Pages

Kamis, 17 November 2016

Istighfar

Allah itu Maha Pengampun atas segala khilaf dan dosa yang diperbuat hamba-Nya. Tentunya, berlaku syarat dan ketentuan.
Istighfar sering diterjemahkan sebagai mohon ampun dan maghfirah sebagai ampunan. Sehingga seringkali kita mendengar istilah bulan maghfirah saat tibanya bukan Ramadan. Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauzi, ahli fikih yang hidup di Damaskus pada abad ke-13, maghfirah bermakna menjaga dari keburukan akibat dosa yang telah dilakukan.
        Istighfar juga bukan hanya sekadar ucapan belaka, tapi juga harus diikuti oleh hati yang benar-benar menyesali atas dosa tersebut. Sehingga tidak boleh hanya lisan yang beristighar dan mohon ampunan pada Allah Swt sementara hati ingin terus melakukan maksiat.
       Ibnu Abbas r.a meriwayatkan,” Orang yang beristighfar kepada Allah Swt suatu dosa sementara ia masih menjalankan dosa itu maka ia seperti orang yang sedang mengejek Tuhannya.”
        Hadist lain juga menjelaskan  bahwa Ali bin Abi Thalib  berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. (dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar itu adalah benar adanya) meriwayatkan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:
        "Tidak ada seseorang yang berbuat dosa, kemudian ia bangun dan bersuci serta memperbaiki bersucinya, kemudian ia beristighfar kepada Allah Swt, kecuali Allah Swt pasti mengampuninya.”
        Ketika anak-anak Nabi Ya'qub As berkata kepada ayah mereka: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Nabi Ya'qub As berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yusuf: 97-98).

Beda Istighfar dan Taubat
Bila Istighfar memiliki makna mohon ampunan, maka taubat berarti kembali. Orang yang bertaubat ibarat seorang anak yang melawan orangtuanya lalu kabur dari rumah dan kemudian pulang kembali ke rumah karena menyesali perbuatannya.
        Seperti suka citanya orangtua yang menyambut kepulangan anaknya, demikian pula  kegembiraan Allah Swt menyambut hamba-Nya yang bertaubat.
        Taubat merupakan tindak lanjut dari istighfar sebagaimana di dalam Alquran kata istighfar selalu disebutkan lebih dahulu dari kata taubat. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dikatakan bahwa penyesalan adalah bagian dari taubat. Jadi, istighfar adalah perkataan permohonan ampun kepada Allah Swt yang merupakan awal dari pertaubatan. Sedangkan taubat keseluruhan rangkaian proses dalam mendapatkan ampunan Allah Swt.
        Kebanyakan dari kita menganggap istighfar dan taubat baru dilakukan kalau melakukan kesalahan. Padahal, istighfar dan taubat merupakan kewajiban seorang muslim yang harus rutin dilakukan , terlepas merasa melakukan kesalahan atau tidak. Allah Swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” (Q.S. At Tahrim :8)

Syarat dan Ketentuan Istighfar 

1.   Niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah Swt.
2.   Hati dan lidah secara serempak melakukan istighfar.
3.   Dalam keadaan suci lahir dan batin.
4.   Memilih waktu yang utama, salah satunya saat menjelang subuh.
Para mufassir berkata: beliau menunda istighfar itu hingga waktu menjelang subuh, karena pada saat itu, doa lebih dekat untuk dikabulkan, jauh dari riya, lebih bersih bagi hati dan ia adalah waktu tajalli Ilahi pada sepertiga terakhir dari waktu malam.
5.   Senantiasa beristighfar dalam salat, pada saat bersujud dan  sebelum  atau setelah mengucap salam.
6.    Berdoalah  bagi diri sendiri dan bagi kaum mukminin, sehingga masuk dalam kelompok mereka. Para nabi juga  tidak hanya beristighfar untuk  diri mereka tapi juga  untuk  kedua orangtua serta  kaum mukminin dan mukminat seperti  doa Nabi Nuh As berikut ini : 
 "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan" (QS. Nuuh: 28).
Dan doa  Nabi Ibrahim As:
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang -orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" ( QS. Ibrahim: 41).
7.   Menyesali dan tidak mengulangi kesalahan dan dosa tersebut.


Semoga Allah Swt menerima taubat kita, Amiin...

1 komentar:

  1. Aamiin ya robbal 'alamin, terima kasih atas ilmu tentang istighfar dan taubatnya mbak, jazakillahu khairan...
    Hafidz

    BalasHapus