Pages

Senin, 21 Maret 2016

Never Too Old For Laila

Seharusnya dia kini tengah menikmati usia senjanya, namun keadaan menuntutnya masih  menjadi tulang punggung bagi anak, cucu, dan cicitnya.

"...Kini kita undang ke atas panggung, seorang bintang yang namanya sudah tidak asing lagi, kebanggaan kota Karawang... Miss Laila Sari..!!"
Tepuk dan sorak pun gegap gempita mengiringi langkahnya menaiki panggung. Seorang artis muda nan cantik dan populer. Beberapa lagu mengalun merdu dari bibir belianya tenggelam di tengah teriakan penonton yang tiada henti memanggil namanya. 
Kota Karawang di tahun 1950-an memang belumlah seperti sekarang. Di kota kecil ini pula Laila menghabiskan masa kecil dan remajanya. Setelah ayah kandungnya meninggal dunia, sang kakek memboyong mereka ke Jakarta. Waktu itu, usia Laila masih 2 tahun sedangkan adiknya belum genap setahun. 
Ketika Laila berusia 5 tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki berdarah Mandailing, Sumatera Utara. 
"Ayah tiriku inilah yang mengenalkanku dengan dunia seni. Dengan alat musik yang dimilikinya, ayah mengajariku bernyanyi hingga akhirnya aku dikenal sebagai penyanyi panggung yang laris manis," kenang Laila sambil menyesap teh hangat di kafe tempat kami bertemu. 
Ayah tirinya tidak hanya mengubahnya menjadi artis panggung kenamaan tapi juga mengganti namanya dari Nurlaila Sari Zahrotujannah menjadi Nurlaila Sari Lubis, sesuai marga ayah tirinya. Kelak dia dia lebih populer dengan nama Laila Sari. 
Dari dunia panggung, Laila mulai merambah ke dunia film lewat film Air Mata Ibu (1957) yang mempertemukannya dengan Fifi Young, bintang top di zaman itu. 
Pada tahun yang sama pula dia bermain dalam film Sepasang Burung Merpati. Dia merasa sangat beruntung karena bisa bermain di film yang sama dengan aktor tertampan masa itu, Bambang Hermanto. 
Perlahan tapi pasti, nama Laila Sari semakin dikenal seiring dengan semakin banyaknya tawaran bermain film. 
"Bukan popularitas yang membuatku senang, tapi karena aku bisa membantu perekonomian keluargaku yang memang kurang beruntung."
Ketika anak gadis lain terkungkung di rumah mereka sambil mendengarkan radio transistor, Laila sudah melanglang buana dengan busana terkini dan perhiasan mahal. 

Nikah Gantung Berakhir miris
Sebelum terjun ke dunia seni, keluarga besar telah menikahkan Laila dengan Benny Susanto, seorang mahasiswa dari keluarga terpandang. Mereka menikah gantung, yang maksudnya, menikah tapi belum tidur seranjang dan tinggal serumah. 
Pilihan menikah gantung dilakukan karena Benny belum selesai kuliah dan usia Laila yang masih sangat muda. Barulah ketika usia Laila genap 17 tahun, pernikahan tersebut disahkan. 
Sayangnya pilihan menikah gantung itu hanya alasan Benny semata. Ternyata selama pernikahan gantung itu, Benny telah menikahi perempuan lain. "Aku baru mengetahui hal itu bertahun-tahun kemudian."
Waktu itu, Benny ditugaskan ke sebuah kota kecil namun dia tidak mengajak Laila yang sudah sah menjadi istrinya. Alasan Benny, dia tidak ingin menyusahkan Laila karena kota tempat dia bertugas sangat terpencil. Karena perasaan rindu yang tidak tertahan lagi, Laila datang ke kota tempat Benny bertugas. Dia memang sengaja tidak memberi kabar karena ingin membuat kejutan untuk Benny. 
"Sayangnya, justru aku yang terkejut karena di sana Benny tidak tinggal sendiri seperti yang dia katakan. Perasaanku hancur tapi aku mencoba tegar. Aku bahkan bermalam di rumah dinas Benny bersama maduku. Setelah peristiwa itu, kami pun berpisah baik-baik dan Alhamdulillah, sampai sekarang silaturahim kami masih berjalan dengan baik."

Menikah Lagi
Panggung hiburan masih menawarkan pesona. Penonton masih mengel-elukan namanya. Bertahun-tahun dia memilih hidup menjanda karena masih belum bisa melupakan sakitnya pengkhianatan yang dilakukan suaminya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan pemain drama bernama Iskandar. Mereka bertemu saat bermain dalam sebuah lakon drama tentang perang kemerdekaan di sebuah acara penggalangan dana. Tak butuh waktu lama untuk memutuskannya menerima lamaran Iskandar. Hanya setahun setelah pertemuan yang terjadi pada tahun 1960 itu, Laila menikah dengan Iskandar. 
Laila benar-benar merasakan kehidupan berumah tangga yang sebenarnya bersama Iskandar. Namun vonis dokter yang menyatakan bahwa kecil kemungkinan Laila bisa memiliki anak setelah dua kali mengalami keguguran, membuat hati Laila sangat masygul. 
"Kondisi ini ternyata tidak mengubah rasa cinta Iskandar padaku. Kami kemudian memutuskan mengadopsi anak dari salah seorang adik Iskandar. Aku masih tidak bisa melupakan bagaimana bahagianya hatiku ketika menjemput bayi itu dari rumah sakit. Aku merasa seolah-olah akulah yang telah melahirkannya. Seolah-olah tangisnya yang begitu keras itu ditujukan padaku. Bayi itu kemudian kami beri nama Maya Sari. Dialah tumpuan segala kebahagiaan kami."

Tak Ada Lagi Air Mataku
Kehadiran Maya, tak berarti bisa mengurangi rasa bersalahnya pada Iskandar. Laila masih merasa belum lengkap sebagai istri karena tak mampu memberi keturunan kepada suaminya. Dia bahkan berkali-kali menawari Iskandar untuk menikah lagi tapi Iskandar menampik keras tawarannya itu. Ketika Iskandar mengalami stroke yang cukup berat, Laila kembali menawarkan hal itu padanya. 
"Aku bilang padanya, kalau kamu nanti sembuh, menikahlah. Pilihlah perempuan mana yang kamu mau, aku nanti yang akan melamarkannya untukmu. Aku bersumpah demi Allah, aku ikhlas dan rido."
Namun Iskandar marah dan menganggapnya tak waras. Hingga mau menjemputnya di tahun 2000, Iskandar tetap bergeming, tak mau menduakan cintanya pada Laila. 
Sepeninggal Iskandar, Laila menjadi tiang di rumahnya. Dia bahkan tidak pernah menyadari kalau usianya kini sudah sangat senja untuk mencari nafkah. Hari-harinya hanya berisi kerja, kerja dan kerja. Di pundaknya yang ringkih, ada 8 mulut yang setiap hari harus dia beri makan. Kesedihan melengkapi hidupnya ketika cucu kesayangannya meninggal dunia. Pergaulan bebas membuat cucunya yang baru berusia 18 tahun menikah di usia muda. Kini, anak dari cucunya itu menjadi tanggungjawabnya.
"Anak angkatku itu tidak pernah hidup mandiri. Dia terus menyandarkan hidupnya di tubuhku yang seharusnya bertopang padanya. Aku seringkali ingin menangis, tapi persediaan air mataku sudah tidak ada lagi. Pekerjaan menjadi pelarian terbaik untukku, karena selain bisa menghibur orang lain sekaligus juga menghibur diriku sendiri. Pekerjaan juga menjauhkanku dari rumah dengan segala persoalan hidup yang membelitku. Aku seperti menghadapi kiamat di rumahku sendiri."
Laila menatap langit yang senja di kafe tempat kami bertemu dan berbagi kisah. 
"Aku hanya bisa berpasrah pada Allah karena semua Allah yang mengatur. Aku yakin, Allah pasti memberikan jalan yang terbaik untukku. Doa itu pula yang kupanjatkan dalam setiap sujudku. Semoga Allah tetap memberiku kesehatan sehingga aku bisa tetap menjadi tiang yang kokoh untuk keluargaku. Amiin..."