Pages

Sabtu, 10 Juni 2017

Warisan Suami Berpoligami

Meski Islam tidak melarang umatnya memiliki istri lebih dari satu, persoalan kerap timbul ketika sang suami meninggal dunia. Istri manakah yang berhak mendapatkan harta warisan lebih besar dari istri lainnya...
Tuan tanah terkaya di Kampung Rawa itu kini telah meninggal dunia. Sebut saja namanya Haji Syukron. Dia meninggalkan empat istri dan 18 orang anak yang 12 di antaranya anak laki-laki. Sebelum meninggal dunia, lelaki itu sempat dirawat selama berbulan-bulan di rumah sakit dan menjalani beberapa kali tindakan operasi atas komplikasi penyakit yang menderanya. Akibatnya, berhektar-hektar sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga ini terpaksa dijual untuk menutupi biaya operasi yang sangat mahal. Kini, harta yang tersisa hanyalah rumah induk atas nama istri pertama dan sebidang tanah yang luasnya tidak sampai satu hektar. 

Persoalan pun terus bergulir karena setiap istri menuntut pembagian yang adil atas warisan yang menjadi hak mereka. Karena tidak menemukan pemecahan yang tepat, keluarga besar itu akhirnya membawa perkara warisan tersebut ke pengadilan agama untuk mendapatkan fatwa waris. Apalagi, beberapa usaha almarhum ternyata juga menggunakan dana pinjaman dari bank dengan mengagunkan sebidang tanah lainnya. Keluarga ini semakin pusing tujuh keliling. 

Utamakan Utang
Islam sendiri menegaskan bahwa sebelum dilakukan pembagian waris kepada yang berhak menerimanya, sebaiknya diselesaikan dulu segala utang piutang almarhum semasa hidupnya. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama secara keseluruhan sependapat bahwa warisan dan wasiat baru dapat ditunaikan setelah utang-utang diselesaikan. Dari sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. juga menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda dalam beberapa khutbahnya, "Barangsiapa meninggalkan harta atau hak, maka yang demikian itu adalah bagi ahli warisnya. Dan barangsiapa meninggalkan tanggungannya atau utang, maka seluruhnya kembali padaku, dan utangnya menjadi tanggunganku."

Begitu pentingnya kewajiban membayar utang, sehingga Rasulullah saw mengorbankan dirinya untuk melunasi utang yang ditinggalkan umatnya sehingga tidak merusak amalan yang sudah dilakukan almarhum semasa hidupnya. 

Setelah semua kewajiban ditunaikan, barulah harta yang ada dibagi sesuai hukum faraid, hukum Islam yang berkenaan dengan pembagian warisan. Di dalam kitab Fiqhu Al- Sunnah disebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab memberikan warisan hanya kepada kaum laki-laki dan mengabaikan hak perempuan. Mereka hanya memberikan warisan kepada orang-orang yang sudah dewasa dan mengabaikan hak anak kecil. Allah kemudian menghapus semua ketidakadilan itu melalui firman-Nya yang berbunyi, " Allah mensyariatkan bagi kalian, yaitu : bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka dia memperoleh separuh harta..." (Q.S. An-Nisa/ 4 : 11)
Di dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa pembagian harta baru dapat dilakukan setelah semua utang dibayar dan apa-apa yang pernah diwasiatkan almarhum sebelum meninggal dunia ditunaikan. 

Bagaimana halnya dengan keempat istri Haji Syukron dalam kisah di atas? 
Setelah mereka menyelesaikan semua utang dan kewajiban almarhum, menurut hukum faraid, keempat istri itu mendapatkan bagian seperdelapan dari harta yang ditinggalkan Haji Syukron. Pasalnya, harta yang ada hanya rumah induk dan sebidang tanah. Kalay aset tersebut dijual dengan harta Rp 1 miliar, maka setiap istri akan mendapatkan bagian Rp 31.250.000 yang diperoleh dari pembagian seperdelapan dari Rp 1 miliar yang dibagi empat. 

Selain anak dan istri, ahli waris lain yang berhak atas harta tersebut adalah kaum kerabat almarhum yang masih hidup. Kaum kerabat itu terdiri dari ushul (garis lurus ke atas) seperti ayah atau kakek almarhum kalau keduanya masih hidup, faru' (garis lurus ke bawah) seperti anak laki-laki dari anak laki-lakinya dan seterusnya ke bawah, serta hawasy (garis ke samping) yaitu saudara laki-laki dari almarhum beserta anak-anak mereka dan seterusnya ke bawah. Demikian juga dengan saudara laki-laki seibu dan seterusnya ke bawah. Paman dan anak laki-laki dari paman dan terus ke bawah juga, termasuk golongan laki-laki yang berhak mendapatkan warisan. 

Namun, tidak semua dari mereka mendapatkan bagian warisan karena sebagian dari mereka menghalangi yang lainnya. Sebaliknya, jika dalam pembagian harta waris semua orang yang di atas itu ada, maka yang berhak atas warisan Haji Syukron itu hanya ke-4 istri, ke-18 anak dan ayah kandung Haji Syukron yang kebetulan masih hidup. Dari warisan senilai Rp 1 miliar itu, ayahnya berhak atas seperenamnya, yakni Rp 166.666.667. Setelah istri dan ayah almarhum mendapatkan bagiannya, barulah sisanya dibagikan kepada anak-anak dengan anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. 

Gono-gini Poligami
Selesaikah masalah dalam keluarga Haji Syukron itu? Ternyata, belum.
Masalahnya, istri pertama menuntut bagian lebih banyak mengingat dirinya memiliki andil cukup besar dalam membangun usaha suaminya. 
Usut punya usut, keduanya memulai biduk rumah tangga benar-benar dari nol. Bahkan, beberapa usaha yang dirintis almarhum dimodali dari warisan orangtua istrinya tersebut, termasuk rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertamanya itu. Setelah usahanya maju dan mampu membeli berhektar-hektar sawah dan aset berharga lainnya, almarhum meminta izin menikah lagi, lagi, dan lagi hingga beristri empat. 

Islam sendiri tidak mengenal adanya istilah gono-gini dalam pembagian harta warisan. Namun, bila merujuk pada Kompilasi Hukum Islam pasal 97 disebutkan bahwa harta gono-gini janda dan duda cerai adalah setengah dari harta bersama sepanjang tidak ada ketentuan lain dalam perjanjian pranikah. Hal ini juga berlaku untuk pasangan yang berpisah karena kematian. 

Untuk kasus ini, jika istri pertama dapat memberikan bukti seberapa besar harta miliknya, harta tersebut harus dipisahkan dari harta warisan yang merupakan hak semua ahli waris almarhum. Akhirnya, setelah dikurangi dengan harta terpisah milik istri pertama, yakni rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertama, harta yang tersisa tinggal Rp 500 juta. Dari nilai tersebut, keempat istri mendapatkan warisan masing-masing Rp 15.625.000. Sedangkan ayah almarhum mendapatkan seperenamnya yakni Rp 83.333.333. Sisa dari harta itu yang disebut ashabah menjadi milik ke-18 anak Haji Syukron yang dibagi sesuai hukum faraid, anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. Bagi anak yang belum baligh, bagian miliknya akan dititipkan kepada walinya, dalam hal ini ibu kandungnya. 

Jadi, meski mengizinkan seorang lelaki beristri lebih dari satu, Islam juga mewajibkan kaum lelaki menanggung konsekuensinya berpoligami. Bagi yang belum berpoligami, insya Allah info ini bisa menjadi peringatan awal sebelum Anda melangkah lebih jauh. 


Ilustrasi : Google

4 komentar:

  1. Dalam sejarahnya, Rasul tidak pernah berkeinginan poligami karena syahwat seks. Rasul mengawini para janda syuhada dgn tujuan untuk menghidupi dan merawat anak2 para syuhada tsb, dan diantaranya karena menghormati hubungan persahabatan dengan sahabat (contohnya Aisyah untuk menjaga hub dgn Abu Bakar RA) dan juga untuk menjaga keislaman wanita tsb apabila tidak dinikahi oleh Rasul, contohnya Saudah. Jadi amat sangat jauh niat kita (lelaki kekinian) dengan niat poligami di awalnya yg seperti Rasul. Rasul tdk bermasalah dgn gono gini karena bliau sdh dikaruniai sifat adil oleh Allah, lagipula niat awalnya bukan karena seks, tapi niat baik karena kondisi, untuk itu Allah menjaganya dari konflik sperti ini. Lha klo kita? Jauh lah..terima kasih tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak ya mas, sudah mampir ke blog saya. Alhamdulillah, masih banyak kok laki-laki muslim yang berprinsip seperti mas.. :)

      Hapus
  2. nah kebanyakan ributnya nanti kl suami sdh meninggal ya. Mungkin lagi hdp bisa rukun, dan ada lagi yg ribut malah cucu2nya. Ah, aku mah gak mau dipoligami,saat suamiku melamarku juga ditanya oleh bpkku tentang poligami dan suamiku meyakinkan bpkku kl dia tak berminat poligami. Ini krn bapakku melihat penderitaan ibunya yg hrs banting tulang sndr, saat bpknya malah kawin lagi dan tak menafkahi ibunya. Mknya bpkku hati2 dlm menerima lamaran laki2 untuk anak perempuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, mba... saya juga ogah dipoligami, ya Allah... jangan sampai deh.. Meski dibolehkan, tapi kan juga berlaku syarat dan ketentuan, seperti harus bersifat adil. Dari situ saja sebenarnya kita tahu, kalau Islam sebenarnya tidak mendukungnya, makanya diberi syarat yang berat

      Hapus