Pages

Minggu, 15 November 2015

Antara Paris, Suriah dan Palestina

Ketika teror melanda kota Paris dan menewaskan ratusan orang, justru banyak yang mengecam bentuk empati terhadap tragedi itu dan membandingkannya dengan tragedi yang menimpa rakyat di Suriah dan Palestina. 
Jumat malam, 13 Nopember kemarin, serentetan tembakan dan ledakan bom menyenyapkan keriaan kota Paris. Lebih dari 150 orang tewas dan ratusan lainnya cedera. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Horor Friday the 13th itu seketika membuat Paris berduka. Masyarakat dunia pun ikut bersimpati dengan menggunakan #PrayForParis atau memasang bendera Prancis baik di foto profil akun media sosial masing-masing maupun di tempat-tempat tertentu seperti yang dilakukan oleh beberapa negara.



Bersamaan itu, sebagian netizen justru menyayangkan bentuk simpati tersebut dan membandingkannya dengan sikap dunia terhadap Suriah dan Palestina serta negara muslim lainnya. 
Berbagai meme yang menyindir orang-orang yang bersimpati pada tragedi Paris ini pun meramaikan dunia maya. 





Ini Bukan Soal Agama, Tapi Kemanusiaan
Ketika saya memasang foto profil akun facebook dengan berlatarbelakang bendera Prancis, seorang teman menegur saya. Menurutnya, saya tidak perlu bersimpati terhadap tragedi itu, karena Prancis pantas  mendapatkannya. Berapa banyak orang Prancis yang bergabung bersama ISIS untuk menyerang Suriah. 
Lalu dia mengingatkan mengapa saya tidak memasang bendera Suriah atau Palestina ketika tragedi yang sama meluluhlantakkan negara tersebut. 
Saya hanya menjawab bahwa hal itu juga saya lakukan untuk Suriah dan Palestina, lantas apa masalahnya ketika saya melakukan hal yang sama untuk Prancis? Saya marah dengan kemarahan yang sama ketika ISIS menyerang Suriah dan Israel menghancurkan Gaza. 
Untuk Prancis mungkin saya hanya bisa bersimpati lewat foto profil di akun facebook, tapi rakyat Suriah dan Palestina membutuhkan lebih dari sekadar hastag maupun meme. 
Kebetulan saya sudah pernah menginjakkan kaki ke tiga negara tersebut. ISIS tidak hanya menghancurkan peradaban masyarakat Suriah tapi juga jejak Rasulullah Saw ketika berniaga di negeri Syam  yang kini dikenal sebagai Damaskus. Israel tidak hanya meluluhlantakkan bangunan yang ada di Palestina termasuk jejak sejarah Nabi Ibrahim As tapi juga memutus rantai generasi di negeri itu. Lantas, masih perlukah kita membandingkan apa yang dilakukan masyarakat dunia terhadap tragedi di Paris dan negara muslim? 
Bersama tentara Palestina di kota Hebron, Palestina

Sudut kota tua Damaskus, Suriah
Kalau dunia bungkam, apakah kita juga bungkam? Kalau dunia tidak  acuh pada Suriah dan Palestina, apakah umat Islam di dunia juga diam? Bahkan untuk kemanusiaan saja kita masih berbeda pandangan, bagaimana kita bisa bersatu untuk umat Islam lainnya di dunia? Jangan sampai kondisi ini memudahkan  pihak ketiga  mengadudomba umat Islam. Buat saya, tragedi ini bukan masalah agama, tapi kemanusiaan. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar