Pages

Sabtu, 10 Juni 2017

Untuk Afi Dan Kecemasan Saya

Di tengah hujatan dan pembelaan pada gadis belia bernama Afi, saya hanya ingin membagi kecemasan saya padanya. 
Saya pertama kali membaca tulisan Afi itu ketika ada seorang teman yang mengunggahnya di facebook. Gadis yang memiliki nama asli Asa Firda Inayah itu mampu membuat saya terkagum-kagum  dengan isi pikirannya yang bernas. Dia menuliskan pengalamannya selama 10 hari tidak menggunakan gawai. Waktu membaca tulisannya itu, hal pertama yang ada di pikiran saya adalah kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya yang selama sepuluh tahun terakhir ini aktif mengikuti perkembangan penulis cilik di Indonesia tidak memiliki rekam jejak karya bukunya. Bahkan namanya pun baru saya tahu lewat unggahan teman saya itu. Afi Nihaya Faradisa.

Berbeda dengan kebanyakan penulis muda lainnya, gadis berusia 19 tahun ini memiliki gaya bahasa yang melompat sangat jauh dari usianya. Tidak hanya menggunakan bahasa yang baku dan penggunaan kata "saya" , bukan "aku" maupun "gue", Afi menuliskan hal-hal yang termasuk berat dan berani. 

Dengan kemampuannya menulis yang katanya sudah dia lakukan sejak masih SD dan kegemarannya membaca buku karya penulis-penulis besar dunia, saya masih ingin bertanya kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya tidak menemukan dia di berbagai lomba menulis pelajar maupun kongres anak yang disaring lewat tulisan essay. Melihat keaktifan Afi yang katanya sudah menjadi pembicara di berbagai diskusi di kotanya, seharusnya nama Afi sudah menasional sejak dulu sebagai penulis cilik. Apalagi jika mendengar kalau Afi juga memiliki mentor yang menjadi pembimbingnya menulis. Mengapa sang mentor tersebut tidak mengarahkan kemampuan menulis Afi untuk menjadi sebuah buku atau mendorongnya ikut berkompetisi.

 Tapi itu kan hanya pemikiran saya saja. 
Hal yang membuat saya terpana, Afi ternyata juga  menjadi admin termuda  untuk sebuah grup pembongkar hoax terbesar di Indonesia. Untuk tugas tersebut Afi  harus menerima risiko sering diancam dan membuatnya jadi berkali-kali berganti akun media sosial dan sekaligus memiliki lebih dari satu akun media sosial. Menurut saya, hal ini cukup riskan untuk seorang siswa SMA di sebuah kota kecil. 

Plagiat itu Jahat, Nak... 
Ah, Afi, saya jadi ingat ketika memperlihatkan tulisanmu pada anak saya yang seorang penulis. Anak saya tercenung dan mengatakan kalau tulisan kamu bagus sekali. Anak saya juga merasa takjub  karena masih ada anak sepantaran dia yang tidak memiliki twitter dan instagram tapi malah lebih aktif menulis di facebook. Dia mengagumi gaya menulismu yang mengalir lancar dengan pemilihan diksi serta perbendaharaan kata yang sangat kaya. 

Sayangnya Afi, berita kalau tulisan-tulisan keren kamu itu merupakan plagiat membuat hati saya hancur. Awalnya, saya ,masih tidak percaya, karena history pada akun facebook bisa jadi telah mengalami pengeditan sedemikian rupa sehingga terdapat kerancuan  siapa sebenarnya orang yang pertama kali mengunggah tulisan yang dianggap plagiat tersebut. 
Alih-alih mengklarifikasi atau minta maaf soal isu plagiat tersebut, kamu malah mengunggah tulisan bahwa semua orang pernah melakukan plagiat, termasuk ketika menulis status facebook, menulis caption foto hingga menuliskan tugas sekolah. 
Afi sayang, tentu saja kita tidak bisa menafikan bahwa tidak ada karya yang original. Seorang jurnalis seperti saya juga harus menulis berdasarkan wawancara dan liputan yang bukan dari pemikiran saya sendiri. Banyak artikel yang saya tulis juga mengutip dan menukil pendapat orang lain. Yang membedakan semua itu adalah etika dan adab saat menyajikannya. Kita harus menyebutkan sumber dari apa yang kita kutip, nak. Itulah yang membedakan karya kita dengan karya seorang plagiat. 

Saya terpukul saat membaca tulisan Syifa Annisa di kompasiana yang menyatakan bahwa dia sudah menemukan versi utuh dari puisi yang kamu unggah di akun facebookmu sebagai karya kamu. Ternyata puisi yang berjudul "Pernahkah Kau" itu merupakan karya Tiffanny Blenvis, penulis asal Virginia, Amerika Serikat yang dimuat dalam buku Chicken Soup yang diterbitkan Gramedia tahun 2003. Afi, ini jelas plagiat, nak. Itu sama artinya kamu mencuri punya orang lain dan itu jahat. 

Saya jadi ingat kalau beberapa tahun lalu, saya pernah menemukan sebuah cerpen yang masuk nominasi pemenang lomba menulis cerpen SD tingkat nasional ternyata sama persis dengan sebuah cerpen yang pernah dimuat di Majalah Bobo, sama persis hingga titik dan komanya. Tahun sebelumnya, sebuah buku anak yang mencetak best seller juga merupakan hasil plagiat dari salah satu novel karya Enid Blyton. Kedua penulis anak tersebut terutama si penulis buku best seller itu telah menerima keuntungan materi dari perbuatan lancung mereka. 


Teruslah Menulis, Afi
Terlepas dari semua itu, jangan pernah berhenti menulis, Afi. Jadikanlah semua pengalaman berharga ini sebagai tantangan bahwa kamu sebenarnya adalah penulis yang baik, buka seorang tukang copas. 
Menulislah apa yang menjadi kegelisahanmu bukan menjadikan kegelisahan dan buah karya orang lain sebagai milikmu. 
Karena bagaimana pun di negeri ini tetap berlaku ajaran moral bahwa sekali lancung ke  ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Kamu tentu membutuhkan banyak ikhtiar  untuk mengembalikan kepercayaan orang padamu. 



foto ilustrasi : google


2 komentar:

  1. Saya juga kecewa bunda. Sangat menakutkan jika kecerdasan seseorang tidak dibarengi dengan kecerdasan hati dan emosinya. Semoga kelak dia semakin lebih baik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ironisnya, dia menikmati popularitas semu tersebut. Semoga hal ini menjadi pelajaran berharga buat Afi, Amin...

      Hapus