Pages

Jumat, 25 Desember 2015

Menjelajah Jericho, Kota Tertua Di Dunia

Kota yang terletak di tepi barat Sungai Yordan ini tidak hanya dikenal sebagai kota tertua di dunia, tapi juga karena menjadi satu-satunya kota di kawasan otoritas Palestina yang memiliki kasino.
Pintu masuk Jericho (foto: Ade Nur Sa'adah)
Selama perjalanan menuju perbatasan King Hussein Bridge dan Alen Bay, berbagai perasaan berkecamuk di hati saya. Ada getaran hebat yang tidak kuasa saya tahan, mengingat saya akan sampai ke tempat yang sangat saya rindukan selama ini, Masjidil Aqsa. Tempat yang menjadi salah satu impian terbesar dalam hidup saya. 
Sejak awal, Neno Warisman, selalu ketua rombongan kami mengingatkan agar mengucapkan "no stamp" kepada petugas imigrasi di Alen Bay. Hal ini sangat penting diingatkan karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Kami juga hanya membawa barang bawaan seperlunya saja dan menitipkan barang bawaan lainnya di sebuah toko souvenir kecil yang ada di perbatasan Yordania. 
Selembar kertas sebagai pengganti stamp di passport (foto : Ade Nur Sa'adah)
Ternyata apa yang digambarkan tentang imigrasi Israel itu benar adanya, setidaknya bagi saya. Ketika melihat di passport saya tertera tulisan journalist, petugas imigrasi itu menatap saya dan memanggil temannya. Mereka berbisik sebentar lalu kemudian temannya itu membawa saya ke sebuah ruangan. Selama lebih dari 4 jam saya ditahan dan dihujani berbagai pertanyaan yang intinya menanyakan apa tujuan saya memasuki Israel. Entah kenapa, bukan ketakutan yang menguasai pikiran saya saat itu, melainkan wajah suami dan kedua anak saya. Apalagi melihat tentara Israel bergantian mengawasi saya dengan senjata tersandang di bahu mereka. Laki dan perempuan sama sangarnya. 

Tembok Berduri

Menjelang petang, akhirnya saya dan rombongan berhasil melewati Alen Bay, meninggalkan tatapan Raja Hussein yang sedang berjabat tangan dengan Ariel Sharon yang terpampang di dinding border. Pak Musa, pemandu kami, berkali-kali menanyakan keadaan saya. Dia tampak sangat khawatir. 
Meninggalkan Alen Bay, bus yang kami tumpangi melewati jalan panjang yang dikelilingi tembok dengan pagar berduri dan dialiri listrik. Tembok itu menjadi batas antara wilayah otoritas negara Palestina dan Israel. Gara-gara tembok itu, kata Pak Musa, ada seorang ibu yang terpaksa terpisah selama bertahun-tahun dengan anaknya. Padahal rumah mereka hanya berada di balik tembok itu. 
Jericho adalah kota pertama yang kami masuki setelah melewati jalan panjang itu. Kota yang tercatat dalam sejarah sebagai kota tertua yang ada di muka bumi ini. 

Tell Es Sultan (foto : Ade Nur Sa'adah)
Secara geografis, Jericho adalah kota yang unik karena berada 244 meter di bawah permukaan laut. Hal itu membuat Jericho juga menjadi kota yang terletak paling rendah di dunia. Berdasarkan penggalian yang dilakukan arkeolog bernama Miss Kathleen Kenyon pada tahun 1956, usia Jericho diperkirakan lebih dari 10000 tahun. 
Daya tarik Jericho lainnya adalah sebuah situs kuno bernama Tell Es Sultan yang termasuk menjadi salah satu tujuan para wisatawan yang datang ke Jericho. Selain itu, di Jericho juga terdapat Oasis Casino yang berada di jalur akses menuju Laut Mati dan kota Jerusalem. 
Di Jericho pula terdapat banyak restoran, kafe dan toko souvenir yang menjual berbagai cenderamata untuk tiga agama, mulai dari keramik bertulis ayat suci Alquran hingga rosario dan patung Bunda Maria. Saya menyempatkan membeli sabun zaitun yang termasuk cenderamata paling direkomendasikan. 
Saran untuk yang makan di restoran di Jericho, bawalah selalu botol minuman sendiri karena air mineral di sini sangat mahal, jauh lebih mahal dari soft drink maupun teh dan kopi. 
Di Jericho terdapat situs yang dipercaya sebagai tempat Nabi Musa dan istrinya dimakamkan. Sebuah tempat yang berada di tengah gurun pasir dengan pemandangannya yang sangat memesona. 
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)
Dari Jericho pula, kami selanjutnya memasuki kota Jerusalem dimana Masjidil Aqsa dan Dome of the Rock berada. Kota suci bagi tiga pemeluk agama besar di dunia. Saya berharap, suatu hari nanti bisa kembali ke sini lagi. Amin. 
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)
Sisi kota Jericho (foto : Ade Nur Sa'adah)
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)

Bersama Pak Musa, pemandu selama di Jerusalem yang sangat baik dan bertanggungjawab



10 komentar:

  1. Subhanallah, Mbak. Baca tulisan mbak, ada kekaguman dan sedikit ngeri membayangkan kondisi perbatasannya. Fotonya kurang banyak, mbak. Di perbatasan gag boleh foto ya :3 ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, di perbatasan ngga boleh motret. Lagipula sdh bisa bebas dr tahanan selama 4 jam itu saja sdh lega banget. Pdhal ingin sekali memotret foto Raja Hussein yg sdg bersalaman dgn Ariel Sharon sambil mengisap rokok marlboro.. :)

      Hapus
  2. Keren banget Mbak Ade *jempol*
    saya gak bisa membayangkan jika ada di posisi Mbak, ditahan dan diinterogasi oleh orang-orang Israel yang terkenal sadis dan tak berperikemanuasiaan itu sepertinya saya akan ketakutan setengah mati :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak ya mba,sudah berkenan mampir. Iya, mba. Waktu itu saya merasa takut sekali, apalagi saat melihat tatapan kecemasan dr teman2 saya yang sdh berhasil melewati imigrasi. Bunda Neno Warisman selaku tour leader kami berusaha meminta izin kpd petugas untuk mengantarkan satu cup teh hangat beberapa keping cookies ke ruangan tempat saya ditahan. Itulah makanan yg paling nikmat yg rasanya pernah saya makan.selama di dalam ruangan itu, saya terus merapalkan hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir. Empat jam kemudian, tiba2 saja mereka menyuruh saya keluar dan bergabung dgn teman2 saya. Mereka bergantian memeluki saya, saya sgt terharu...

      Hapus
  3. Jadi ingin ke sana, mba :). Pengalaman yang berkesan ya, mba Ade ... Terima kasih sharingnya, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba... terima kasih juga sdh berkenan mampir ke blog saya

      Hapus
    2. Sama2 mba... terima kasih juga sdh berkenan mampir ke blog saya

      Hapus
  4. Subhanallah.. Kota penuh sejarah kenabian.

    BalasHapus
  5. Benar, mba... kota tempat berkumpulnya para peziarah tiga agama besar di dunia

    BalasHapus
  6. Benar, mba... kota tempat berkumpulnya para peziarah tiga agama besar di dunia

    BalasHapus