkan. Terus terang, saya masih asing dengan namanya, sampai kemudian saya menemukan sisi yang sangat menginspirasi dari blogger asal Palembang ini. Dalam workshop singkat yang diselenggarakan oleh Komunitas Dear Blogger Net  bersama C2live dan Tumpeng Mini ini , Deddy mampu  memacu semangat para peserta agar jangan ragu untuk menjadi seorang Travel Blogger. 

"Awalnya, saya merasa banyak hal yang menjadi kendala untuk menjalankan aktivitas ini. Selain, karena posisi saya yang tinggal di daerah akses saya dengan dunia blogger juga masih terbatas ," kata Deddy. 

Tapi semangat pemilik akun instagram Koh Huang yang diikuti 10,3 ribu pengikut ini dapat mematahkan anggapan bahwa sukses hanya dapat diraih oleh blogger yang tinggal di kota besar. 

Dalam pemaparannya, Deddy bercerita bahwa apa yang didapatnya saat ini semua bermula dari hobi dan apa yang menjadi tujuan utamanya untuk  melakukan traveling. Apalagi, selama dia menjadi orang kantoran, kesempatan melakukan perjalanan sangatlah terbatas. Butuh waktu lama untuk mendapatkan waktu libur maupun cuti tahunan. Selain itu, blogger yang sudah berkali-kali memenangkan lomba menulis blog ini, ingin mengubah cara pandang orang terhadap sebuah perjalanan. 

" Bagi saya, traveling itu adalah sebuah sekolah kehidupan yang tidak akan saya dapatkan di sekolah manapun. Walaupun risikonya, apa yang saya lakukan ini sering menjadi pertanyaan oleh orang-orang di kampung saya, termasuk ibu saya sendiri. Orang mungkin banyak yang heran melihat saya yang tidak pernah berangkat kerja tapi bisa jalan-jalan terus." 



Inspirasi Dari Mana Saja

Menjadi seorang Travel Blogger tidak melulu harus melakukan perjalanan ke berbagai negara yang dikenal karena keindahannya. Sebuah perjalanan yang mainstream. Tapi bagi Deddy, perjalanannya ke pasar untuk membelikan pesanan ibunya, juga bisa menjadi materi untuk blognya. Karena pasar adalah tempat dimana banyak kisah bermula. Dan Deddy sangat menikmati momen-momen berada di pasar. Bagi Deddy, setiap perjalanan itu memiliki takdirnya sendiri dan akan selalu ada cara untuk melakukannya, terutama bila kita ingin sekali melakukannya. 

Dalam pemaparannya, Deddy juga menceritakan banyak hal yang dia dapat dari perjalanan yang dia tulis termasuk bagaimana tulisan tersebut bisa membantunya yang susah mengingat tempat. " Tapi karena saya pernah menuliskan tempat tersebut, akhirnya saya jadi bisa menemukan tempat yang ingin saya tuju itu." Terbukti, jejak tulisan bagi sebagian orang bisa lebih tepat dibandingkan map maupun GPS. 

Terlalu banyak hal yang saya dapatkan dari apa yang dipaparkan Deddy, termasuk keinginan kuat untuk bisa bertualang dengan cara saya sendiri, sebagaimana Deddy melakukannya dengan caranya yang sangat unik, ada lucunya tapi sangat menginspirasi. Semua pelajaran di hari itu semakin menemukan klimaksnya dengan sajian tumpeng mini yang luar biasa nikmat. Terimakasih Koh Huang, bertualang denganmu itu  sangat menyenangkan!