Pages

Kamis, 17 Desember 2015

Timbang Rasa Ibu Bekerja

Rasa bersalah merupakan  beban terbesar yang ditanggung Ibu bekerja dan saya pernah mengalami rasa itu.  

Jingga menekuk wajahnya. Air mata mulai menggenang di pipinya yang bulat. Ini sudah kali kesekian saya terpaksa  membatalkan janji yang sudah kami  sepakati sejak jauh-jauh hari. Kembali Jingga  harus menelan kekecewaan yang dalam karena saya mendadak harus bertugas ke luar kota. Janji menghabiskan akhir pekan dengan menonton sebuah pertunjukan operet anak yang sangat Jingga idamkan akhirnya batal. Padahal, pertunjukan itu belum tentu ada lagi dalam beberapa tahun dan akhir pekan itu merupakan pertunjukan mereka yang terakhir di Indonesia.
Jangan ditanya bagaimana perasaan saya   saat harus menyampaikan kabar buruk itu pada Jingga. Saya sampai tidak bisa tidur membayangkan betapa kecewanya putri saya ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Saya juga memiliki kewajiban yang tidak boleh saya tinggalkan dengan alasan menemani anak menonton.
Menjadi seorang Ibu yang bekerja di luar rumah memang merupakan dilema. Di satu sisi, ingin mengembangkan potensi diri dan karier, namun kondisi sebagai Ibu sering tidak memungkinkan hal tersebut bisa dilakukan bersamaan. 

Don’t  Feel Guilty

Menurut Rose Mini Adi Prijanto,M.Psi, hal terpenting dalam keluarga itu adalah bagaimana menjaga komunikasi satu sama lain. Komunikasi antara suami dan istri serta orangtua dan anak. 
"Tidak ada masalah bagi seorang Ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya karena tuntutan pekerjaan asalkan dia tetap keep in touch dengan sang anak. Jadi, meskipun dia tidak ada di dekat anak tapi anak tetap merasa dekat dengan ibunya. Jadi, semua  tergantung pada kualitas kedekatan orangtua dengan anak bukan semata-mata dari tinggi rendahnya frekuensi pertemuan,” ujar psikolog anak yang akrab disapa Bunda Romi ini.

Lebih lanjut,  Bunda Romi juga menjelaskan bahwa salah satu dampak positif dari anak yang sering ditinggal ibunya  bekerja, biasanya menjadi  lebih mandiri.
“ Sebenarnya tidak ada perbedaan antara ibu yang seharian mengurus anaknya dengan ibu yang meninggalkan anaknya untuk bekerja. Tergantung bagaimana cara mereka dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang pada anak. Sediakanlah waktu terbaik yang Anda miliki untuk anak. Meskipun hanya sebentar tapi berkualitas.”
Untuk ibu bekerja, Romi menyarankan agar tidak langsung bertemu dengan anak sesampainya di rumah setelah bekerja. “Karena stress dan lelah justru bisa memicu perasaan jadi mudah marah. Sebaiknya beri waktu untuk tubuh beristirahat baru kemudian berinteraksi dengan anak.”

So, para Ibu yang bekerja, jangan pernah merasa bersalah karena harus meninggalkan anak untuk bekerja. Sebaliknya, berikanlah mereka waktu terbaik yang kita miliki bukan sisa waktu. 


foto : Stefano Romano

Tidak ada komentar:

Posting Komentar