Pages

Kamis, 05 April 2018

Niqab Bukan Anjuran Nabi

Menutup aurat bagi kaum muslim bukan hanya untuk menjaga kehormatan tapi juga memuliakan martabat. Hal ini  tidak hanya hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki dan khunsa.


Semakin banyaknya muslimah yang kini mengenakan hijab sebenarnya merupakan momen kebangkitan Islam. Namun sayangnya, hijab yang menghiasi penampilan mereka sebagian ada yang hanya sekadar menjadi gaya hidup sehingga mengabaikan esensi utamanya.

Hal ini tentu bisa menjadi fenomena yang kurang baik, dimana persoalan menutup aurat bukan lagi menjadi tujuan utama tapi dikalahkan pengaruh trend dalam berbusana.
“Pembahasan masalah aurat pada zaman Rasulullah sebenarnya  lebih kepada membahas tentang syarat sahnya salat bukan membahas tentang gaya busana,” jelas DR. Atiyatul Ulya, M. Ag, Dosen jurusan Ilmu Hadis di Fakultas Ushluddin, UIN Syarif  Hidayatullah, Jakarta saat saya temui di ruang kerjanya. 

Menurut Ati,  demikian dia biasa disapa,  begitu pentingnya pembahasan mengenai aurat terutama untuk perempuan sehingga banyak ayat Alquran dan hadis yang mengupasnya. Salah satu riwayat yang paling banyak dijadikan rujukan tentang aurat adalah kisah yang bersumber dari hadis Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra dimana Rasulullah pernah menegur Asma supaya mengenakan pakaian yang tidak memperlihatkan bagian dari tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

“Jadi, baik niqab mapun cadar itu bukan anjuran Rasulullah. Beliau bahkan melarang umatnya untuk memakai penutup wajah dan sarung tangan ketika menunaikan umrah dan haji. Bisa jadi, orang yang memakai niqab dan cadar itu melakukannya untuk menghindari fitnah.”


Semua Mazhab Berpandangan Sama
Atiyatul juga menjelaskan bahwa dalam pembahasan mengenai aurat, keempat mazhab mainstream, yaitu Hanafi, Hambali, Syafi’i dan Malik memiliki pandangan yang sama. Menurut keempat mazhab tersebut menutup aurat itu hukumnya wajib bagi perempuan baik saat salat maupun di luar salat. Hal ini juga menjadi jumhur ulama.

Riwayat lainnya dari Aisyah yang juga menjadi rujukan terbanyak adalah bahwa Allah tidak menerima salat perempuan yang sudah haid kecuali dia memakai khimar.
“Khimar yang dimaksud dalam hadis tersebut kemudian diartikan sebagai sesuatu yang menutup rambut. Tapi jika merujuk pada firman Allah Swt dalam An-Nur : 31, Allah juga memerintahkan perempuan untuk menutup aurat dan melarang berlebihan dalam memakai perhiasan kecuali apa yang biasa tampak. Sifat tabarruj ini bukan pada persoalan menutup aurat tapi tampil berlebihan untuk menarik perhatian. Bisa jadi, auratnya sudah ditutup tapi mengenakan perhiasan atau kosmetika yang berlebihan sehingga menarik perhatian orang lain.”

Menutup aurat dengan baik juga menjadi pembeda antara perempuan merdeka dengan budak. Karena di luar salat, para budak perempuan tidak menutup rambut, leher dan dada mereka. Keempat mazhab ini juga memiliki pandangan yang berbeda mengenai aurat budak perempuan, ada yang berpendapat bahwa aurat budak perempuan di luar salat sama dengan aurat laki-laki.
“Meski menutup aurat itu hukumnya wajib tapi yang paling penting itu adalah esensi dari menutup aurat dan bagaimana caranya. Menutup aurat bukan hanya dengan baju syar’i dan khimar panjang tapi juga harus diiringi dengan menghindari tabarruj. Karena tabarruj juga bisa berdampak pada fitnah.

foto : Stefano Romano 



4 komentar:

  1. Balasan
    1. Sama-sama mba... Terimakasih juga sudah berkenan mampir Ke blog saya ya mba...

      Hapus
  2. Terima kasih, Mbak. Menambah pengetahuanku seputar Islam.

    BalasHapus
  3. Sama-sama mba.. terimakasih juga sudah berkenan mampir ke blog saya

    BalasHapus