Pages

Jumat, 23 Oktober 2015

Tak Harus Ke Negeri Cina (Tentang Mereka Yang Mendobrak Stigma)

Teknologi yang semakin canggih membuat siapa saja bisa belajar apa saja tanpa harus menjelajah dunia. Allah juga menjamin ganjaran pahala berlipat ganda bagi orang yang giat belajar.
Banyak orang berdalih bahwa menuntut ilmu itu mahal dan menyita waktu. Tapi alasan tersebut tidak berlaku untuk orang yang gigih dan pantang menyerah. Jika Allah sudah berkehendak siapa yang mampu mematahkannya? Termasuk ketika anak seorang supir angkot bisa menaklukkan kepongahan New York City. 
Iwan Setyawan menuliskan perjalanan hidupnya dari sebuah gang buntu di sudut kota Batu hingga berhasil mencetak sejarah. Laki-laki pemalu penulis novel best seller “Dari Kota Apel Ke The Big Apple”  adalah orang Indonesia pertama yang menjadi direktur sebuah perusahaan riset besar dunia.
Semangat Iwan yang besar  dan kebesaran jiwa orangtuanya  menjual angkot tua mereka sebagai biaya sekolah adalah aplikasi terbaik dari hakikat menuntut ilmu.
        
Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena sesungguhnya semua ilmu itu berasal dari Allah Swt. Dalam salah satu kisah yang  diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi, Rasulullah Saw bersabda,”Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”. Tapi dengan perkembangan teknologi saat ini, belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, asalkan ada kemauan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempelajari sesuatu, mulai dari browsing di internet, membaca bahkan berdiskusi.
Ketidakmampuan secara finansial juga bukan alasan untuk menghentikan semangat belajar. Sekali lagi, asalkan ada kemauan. Andrea Hirata tidak akan mampu kuliah di Sorbonne, Perancis,  jika mengharapkan penghasilan orangtuanya yang merupakan pegawai rendahan di perusahaan timah. Kisah perjalanannya mendapatkan tiket ke salah satu universitas paling bergengsi di dunia itu dia tuliskan di tetralogi “Laskar Pelangi” yang sangat fenomenal . Novel tersebut tidak hanya telah ditulis dalam berbagai bahasa tapi juga membuat kampung halamannya di Belitong menjadi populer.  
Anak muda lain yang tidak kalah inspiratif adalah Andri Rizki Putra, founder Yayasan Pendidikan Anak Bangsa (YPAB). Kemauannya yang kuat untuk belajar berhasil mengantarkannya lulus UMPTN meski dengan ijazah paket C.
Kekecewaannya pada lembaga pendidikan membuat Rizki dropout dari sekolah saat dia duduk di kelas 1 SMA dan memilih jalur unschooling. Berbeda dengan homeschooling, metode belajar unschooling tanpa lembaga dan pengawasan orangtua. Rizki belajar sendiri di rumah dengan membaca buku-buku bekas dari saudaranya. Setelah merasa dirinya siap, Rizki mengambil ujian paket C dengan sistem akselerasi. Pihak Diknas kemudian mengizinkannya mengikuti program tersebut dengan syarat Rizki harus mengikuti placement test yang berisi test akademik dan IQ. 
Untuk mengejar target tersebut, dia lalu belajar 22 jam sehari selama setahun hingga akhirnya mampu melampaui syarat ujian paket C di bawah 17 tahun. Rizki lulus dengan nilai tertinggi di usianya yang masih 16 tahun dan berhasil menembus SNMPTN di FH UI. 
Rizki berhasil mematahkan stigma tentang nasib anak yang DO dengan menjadi lulusan terbaik, termuda dan tercepat. Dia meraih gelar sarjana hanya dalam waktu 6 semester, dan Cum Laude!
Belajar adalah hal yang sangat mudah dilakukan jika ada kemauan. 






2 komentar: