Pages

Rabu, 25 November 2015

Demo Buruh Di Hari Guru

Peringatan Hari Guru tahun ini diwarnai dengan aksi demo dan  mogok para buruh. Meski tidak pernah melakukan aksi demo sebesar yang digelar kaum buruh, namun sesungguhnya, masih banyak guru yang kesejahteraan hidupnya jauh di bawah buruh yang berdemo itu. 
Buruh kembali berdemo. Kali ini demo tersebut dibarengi dengan aksi mogok bekerja. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut Peraturan Pemerintah no. 78 tahun 2015 tentang pengupahan. Sepanjang tahun ini sudah beberapa kali buruh melakukan demo dengan berbagai tuntutan, dari yang wajar hingga terkesan berlebihan, seperti tuntutan biaya rekreasi, pulsa hingga menonton film di  bioskop. 
Ketika mengawali karier sebagai koresponden Majalah Forum Keadilan wilayah Sumatera Utara, liputan utama pertama saya adalah demo buruh di Medan. Ini adalah aksi demo buruh terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Aksi tersebut tidak hanya melumpuhkan perekonomian di Medan, tapi juga merembet menjadi kerusuhan massa. Bisa dikatakan peristiwa ini adalah awal dari rentetan kerusuhan di Indonesia yang berakhir dengan jatuhnya Soeharto.
Yang paling membekas dalam liputan itu, ketika saya mewawancarai beberapa buruh perempuan yang ditahan di Poltabes Medan. Mereka bercerita tentang gaji mereka yang kecil dan harus membaginya untuk berbagai keperluan, di antaranya membayar kontrakan, membeli susu dan biaya sekolah anak. Mereka lalu menyebut jumlah gaji mereka dan uang tambahan kalau mereka lembur. 
Saat mendengar jumlah gaji mereka tersebut, saya hanya bisa membatin. Gaji mereka itu jauh lebih besar dari gaji saya ketika bekerja di sebuah harian. Gaji mereka yang kebanyakan lulusan SMP jauh lebih besar  dari gaji seorang wartawan lulusan perguruan tinggi. Ironisnya, tidak pernah ada wartawan yang mendemo perusahaan yang menggaji mereka sangat rendah. Bahkan tidak ada batas UMR untuk seorang wartawan!
Buruh dan Guru 
Kalau buruh menuntut kenaikan upah dengan berdemo dan mogok bekerja, para guru justru sebaliknya. Kita mengenal banyak guru yang tetap mengajar meski selama puluhan tahun menjadi honorer di daerah terpencil. 
Dalam tayangan Kick Andy beberapa waktu lalu, tampil Asnat Bell, seorang guru SD di pedalaman NTT yang honornya hanya Rp 50 ribu sebulan. Meski honornya sangat rendah, tapi ibu guru ini menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak pernah bolos.
Saya juga mengenal Yanti, guru di sebuah PAUD yang honornya lebih kecil dari asisten rumah tangga. Yanti tetap semangat mengajar dengan honor hanya Rp 300 sebulan. Ada juga Ibu Nur, guru mengaji di musala dekat rumah saya yang hanya dibayar seikhlas hati orangtua muridnya. 
Ketika saya menjadi dosen di beberapa universitas di Medan, honor saya tidak banyak, tapi saya tetap senang mengajar dan berbagi ilmu dengan mahasiswa saya. 
Mungkin itu yang namanya mencintai pekerjaan. Banyak orang yang bekerja tidak semata-mata demi uang. Banyak orang yang meyakini bahwa menjemput rezeki tidak hanya lewat pekerjaan yang dilakukan dari terbit matahari hingga bulan berpijar di langit.
Saat terjebak di tengah kerumunan para buruh yang sedang berdemo, kembali hati saya terusik melihat mereka berdemo sambil menaiki sepeda motor model terkini yang   harganya pasti mahal. Mereka juga berwefi dengan menggunakan ponsel model terbaru. Sangat kontras dengan para guru yang berdemo menuntut pengangkatan mereka sebagai guru tetap. Mereka hanya menuntut pengakuan bukan nominal uang. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, banyak guru honorer yang bekerja serabutan sepulang mengajar. 
Di tengah hujan yang turun deras malam ini, saya berdoa semoga Allah melimpahkan rezeki kepada semua guru yang pernah mengajar saya sejak TK hingga universitas serta seluruh guru yang mengabdikan ilmunya dengan penuh cinta. Amiin. 


Foto : Stefano Romano dan Google Images










Minggu, 15 November 2015

Antara Paris, Suriah dan Palestina

Ketika teror melanda kota Paris dan menewaskan ratusan orang, justru banyak yang mengecam bentuk empati terhadap tragedi itu dan membandingkannya dengan tragedi yang menimpa rakyat di Suriah dan Palestina. 
Jumat malam, 13 Nopember kemarin, serentetan tembakan dan ledakan bom menyenyapkan keriaan kota Paris. Lebih dari 150 orang tewas dan ratusan lainnya cedera. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Horor Friday the 13th itu seketika membuat Paris berduka. Masyarakat dunia pun ikut bersimpati dengan menggunakan #PrayForParis atau memasang bendera Prancis baik di foto profil akun media sosial masing-masing maupun di tempat-tempat tertentu seperti yang dilakukan oleh beberapa negara.



Bersamaan itu, sebagian netizen justru menyayangkan bentuk simpati tersebut dan membandingkannya dengan sikap dunia terhadap Suriah dan Palestina serta negara muslim lainnya. 
Berbagai meme yang menyindir orang-orang yang bersimpati pada tragedi Paris ini pun meramaikan dunia maya. 





Ini Bukan Soal Agama, Tapi Kemanusiaan
Ketika saya memasang foto profil akun facebook dengan berlatarbelakang bendera Prancis, seorang teman menegur saya. Menurutnya, saya tidak perlu bersimpati terhadap tragedi itu, karena Prancis pantas  mendapatkannya. Berapa banyak orang Prancis yang bergabung bersama ISIS untuk menyerang Suriah. 
Lalu dia mengingatkan mengapa saya tidak memasang bendera Suriah atau Palestina ketika tragedi yang sama meluluhlantakkan negara tersebut. 
Saya hanya menjawab bahwa hal itu juga saya lakukan untuk Suriah dan Palestina, lantas apa masalahnya ketika saya melakukan hal yang sama untuk Prancis? Saya marah dengan kemarahan yang sama ketika ISIS menyerang Suriah dan Israel menghancurkan Gaza. 
Untuk Prancis mungkin saya hanya bisa bersimpati lewat foto profil di akun facebook, tapi rakyat Suriah dan Palestina membutuhkan lebih dari sekadar hastag maupun meme. 
Kebetulan saya sudah pernah menginjakkan kaki ke tiga negara tersebut. ISIS tidak hanya menghancurkan peradaban masyarakat Suriah tapi juga jejak Rasulullah Saw ketika berniaga di negeri Syam  yang kini dikenal sebagai Damaskus. Israel tidak hanya meluluhlantakkan bangunan yang ada di Palestina termasuk jejak sejarah Nabi Ibrahim As tapi juga memutus rantai generasi di negeri itu. Lantas, masih perlukah kita membandingkan apa yang dilakukan masyarakat dunia terhadap tragedi di Paris dan negara muslim? 
Bersama tentara Palestina di kota Hebron, Palestina

Sudut kota tua Damaskus, Suriah
Kalau dunia bungkam, apakah kita juga bungkam? Kalau dunia tidak  acuh pada Suriah dan Palestina, apakah umat Islam di dunia juga diam? Bahkan untuk kemanusiaan saja kita masih berbeda pandangan, bagaimana kita bisa bersatu untuk umat Islam lainnya di dunia? Jangan sampai kondisi ini memudahkan  pihak ketiga  mengadudomba umat Islam. Buat saya, tragedi ini bukan masalah agama, tapi kemanusiaan. 




Minggu, 08 November 2015

Lantunan Alquran Di Kaki Eiffel

Di tengah romantisme Eiffel, dimana pasangan kekasih saling berpelukan dan berciuman mesra, laki-laki itu mengaji dengan khusyuknya. Dia adalah Abdullah yang kisahnya akan saya sampaikan di sini...
Suhu kota Paris malam itu, persis 3 tahun yang lalu, sangat dingin. Di tengah udara yang menggigit itu pula, saya terpisah dari rombongan. Saya menaiki lift menuju puncak menara Eiffel yang berbeda dengan teman-teman saya lainnya.
Udara yang sangat dingin itu membawa langkah saya memasuki  sebuah toko souvenir kecil milik seorang laki-laki berkulit hitam. Sayup saya dengar dia sedang melantunkan surat Yaasin dengan sangat fasih dan suaranya, masyaallah, merdu sekali. 
Dia berhenti mengaji ketika melihat saya memilih-milih tempelan kulkas dan dompet koin bergambar tempat-tempat wisata di Paris. 
"Assalamualaikum," sapanya sambil berdiri dan menangkupkan kedua tangannya dengan takzim. Saya sangat terharu atas sambutannya. 
"Waalaikumsalam, Brother," jawab saya. 
Dia menyapa dengan mengucapkan salam karena melihat saya mengenakan hijab. Tapi begitu tahu saya orang Indonesia, dia langsung berujar," silakan belanja, belanja, murah." Wah, dimana-mana, orang Indonesia ternyata dikenal karena suka belanja buat oleh-oleh. 
Call Me Abdullah
Abdullah, demikian dia menyebut namanya. Keluarganya sudah tiga generasi menetap di Paris. Mereka merupakan imigran dari Sudan. Abdullah belajar mengaji pada kakek dari pihak Ibunya sejak dia masih sangat kecil. Dia bahkan sudah bisa menghafal Alquran ketika usianya 16 tahun. 
"Islam itu agama yang sangat mencintai keindahan. Hal ini dapat dilihat dari bahasa Alquran yang sangat indah. Banyak teman saya yang kemudian menjadi mualaf setelah membaca kandungan Alquran. Itu sebabnya saya selalu membaca Alquran, karena dengan ini saya berdakwah," katanya. 
Setelah menghitung belanjaan saya, dan memberi saya hadiah sebuah dompet sebagai tanda sukanya bertemu sesama muslim, kami kembali berbincang. 
Udara yang semakin dingin menjadi hangat dengan secangkir kopi yang dia suguhkan. 
"Tunggulah temanmu di sini dan kita bisa mengobrol lagi."
Abdullah memiliki tiga anak perempuan yang semuanya mengenakan hijab. Tidak seperti yang diberitakan tentang sulitnya mengenakan atribut keagamaan di kota semodern Paris, ketiga anaknya tidak pernah mendapat masalah dengan hijabnya. 
Letak tokonya yang berada persis di kaki menara Eiffel membuat Abdullah sering bertemu wisatawan yang datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Dia merasa senang kalau kedatangan wisatawan perempuan berhijab karena dia tahu kalau dia kedatangan saudaranya sesama muslim. 
"Itulah gunanya berhijab. Hijab adalah identitas seorang muslimah. Sehingga dimana pun berada dapat dikenali bahwa dia seorang muslim."
Terimakasih ya Allah, telah Engkau pertemukan aku dengan Abdullah yang sangat mencintai Alquran. Terus terang, Abdullah membuat saya sangat terpukul karena saya hanya membaca  Alquran ketika malam Jumat dan bulan  Ramadan saja. Abdullah, saya malu padamu...