Pages

Minggu, 08 November 2015

Lantunan Alquran Di Kaki Eiffel

Di tengah romantisme Eiffel, dimana pasangan kekasih saling berpelukan dan berciuman mesra, laki-laki itu mengaji dengan khusyuknya. Dia adalah Abdullah yang kisahnya akan saya sampaikan di sini...
Suhu kota Paris malam itu, persis 3 tahun yang lalu, sangat dingin. Di tengah udara yang menggigit itu pula, saya terpisah dari rombongan. Saya menaiki lift menuju puncak menara Eiffel yang berbeda dengan teman-teman saya lainnya.
Udara yang sangat dingin itu membawa langkah saya memasuki  sebuah toko souvenir kecil milik seorang laki-laki berkulit hitam. Sayup saya dengar dia sedang melantunkan surat Yaasin dengan sangat fasih dan suaranya, masyaallah, merdu sekali. 
Dia berhenti mengaji ketika melihat saya memilih-milih tempelan kulkas dan dompet koin bergambar tempat-tempat wisata di Paris. 
"Assalamualaikum," sapanya sambil berdiri dan menangkupkan kedua tangannya dengan takzim. Saya sangat terharu atas sambutannya. 
"Waalaikumsalam, Brother," jawab saya. 
Dia menyapa dengan mengucapkan salam karena melihat saya mengenakan hijab. Tapi begitu tahu saya orang Indonesia, dia langsung berujar," silakan belanja, belanja, murah." Wah, dimana-mana, orang Indonesia ternyata dikenal karena suka belanja buat oleh-oleh. 
Call Me Abdullah
Abdullah, demikian dia menyebut namanya. Keluarganya sudah tiga generasi menetap di Paris. Mereka merupakan imigran dari Sudan. Abdullah belajar mengaji pada kakek dari pihak Ibunya sejak dia masih sangat kecil. Dia bahkan sudah bisa menghafal Alquran ketika usianya 16 tahun. 
"Islam itu agama yang sangat mencintai keindahan. Hal ini dapat dilihat dari bahasa Alquran yang sangat indah. Banyak teman saya yang kemudian menjadi mualaf setelah membaca kandungan Alquran. Itu sebabnya saya selalu membaca Alquran, karena dengan ini saya berdakwah," katanya. 
Setelah menghitung belanjaan saya, dan memberi saya hadiah sebuah dompet sebagai tanda sukanya bertemu sesama muslim, kami kembali berbincang. 
Udara yang semakin dingin menjadi hangat dengan secangkir kopi yang dia suguhkan. 
"Tunggulah temanmu di sini dan kita bisa mengobrol lagi."
Abdullah memiliki tiga anak perempuan yang semuanya mengenakan hijab. Tidak seperti yang diberitakan tentang sulitnya mengenakan atribut keagamaan di kota semodern Paris, ketiga anaknya tidak pernah mendapat masalah dengan hijabnya. 
Letak tokonya yang berada persis di kaki menara Eiffel membuat Abdullah sering bertemu wisatawan yang datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Dia merasa senang kalau kedatangan wisatawan perempuan berhijab karena dia tahu kalau dia kedatangan saudaranya sesama muslim. 
"Itulah gunanya berhijab. Hijab adalah identitas seorang muslimah. Sehingga dimana pun berada dapat dikenali bahwa dia seorang muslim."
Terimakasih ya Allah, telah Engkau pertemukan aku dengan Abdullah yang sangat mencintai Alquran. Terus terang, Abdullah membuat saya sangat terpukul karena saya hanya membaca  Alquran ketika malam Jumat dan bulan  Ramadan saja. Abdullah, saya malu padamu... 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar