Pages

Kamis, 24 Desember 2015

Andi Arsyl Rahman Putra & Sepatu Butut Ayah

Di usianya yang masih belia, pemuda asal Makassar ini telah melewati pasang surut kehidupan, hingga sebuah iklan di radio mengubah nasibnya.

Pada suatu senja yang cerah, di sebuah kafe nan cozy, saya janjian bertemu dengannya. Sosok yang yang kini lebih dikenal sebagai Robi dalam sinetron stripping Tukang Bubur Naik Haji. Seperti tokoh yang dimainkannya, Arsyl juga sangat santun dan rendah hati. Selain disibukkan dengan syuting sinetron, Arsyl menulis buku motivasi yang menjadi best seller dan membuka usaha biro perjalanan haji/umrah. Tapi di balik kesuksesan yang kini diraihnya, Arsyl awalnya adalah anak yang kuper dan pemalu. 
“Mungkin, saya bukan satu-satunya anak laki-laki yang kurang populer di sekolah. Hari-hari saya lebih banyak dihabiskan dengan belajar dan sekolah sehingga teman-teman menjuluki saya “Bureng” alias Buruh Rangking. Saya lebih sering bergaul dengan guru daripada teman yang seusia dengan say, " kisah Arsyl.
Terlahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara. Ayahnya,  Prof.Dr.Ir.H. Andi Rahman Mappangaja M.S. dan Ibunya, Ir. Yusnidar Yusuf, sangat memperhatikan pendidikan semua anak-anaknya. Meski gaji sebagai seorang dosen tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dipenuhi dengan tujuh anak yang masih bersekolah, namun semua anak tetap bisa kuliah bahkan di dua universitas sekaligus.
" Ayah tidak pernah memperlihatkan wajah muram sedikitpun, demikian pula halnya dengan Ibu. Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana takutnya kami untuk berharap mendapatkan sepatu baru saat kenaikan kelas karena melihat bututnya sepatu yang dikenakan Ayah. Tapi sore harinya, Ayah dan Ibu pulang dengan membawa sekantung besar belanjaan yang isinya adalah sepatu, tas, alat tulis dan seragam baru untuk kami semua."
Betapa pilunya hati Arsyl, di saat mereka tertawa bahagia menerima hadiah kenaikan kelas dari Ayah dan Ibu, dia  melihat Ayahnya masuk ke rumah sambil menenteng sepatu bututnya. 
" Tapi wajah Ayah terlihat begitu bahagia. Kejadian itu sangat membekas di ingatan saya sampai saat ini". 
Tempat Sampah Teman
Masa remaja yang seharusnya menjadi masa yang indah justru merupakan awal lembaran kelabu bagi keluarga Arsyl. Usaha produksi emas yang dijalankan keluarganya bangkrut karena ditipu orang. Keluarga mereka benar-benar down, terutama Ayah dan Ibu, mengingat anak-anaknya sedang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah.
Beruntung, prestasi akademik Arsyl yang bagus membuatnya bisa kuliah di Unhas lewat jalur PMDK. Karena tak ingin menyusahkan Ayah dan Ibu, dia bekerja sebagai sales di Telkomsel. Waktu itu, usianya  baru menginjak 17 tahun.
" Saya tidak pernah merasa pekerjaan sebagai sales sebagai hal yang memalukan. Prinsip saya, daripada saya memikirkan sesuatu yang sudah hilang atau sesuatu yang tidak saya miliki, lebih baik saya belajar dengan apa yang saya miliki," Arsyl menambahkan sambil menyeruput satu cup kopi ukuran medium. 
Karena penjualan yang besar, dalam sebulan Arsyl bisa mendapatkan penghasilan hingga mencapai 11 juta rupiah. Jumlah yang sangat besar terutama untuk seorang pemuda berusia belasan tahun. Hal itu mendorongnya untuk kuliah di tiga tempat sekaligus, di Jurusan Fisika Unhas, Fakultas Teknik Informatika STMIK Dipanegara dan Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Muhammadiyah. Alhamdulillah, dia bisa menyelesaikan semua kuliahnya itu tepat waktu.
Kesibukan bekerja dan kuliah tidak membuat hubungan Arsyl dengan teman-teman menjadi berkurang. Apalagi di kalangan teman-teman, dia biasa menjadi tempat sampah mereka. Tempat mereka mencurahkan seluruh persoalan yang mereka hadapi, meski sebenarnya tempat sampah inipun memiliki problem hidup yang tak kalah peliknya dengan mereka.


Iklan Radio
Meski sudah memiliki penghasilan yang tinggi dan bisa sedikit-sedikit membantu keluarga, namun entah kenapa Arsyl merasa sangat hampa. Dia tidak mengerti apa yang membuat perasaan itu merajai dirinya. Hingga secara tak sengaja dia mendengar sebuah iklan di radio tentang audisi untuk mencari pemeran film Ketika Cinta Bertasbih.
Sebenarnya, saya sudah melupakan iklan tersebut hingga kemudian kakak saya menganjurkan saya untuk mencobanya. Sebelumnya,saya sendiri pernah bermain sebuah sinetron setelah saya meraih Best Intelegensi dalam sebuah ajang model."
Perawakan badannya yang tinggi dan kebetulan berkulit putih memudahkan langkahnya memasuki dunia hiburan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. Tahun 2004, Arsyl datang ke Jakarta dan mencoba peruntungan sebagai seorang entertainer. "Saya memulai segalanya dari nol. Setiap ada jadwal kasting, saya terpaksa menghemat makan agar uangnya bisa disisihkan untuk ongkos ke lokasi kasting."
Atas saran salah seorang kakaknya, akhirnya Arsyl mencoba mengikuti audisi film Ketika Cinta Bertasbih saat audisi tersebut dilakukan di Makassar. Alhamdulillah, perjalanan mengantarkannya   sampai ke Jakarta dan  berhasil mendapatkan peran sebagai Furqon.
"Ada kisah menarik dari terpilihnya saya sebagai Furqon, karena pada saat pemilihan peran sebagai Azzam, saya sempat sakit dan hampir memutuskan untuk menyudahi keikutsertaan saya di audisi tersebut. Tapi Ibu menguatkan semangat saya dengan pesan yang sampai sekarang selalu saya ingat, ”Saya sudah menitipkan kamu kepada Allah, Dia pasti akan selalu menjagamu,Nak...”," Arsyl tampak tidak bisa menyembunyikan air matanya.
Kini, Arsyl yang selama ini selalu menjadi tempat sampah bagi teman-teman memilih menyimpan semua yang ada di kepalanya  dengan menuliskannya. " Semoga buku yang saya tulis memberi manfaat bagi siapa saja yang telah membacanya.  Karena yakinlah, bahwa setiap manusia adalah keajaiban."
Malam jatuh dan kami berpisah seusai menunaikan Isya. 

  foto : koleksi pribadi dan instagram Arsyl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar