Pages

Rabu, 25 Mei 2016

Jiwa Di Tubuh Yang Salah

Jika keberadaan mereka tidak dikehendaki, apakah Allah juga menampik amal ibadah mereka? 
Waria, banci, wadam, transgender, apa pun sebutan yang diberikan pada mereka, mereka tetaplah hamba ciptaan Allah Swt. dan memiliki kewajiban yang sama dengan hamba Allah lainnya. Karena, tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dengan kelainan orientasi seperti itu. 
Dalam sejarah perkembangan Islam, kaum waria yang disebut khuntsa tetap menjalankan kewajiban mereka terhadap sang Khalik. Namun, Imam al Kasani menjelaskan bahwa yang disebut khuntsa adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-laki dan perempuan sekaligus atau berkelamin ganda sehingga dia harus memilih kecenderungannya sebagai laki-laki atau perempuan. 
Untuk mengetahui apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, bisa dilihat dari perubahan fisik yang mereka alami ketika memasuki masa akil baligh. Sedangkan jika masih anak-anak, berdasarkan hadis Rasulullah dapat dilihat dari tempat dia mengeluarkan air seninya. Apabila air seninya keluar dari alat kelamin laki-laki, maka dia adalah laki-laki, demikian pula sebaliknya. 
Namun, bila air seni tersebut keluar dari kedua-duanya, menurut Abu Hanifah, yang menjadi penanda adalah tempat dimana air seni tersebut keluar terlebih dulu. 
Untuk para khuntsa ini, para ulama membolehkan mereka melakukan operasi kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau dari perempuan menjadi laki-laki untuk menegaskan jati diri mereka yang sebenarnya. Tapi jika operasi tersebut dilakukan untuk keinginan mengubah jati diri dan kesenangan hati semata, tentu Islam melarangnya. 
Keberadaan waria itu sendiri sudah ada sejak zaman Rasulullah seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani di dalam kitabnya Nailul Authar juz VI halaman 124 hingga 125. Para waria itu dikenal dengan nama Hita, Matik dan Hinaba. Ketika Rasulullah sedang berada di rumah salah seorang istri beliau yang bernama Ummu Salamah, Hita datang berkunjung dan Rasulullah melihat istrinya tidak mengenakan hijab dengan alasan Hita adalah seorang waria. Rasulullah pun bersabda," Janganlah orang ini memasuki (tempat-tempat) kalian." (HR. Bukhari).
Larangan itu bukan karena Rasulullah menolak keberadaan mereka, melainkan karena kebiasaan buruk Hita yang suka menceritakan aurat perempuan kepada kaum lelaki dan aurat laki-laki kepada perempuan. Di zaman Rasulullah, para khuntsa ini justru bisa diterima baik di kalangan perempuan maupun laki-laki. 

Ganti Kelamin, Ganti Jati Diri

Di Indonesia, pilihan waria untuk melakukan operasi ganti kelamin sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Bahkan di kalangan ulama juga belum ada satu kesepakatan tentang legalitas pelaksanaan operasi ganti kelamin tersebut. Ketika Dedi Yuliardi Ashadi melakukan operasi ganti kelamin, kecaman tidak pelak datang bertubi-tubi termasuk kepada seorang ulama terpandang yang ketika itu mengizinkan Dedi berganti jati diri. Dedi yang kemudian dikenal dengan nama Dorce Gamalama juga menambahkan Khalimatussa'diah di belakang namanya setelah berhasil mendapatkan identitas baru sebagai perempuan yang sah secara hukum, termasuk KTP dengan jenis kelamin perempuan. 
Selain Dorce, juga ada nama Solihatunnisa yang oleh PN Purwokerto disahkan sebagai Solehan setelah bocah yang ketika itu berusia 6 tahun melakukan operasi ganti kelamin. Sebelumnya, anak ketiga dari pasangan Sunarto dan Siti Santiasih itu terlahir sebagai bayi perempuan. Namun ketika berusia 10 hari, tiba-tiba alat kelaminnya berubah menjadi kelamin laki-laki. Dari pemeriksaan dokter yang menangani kasusnya, diperoleh hasil bahwa Nisa adalah bayi laki-laki karena tidak memiliki rahim. 
Jika di Indonesia, operasi ganti kelamin masih menjadi silang pendapat, di Republik Islam Iran yang dinilai sangat ketat memegang prinsip Islami, sejak dulu  justru telah melegalkan tindakan operasi ganti kelamin ini. 
Dr. Mir-Jalali, seorang ahli bedah lulusan Paris yang merupakan dokter spesialis operasi ganti kelamin di Iran mengaku bahwa dalam kurun 12 tahun terakhir dia telah mengoperasi lebih dari 450 orang. Kebanyakan pasiennya adalah laki-laki yang ingin berganti kelamin menjadi perempuan. Namun untuk pasien yang ingin melakukan operasi ganti kelamin karena mengalami krisis identitas dan pengaruh gaya hidup akan ditolak sejak awal diagnosis. Iran bahkan memberi bantuan biaya operasi ganti kelamin untuk pasien yang tidak mampu dan terjebak di tubuh yang tidak diinginkannya.                
Sedangkan di Papua, pada kurun 1992 hingga 1997, perjuangan kaum waria untuk mencantumkan jenis kelamin waria di KTP sempat terwujud. 
Menurut Ustaz Damiri, walaupun keberadaan waria tidak ada dibahas di dalam alquran. tapi sesungguhnya Allah Swt tetap akan memberikan ganjaran bagi setiap hamba-Nya yang melakukan amal ibadah, siapa pun dia, termasuk waria. 
Ustaz Damiri mengutip ayat 195 dari surat Ali Imran yang berbunyi, " Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.."

Sesungguhnya, tidak ada ibadah yang disia-siakan Allah termasuk salat khusuknya seorang waria, baik mereka yang salat berpeci, maupun yang bermukena. Bisakah kita pastikan bahwa ibadah kita lebih baik dari mereka ? Wallahualam bissawab... 


foto ilustrasi : Google images

Tidak ada komentar:

Posting Komentar