Pages

Kamis, 26 April 2018

Wakaf, Beautiful Loan to Allah

Alhamdulillah, saat ini animo masyarakat untuk mewakafkan harta demi kemaslahatan umat semakin tinggi. Hal itu tidak terlepas dari peran penggiat wakaf, termasuk para perempuan yang aktif menjadi wakif maupun nazir. Sejarah juga mencatat banyak muslimah yang intens menyemai semangat berwakaf.

www.sedekahproduktif.com

Selain zakat dan sedekah, wakaf juga merupakan kegiatan filantropi Islam yang banyak dipraktikkan oleh umat Islam di Indonesia. Selain menjadi tabungan di akhirat, wakaf juga menjadi bentuk amal yang manfaatnya tidak terbatas waktu. Banyak kisah tentang bangunan bersejarah maupun pusat pendidikan yang merupakan wakaf seseorang ratusan tahun lampau dan masih memberi manfaat hingga saat ini.

“Secara sederhana, wakaf itu adalah sumbangan yang diberikan seseorang dimana harta yang disumbangkan tersebut dipindahkan kepemilikannya dan dikelola oleh suatu badan atau bisa juga oleh perorangan sehingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Penyumbang kemudian disebut wakif dan pengelolanya disebut nazir. Misalnya, jika seseorang mewakafkan rumah penginapan, atau kebun, maka rumah dan kebun itu dikelola dan hasil panen kebun dan sewa rumah penginapan itu digunakan misalnya untuk membiayai operasional sekolah, masjid, dan lainnya sesuai dengan keinginan wakif,” jelas Dr. Amelia Fauzia, pengurus Badan Wakaf Indonesia divisi Penelitian dan Pengembangan.

Lebih lanjut, peneliti tamu di Asia Research Institute,  National University of Singapore ini menambahkan bahwa berdasarkan data Kementerian Agama tahun 2014,  di Indonesia terdapat 435.395 obyek tanah wakaf yang dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, mulai dari  tempat ibadah seperti masjid dan musala, sekolah, kuburan, dan lainnya.

“Namun,  mayoritas wakaf ini belum banyak yang dikelola secara produktif. Baru satu setengah dekade terakhir, Badan Wakaf Indonesia serta Kementerian Agama melakukan gerakan wakaf produktif agar aset-aset wakaf itu bisa dikelola dan menghasilkan lebih banyak manfaat bagi masyarakat, baik itu manfaat untuk ibadah, sosial, dan juga ekonomi.”

Selama ini, tambah Amelia,  kebanyakan masyarakat berasumsi bahwa wakaf itu hanya bisa diberikan oleh orang mampu, karena bentuk pemberiannya berkisar antara tanah, bangunan, atau harta benda yang bernilai besar, seperti kebun. Padahal tidak harus demikian.

Dalam sejarah Islam sendiri ditemukan banyak ragam bentuk wakaf yang masih bertahan dan memberi manfaat sampai saat ini. Kegiatan philantropi umat Islam yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lampau ini tidak harus berupa harta yang besar seperti masjid,  pasar, sumur, madrasah, kebun, perpustakaan, hotel/penginapan, jembatan, kapal laut, tapi para wakif juga bisa mewakafkan binatang, buku, saham, dan lainnya.


Wakaf Produktif
Peraih PhD dari University of Melbourne tahun 2009 ini mengurai bahwa sejak masa Dinasti Usmaniyyah juga dikenal ada wakaf uang, yang bentuknya seperti praktik bank pada masa ini.

“Intinya, ada uang yang diwakafkan, dan uang ini dikelola, baik dibuat pinjaman maupun diinvestasikan dan keuntungan dari hasil pengelolaan ini disedekahkan. Praktik wakaf sangat beragam, dan sangat kreatif, sejalan dengan perkembangan ekonomi dan mazhab di suatu wilayah dan periode. Saat ini ada pula wakaf polis asuransi syariah, dan pola wakaf yang dilakukan berjamaah sehingga mereka yang tidak memiliki lahan atau hanya memiliki uang terbatas, bisa berpartisipasi melakukan wakaf.” 

Dosen UIN Syarif Hidayatullah dan Direktur Social Trust Fund ini menambahkan bahwa animo masyarakat dalam berwakaf cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah obyek wakaf di Indonesia yang diperkirakan jumlahnya kedua terbanyak di dunia setelah India,  dan jumlahnya terus bertambah. Wakaf uang juga semakin bergulir.
Untuk menambah manfaat dari harta yang diwakafkan, BWI dan Kementerian Agama serta lembaga-lembaga kedermawanan Islam lainnya juga menggulirkan konsep wakaf produktif berupa wakaf tempat usaha seperti rumah kontrakan, lapangan futsal, restoran, pom bensin, minimarket, dan lainnya sehingga bisa memberi lebih banyak manfaat kepada masyarakat.

                              iliustrasy  by   vida y naturaleza en amonia 


Tentang peran perempuan sebagai pegiat dan penggiat wakaf, Amelia menjelaskan bahwa sejarah mencatat tentang sosok perempuan sebagai wakif. Para Sultanah, istri dan ibu para sultan sering kali mewakafkan harta mereka.

“Pada masa Dinasti Mamluk, 30 persen dari nazir wakaf  itu adalah perempuan. Semangat berwakaf yang tinggi ini tidak saja dalam hal wakif serta nazir, tapi juga studi wakaf. Dalam sepuluh tahun belakangan ini, studi terkait wakaf semakin berkembang, tidak saja dalam bentuk skripsi, tesis dan disertasi, tapi juga riset-riset lepas dan konferensi serta forum pegiat wakaf. Pemerintah Indonesia juga mendorong serta memfasilitasi gerakan wakaf ini untuk mendorong ekonomi masyarakat,” Amelia menandaskan


3 komentar:

  1. wah yg saya tahu hanya wakaf tanah saja mba atau bangunan yang diberikan untuk kepentingan umat, ternyata lebih dari itu tentang wakaf itu sendiri.

    berarti harapannya wakaf bisa produktif sehingga meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat, terlebih lagi manfaat pahala jadi lebih besar dari si pemberi wakaf

    BalasHapus
  2. benar, mas, bahkan ilmu yang bermanfaat juga bisa menjadi wakaf.... itulah indahnya Islam. terimakasih banyak sudah mampir ke blog saya ya mas...

    BalasHapus
  3. benar, mas, bahkan ilmu yang bermanfaat juga bisa menjadi wakaf.... itulah indahnya Islam. terimakasih banyak sudah mampir ke blog saya ya mas...

    BalasHapus