Pages

Minggu, 11 Juni 2017

Ketika Istri Mendominasi Suami

Islam sangat memuliakan perempuan dan memberi banyak keistimewaan bagi mereka, termasuk melarang perempuan mendominasi peran di dalam kehidupan rumah tangganya. 
Suasana di sebuah ruang konsultasi suami istri itu tampak hening. Selain sepasang suami istri yang saling memasang wajah dingin, tampak seorang konsultan yang berusaha memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga kliennya yang sedang berada di ambang kehancuran. Sang suami yang selama bertahun-tahun  hidup di bawah tekanan istri yang menurutnya sangat dominan, mengaku sudah tidak mampu lagi bertahan. Dia bahkan rela kehilangan semua harta dan jabatan yang dia miliki asalkan bisa mendapatkan kembali harga dirinya sebagai kepala keluarga. 

"Istri yang dominan tidak hanya berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak juga dapat membuat kehidupan rumah tangga itu menjadi tidak seimbang. Kecuali kalau istri itu bersikap dominan terhadap pengambilalihan pola asuh dan pola didik anak, itu mungkin bisa dikatakan sebagai sikap dominan yang positif. Karena bagaimana pun, anak akan lebih merasa dekat dengan ibunya terutama dalam hal pendidikan moral," kata Anna Farida, seorang konsultan yang fokus terhadap masalah parenting. 

Anna juga menuturkan kisah tentang Asma binti Abu Bakar ra yang meski dijuluki sebagai "pahlawan perempuan berikat pinggang dua". Asma tetaplah seorang istri yang sangat taat dan setia kepada suaminya. Padahal suaminya itu merupakan laki-laki pilihan orang tuanya yang tidak memiliki reputasi secemerlang Asma. "Namun Asma tetap melakukan ikhlas semua kewajibannya  sebagai istri dan ibu. Bagaimana pun hebatnya seorang perempuan, posisinya di dalam rumah tangga tetaplah secondary. Kepala keluarga tetap dipegang oleh suami." 

Mendebat & Mengadukan Suami
Imam Malik meriwayatkan bahwa istri Umar bin Khattab ra yang bernama Atikah selalu mengajak Umar berdebat tentang keinginannya pergi ke masjid. Umar sendiri tidak suka bila ada perempuan yang ke masjid, tapi Atikah tetap berkeras karena dia tahu bahwa Rasulullah saw tidak pernah melarang perempuan pergi ke masjid. Karena argumen istrinya tepat, mau tidak mau Umar diam dan mengalah. 

"Riwayat di atas memperlihatkan bahwa pada hakikatnya istri bisa saja tidak sependapat dengan suaminya, tapi tetap harus dengan argumen yang kuat dan tanpa bermaksud melawan suami. Karena bagaimana pun, di dalam kehidupan rumah tangga istri adalah makmum dan suami menjadi imamnya," jelas M. Quraish Shihab. 

Ketika HIndun, istri Abu Sofyan, merasa tidak tahan dengan kekikiran suaminya, dia mengadu kepada Rasulullah saw dengan bahasa yang sama sekali tidak menyudutkan sang suami. Dia mengatakan kepada Rasulullah ," Ya Rasulullah, suami saya sangat perhitungan. Dia tidak memenuhi kewajibannya dalam nafkah padahal dia mampu. Apakah saya boleh mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya? " 
Mendengar pertanyaan Hindun tersebut, Rasulullah menjawab, " Ambillah apa yang mencukupi bagimu dan anakmu secara wajar." (H.R. Bukhari dan Muslim). 

Sedikit pun HIndun tidak menyinggung keburukan suaminya yang lain. Dia hanya mengatakan hal yang seperlunya  karena merasa sudah tidak kuasa lagi menahannya. 

Di dalam Islam, istri yang merasa dirinya lebih tinggi daripada suami disebut melakukan nusyuz. Suami yang mendapat ujian istri yang seperti ini, di dalam Alquran surat An-Nisa (4 : 34) dituntun untuk menasihati istrinya. Kalau nasihat itu masih tidak mempan, boleh mendiamkannya selama tiga hari berturut-turut dan kalau masih juga tidak berhasil boleh memukulnya. Tapi oleh Rasulullah diingatkan agar tidak memukul wajah atau menyakitinya. 

Setinggi apa pun pendidikan dan kedudukan seorang perempuan, dia tetaplah istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya derajat perempuan dalam Islam sangat dimuliakan. Karena di tangan perempuanlah, kualitas generasi mendatang ditentukan. 



3 komentar:

  1. untungnya suamiku bisa langsung mendominasi, klo aku kayaknya udah kelewatan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba.... jangan sampai deh kita spt itu ya mba... :)

      Hapus
    2. iya mba.... jangan sampai deh kita spt itu ya mba... :)

      Hapus