Pages

Rabu, 25 Mei 2016

Romansa Bulan Puasa

Berkata Aisyah ra. , " Rasulullah saw. ingin menciumku. Lalu aku katakan kepada beliau, " Aku puasa." Jawab beliau, "Aku juga puasa." Lalu beliau menciumku." (HR. Abu Daud). 


Tidak terasa, tinggal hitungan hari lagi kita akan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Saya jadi teringat pada obrolan saya dengan Ustaz Widjayanto tentang bolehkah kita bermesraan dengan pasangan saat menjalankan ibadah puasa. Hanya dari pertanyaan yang singkat itu, Ustaz Widjayanyo akhirnya menceritakan tentang kisah Rasulullah saw. bersama istri-istri beliau. Tentang Rasulullah saw. yang tetap memanjakan istri-istri beliau, meski beliau sedang menunaikan ibadah puasa. 
Pada zaman Rasulullah saw. dikisahkan tentang seorang suami yang sangat mencintai istrinya hingga dia tidak dapat menahan hasrat untuk mencium belahan jiwanya itu. Padahal dia tengah melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. 
Tersadar dari kekhilafannya, lelaki itu kemudian mengutus istrinya untuk menanyakan hal tersebut kepada Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah saw. 
Mendengar pertanyaan itu, Ummu Salamah menjawab bahwa sesungguhnya Rasulullah saw mencium istri-istrinya ketika beliau sedang berpuasa. 
Dari riwayat tersebut, dapat dipahami bahwa mencium pasangan tidak membatalkan puasa kecuali jika ciuman tersebut mengundang gairah hingga melakukan perbuatan intim yang akhirnya dapat membatalkan puasa. Namun, jika dapat menahan keinginan untuk berintim-intim, silakan bermesraan dan mencium pasangan sebagai bentuk cinta dan kasih sayang.
Cumbu Rayulah Pasanganmu
Bukhari ra. meriwayatkan bahwa suatu ketika Hakim bin 'Aqqal bertanya kepada Aisyah ra. " Apakah yang haram bagiku terhadap istriku ketika berpuasa?" Jawab Aisyah ra., "Farrajnya!". Jadi, tidak ada larangan bagi yang berpuasa untuk mencium, memeluk bahkan membelai pasangannya, sejauh perbuatan itu tidak menyebabkannya inzal (keluar mani). Kalau sampai inzal, maka batallah puasanya. 
Rasulullah saw. mengibaratkan berciuman itu seperti  berkumur-kumur ketika puasa. Selama air tidak masuk ke dalam kerongkongan, maka puasanya tidak batal. 
Perihal ciuman juga pernah ditanyakan Umar bin Khattab ra. kepada Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw malah bertanya balik kepada Umar, " Bagaimana seandainya engkau berkumur-kumur dengan air sedangkan engkau sedang berpuasa?" Lalu Umar menjawab, " Yang demikian itu tidak mengapa." Rasulullah saw. bersabda," Kalau begitu, mengapa engkau bertanya lagi (tentang hukum berciuman)?"
Selama menjalankan ibadah puasa, Rasulullah saw. tetap memanjakan istri-istrinya. Seorang istri bahkan dilarang melakukan ibadah puasa sunat jika suaminya berada di rumah dan membutuhkan belai kasihnya. Namun, banyak perempuan yang menghindari sentuhan suami karena ingin menjaga keutuhan ibadah puasanya. 
Dari Ummu Salamah ra. dikisahkan bahwa Rasulullah saw. pernah bangun subuh dalam keadaan junub karena jimak (bersetubuh). Beliau tidak membatalkan puasa dan mengqada puasanya . Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim. Sebagian besar ahli memang menyatakan bahwa puasa orang yang dalam kedaan junub itu sah, baik disebabkan mimpi maupun jimak. Begitu pula dengan jumhur sahabat dan  tabiin.
Hal senada juga disampaikan oleh Ustaz Widjayanto. 
"Bulan puasa itu bukan berarti hubungan suami istri menjadi terbatas. Silakan saja cipika cipiki sama pasangan. Rasulullah juga melakukan itu kok terhadap istri-istrinya." 
Lebih lanjut Ustaz Widjayanto menjelaskan bahwa Allah Swt membolehkan romantisme di bulan Ramadan lewat surat Al-Baqarah : 187 yang berbunyi, " Dihalalkan bagi kamu pada malam hari  pada bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka dalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Sedangkan untuk mandi janabah itu dilakukan berkenaan dengan salat bukan dengan puasa. Namun karena menunaikan salat itu sebaiknya di awal waktu, maka mandi janabah dilakukan sebelum berakhirnya waktu untuk melaksanakan salat subuh. 
Begitu pula bila tertidur setelah berjimak, tidak membatalkan puasa. Rasulullah saw. sendiri pernah ketiduran dalam keadaan janabah dan beliau tetap melanjutkan puasa tanpa mengqada puasa tersebut. 
"Ada tiga hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu makan, minum dan berjimak pada siang Ramadan," Widjayanto menambahkan. 

Jadikanlah momentum Ramadan ini untuk meningkatkan kualitas keimanan tanpa mengurangi kemesraan dengan pasangan. Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin, semoga Ramadan ini lebih baik dari Ramadan sebelumnya, Amiin. 




foto ilustrasi : google images

Tidak ada komentar:

Posting Komentar