Pages

Rabu, 23 Desember 2015

Bid'ahnya Maulid Rasulullah Saw

Rasulullah Muhammad Saw memang tidak pernah merayakan hari kelahirannya, demikian pula para sahabat. Lantas, mengapa kita melakukannya? 
Tradisi merayakan ulang tahun sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Nuh As. Salah seorang putra Nabi Nuh As pernah membuat perayaan di hari kelahirannya. Kebiasaan ini kemudian dilakukan oleh masyarakat Eropa di abad-abad kegelapan. Masyarakat pada zaman itu percaya, bahwa pada waktu yang sama dengan kelahiran seseorang, roh-roh jahat akan berduyun-duyun mendatanginya. Untuk melindungi dari gangguan pada makhluk jahat itu, maka keluarga pun mengundang para kerabat untuk menemani sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Selain itu, kerabat yang diundang itu juga memberikan hadiah yang dipercaya dapat menciptakan suasana gembira sehingga membuat roh-roh jahat itu tidak jadi mengganggu orang yang berulang tahun.
Peringatan Maulid Nabi itu sendiri sebenarnya berawal dari upaya Sultan Shalahuddin untuk menyadarkan kaum muslim tentang pentingnya perjuangan lewat tdzkirah kepada Nabi. Lewat tadzkiran tersebut, semangat jihad kaum muslim dalam perang salib semakin membara untuk merebut Palestina. 
Bid'ah Hasanah
Merayakan Maulid Nabi itu sendiri memang bid'ah, namun karena hal ini mengandung nilai-nilai kebaikan maka sebagian besar ulama mengatakan kalau perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah hasanah. 
"Bid'ah itu tidak selamanya buruk, tapi banyak juga bid'ah yang baik, seperti kemajuan teknologi saat ini. Mikrofon juga bid'ah, tapi bid'ah yang hasanah, karena kalau saya ceramah tidak pakai mikrofon, suara saya tidak kedengaran," jelas Mamah Dedeh dalam ceramahnya tentang hukum merayakan Maulid Nabi. 
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa Rasulullah Saw datang ke Madinah dan beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, lalu beliau bertanya kepada mereka dan mereka menjawab, "Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua." Dari hadis ini sebenarnya bisa disimpulkan bahwa Rasulullah membolehkan umatnya bersyukur untuk mengenang hari tertentu yang bernilai sejarah. Syukur bisa diwujudkan dalam bentuk ibadah, seperti berpuasa, sedekah, membaca Alquran dan sebagainya. Hari apa lagi yang lebih bersejarah daripada kelahiran seorang kekasih yang saat menjelang kematiannya sekalipun tetap mengingat kita. "Ummati... ummati... ummati..."
Rasa cinta yang besar kepada Rasulullah Saw membuat hari kelahirannya selalu menjadi momentum untuk mengenangnya. Tapi sebaiknya, marilah merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Alquran, memberi fakir miskin dan menceritakan keutamaan Rasulullah Saw sehingga bisa menjadi motivasi umat Islam untuk selalu berbuat sesuai sunnah Rasulullah Saw. 
Mari manfaatkan momen Maulid untuk menanamkan rasa cinta Rasul kepada generasi muslim sehingga dapat meneladani pribadi dan akhlak mulia beliau. Peringatan Maulid Nabi adalah hal yang ma'ruf agar kita sebagai umatnya semakin lebih mengenalnya dan mendapat syafaatnya di hari kemudian nanti. Amiin.Selamat Milad, Kekasihku....


foto : Stefano Romano

Tidak ada komentar:

Posting Komentar