Pages

Jumat, 04 Desember 2015

Bunda, Aku Alergi Sekolah... (Ketika Anak Saya Jadi Korban Bullying)

Menghadapi anak yang enggan ke sekolah karena menjadi korban bullying tentu berbeda dengan menghadapi anak yang enggan ke sekolah karena masalah pelajaran. Dan, saya mengalami keduanya. 
Jingga masih duduk di kelas 2 SD ketika dia mengajukan permintaan yang benar-benar membuat saya kaget. Sambil memilin-milin rambut ikalnya, dia menggelayut manja di bahu saya dan  berujar," Bunda, aku nggak usah sekolah lagi ya? Soalnya, tiap dengar kata sekolah, aku langsung meriang. Mungkin aku alergi sekolah."
Sebenarnya, saya ingin sekali tertawa mendengar kata-katanya itu. Jingga memang anak yang suka bertingkah jenaka dan iseng. Tapi, sepertinya kali ini dia tidak sedang bermaksud bercanda. Karena setelah mengucapkan kata-kata itu, Jingga langsung menangis memeluk saya. 
"Kenapa Jingga tidak mau ke sekolah? Memangnya guru kamu di sekolah galak sama kamu ya nak?"
"Galaknya sih nggak, tapi aku nggak suka cara mengajarnya. Aku juga nggak suka pelajaran Bahasa Sunda. Susah banget. Kemarin aku dapat nilai 2, " curhat Jingga. 
Karena penasaran dengan cara gurunya mengajar, saya kemudian mengambil cuti untuk menunggui Jingga di sekolah. Ternyata apa yang diceritakan Jingga itu benar. Cara gurunya menerangkan pelajaran sama sekali tidak menarik dan sering meninggalkan kelas. Hari pertama saya diamkan. Hari kedua juga saya masih diam dan memperhatikan dari jauh, bagaimana si guru itu begitu seringnya keluar masuk kelas. Tapi di hari ketiga, kesabaran saya sudah habis. 
Ketika saya melihat guru itu keluar kelas dan duduk dengan santai di ruang guru, saya lalu menghampirinya. Kebetulan, kepala sekolah juga ada di ruangan itu. Tanpa mau membuang kesempatan, saya langsung mengungkapkan rasa kecewa saya dengan cara guru itu mengajar. Mendengar pengaduan saya, akhirnya kepala sekolah menegur guru itu dan si guru berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Guru itu juga meminta maaf kepada saya. 
Setiap hari saya selalu menanyakan pada Jingga bagaimana dengan sekolahnya, terutama, apakah alerginya pada sekolah sudah berkurang? Alhamdulillah, sejak gurunya memperbaiki cara mengajarnya, Jingga kembali semangat pergi ke sekolah dan badannya tidak lagi meriang kalau ada pelajaran Bahasa Sunda. 
Teman Yang Suka Menindas
Setelah sekian lama "alergi" sekolahnya sembuh, kini Jingga kembali enggan ke sekolah. Ada saja alasannya kalau mau berangkat ke sekolah. Mulai dari alasan yang wajar sampai alasan yang paling absurd. 
Hal ini membuat saya jadi curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan Jingga. Saya tahu kalau guru wali kelasnya di kelas 5 ini galak, tapi saya yakin kalau bukan itu alasannya. 
"Kenapa kamu nggak mau ke sekolah? Apa ada yang mengganggu kamu di sekolah?"
Jingga diam. Tapi kemudian dia mengatakan dengan jelas kepada saya bahwa dia telah menjadi korban bullying. 
"Tapi ini bukan seperti bullying yang biasa, Bunda. Memang awalnya dia memukulku, tapi aku bisa menangkisnya. Aku sama sekali tidak takut kalau dia memang mau memukulku. Tapi dia menyakitiku dengan kata-kata yang tidak sopan dan jahat. Katanya dia mau membunuhku. Dia juga bilang sesuatu yang kotor sekali ."
"Memangnya dia bilang apa?"
"Aku nggak mau nyebutinnya. Aku tulis aja ya?"
Jingga lalu menuliskan sebuah kalimat yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang anak perempuan. 
"Kenapa kamu tidak laporkan ini ke ibu guru?"
"Aku takut ibu guru tidak percaya, apalagi ibu guru juga pernah bilang kalau tidak boleh jadi anak pengadu, nanti nggak punya teman."
"Tapi kalau yang seperti ini, kamu harus adukan ke ibu guru. Nanti teman kamu itu jadi semakin sewenang-wenang."
Teman yang disebut Jingga itu adalah seorang anak perempuan. Anak itu suka sekali berkelahi, bahkan dia sering menantang anak laki-laki berkelahi. Jadi, banyak anak yang takut padanya. 
Beberapa hari yang lalu, mereka pindah ruangan kelas karena sekolah sedang direnovasi. Karena saling berebut tempat, anak itu kebagian tempat di barisan belakang. Dia lalu menyuruh Jingga bertukar tempat dengannya, tapi Jingga menolak. 
Karena tidak terima dengan penolakan Jingga itu, dia lalu memukul dan menarik jilbab Jingga. Tapi Jingga tetap bertahan. Dia lalu memukul Jingga lagi, dan Jingga tetap bertahan. Ketika dia memukul lagi, Jingga sudah tidak kuat menahan sakit dan membalas pukulannya. 
"Apa teman-teman kamu tidak ada yang menolongmu, nak?"
"Mereka malah menyuruhku mengalah. Tapi aku tidak mau. Karena dia tidak punya hak menyuruh aku pindah."
"Tidak ada yang melapor ke ibu guru?
"Semua takut, nanti malah jadi ikut dimarahi, karena ibu guru paling marah kalau ada yang berkelahi. Aku juga bisa kena hukum."
Mendengar cerita Jingga, saya lalu memutuskan untuk menemui guru walikelas Jingga dan menceritakan hal ini. Saya tidak mau kalau memori anak saya dirusak dengan kata-kata yang tidak senonoh. 
Mendengar penuturan saya, guru walikelas Jingga sangat terkejut dan mengucapkan terimakasih karena sudah menyampaikan hal tersebut. 
"Baik, bu, saya akan bicara baik-baik dengan N. Kalau yang seperti ini, guru memang harus tahu. Yang saya bilang jangan suka mengadu itu, untuk hal-hal yang sepele, misalnya ketika belajar, mengadu, bu, si anu ngobrol. Bu, si anu jalan-jalan. Nah, yang seperti itu." 
Setelah pembicaraan saya dengan walikelas Jingga , Jingga cerita kalau temannya itu sudah mulai tidak memaki dan bicara kotor lagi. Dia juga tidak berani macam-macam lagi dengan anak yang lebih lemah darinya, karena Jingga siap menghadapinya. 
So, jangan pernah membiarkan siapa pun bisa menyakiti anak-anak kita, baik secara fisik maupun verbal. Bagaimana pun sekolah tidak boleh menjadi tempat yang menakutkan buat anak-anak kita. 

Foto ilustrasi : Google images



7 komentar:

  1. aaa.. i feel you mba :(

    anak perempuanku juga pernah beberapa kali ngalamin dan sempat aku tulis di blog juga. Aku pun mengambil langkah yang kurang lebih sama. Semoga Jingga makin tough dengan segala pengalaman yang dia dapat ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar, mba... bullying bukan hanya dengan pukulan maupun tindak kekerasan fisik lainnya, tapi juga secara verbal. saya masih tidak habis mengerti, bagaimana mungkin anak perempuan usia 1o tahunan bisa dengan gamblang mengucapkan kata2 yang tidak senonoh seperti yang dilakukan teman sekelasnya Jingga itu. Terimakasih banyak ya mba sudah berkenan mampir ke blog saya

      Hapus
    2. benar, mba... bullying bukan hanya dengan pukulan maupun tindak kekerasan fisik lainnya, tapi juga secara verbal. saya masih tidak habis mengerti, bagaimana mungkin anak perempuan usia 1o tahunan bisa dengan gamblang mengucapkan kata2 yang tidak senonoh seperti yang dilakukan teman sekelasnya Jingga itu. Terimakasih banyak ya mba sudah berkenan mampir ke blog saya

      Hapus
  2. Ngeri sekali Bu bacanya. Yang paling gemes lagi adalah kalo anak yang suka bully temennya padahal mereka sahabat karib. Tiap hari dibully, tapi tiap hari juga main bareng. Yang dibully menderita, tapi nggak bisa pisah dari teman yang membully itu. Heuuu T___T

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya... sementara si anak yang menjadi korban tidak merasa dirinya telah menjadi korban penindasan dari temannya dan tetap mau berteman dan bermain dengan temannya itu. Masih banyak yang menganggap,termasuk guru, kalau bullying itu identik dengan kekerasan fisik dan mengabaikan bullying verbal, lewat kata2 yang kasar dan tida senonoh

      Hapus
  3. mba Mimi... terimakasih banyak yang sudah mampir ke blog saya

    BalasHapus
  4. mba Mimi... terimakasih banyak yang sudah mampir ke blog saya

    BalasHapus