Pages

Kamis, 22 Oktober 2015

Antara Cinta Khadijah dan Kecemburuan Aisyah

Banyak riwayat yang mengisahkan betapa besarnya cinta Rasulullah Saw kepada Khadijah dan betapa besarnya cemburu Aisyah kepada Khadijah. Meski usia kedua perempuan ini terpaut jauh dengan Rasulullah Saw, tapi cinta mereka sama besarnya. 
Ketika menikah dengan Siti Khadijah, usia Rasulullah Saw baru 25 tahun dan Khadijah konon sudah berusia 40 tahun. Dalam tradisi Arab, seorang perempuan hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki. Namun Khadijah telah banyak menolak pinangan dari laki-laki yang ingin memperistrinya. Khadijah justru terpikat pada seorang pemuda yang bekerja padanya. Seorang laki-laki tampan dan berhati mulia serta dapat dipercaya. Lewat pendekatan yang dilakukan orang-orang kepercayaannya, akhirnya keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Dalam novel Khadijah The True Love Story Of Muhammad diceritakan bahwa pernikahan Khadijah dengan Muhammad  dilangsungkan setelah 2 bulan 15 hari Muhammad  kembali dari negeri Syam. Kehidupan Muhammad tiba-tiba berubah. Ia menikah dengan seorang perempuan terhormat yang cantik dan kaya. Kehilangan ibunya ketika masih kecil membuat Muhammad menemukan cinta seorang istri sekaligus kasih sayang seorang ibu pada diri Khadijah.

Kesabaran dan kebijaksanaan Khadijah diuji ketika Muhammad memilih menyendiri di Gua Hira hingga akhirnya beliau menerima wahyu dari Allah Swt. Khadijah pula orang pertama yang percaya pada apa yang disampaikan Muhammad ketika orang lain menganggap suaminya itu berdusta. Khadijah pula perempuan pertama yang memeluk Islam dan bersama-sama dengan Rasulullah Saw berjuang menyiarkan Islam di tengah hujatan, makian dan cercaan penduduk Arab. 

Cinta Rasulullah begitu besar pada Khadijah. Hanya Khadijah pula isteri Rasulullah Saw yang tidak memiliki madu. Meski Khadijah telah bertahun-tahun meninggal dunia, tapi Aisyah, salah seorang istri Rasulullah yang dinikahi setelah kepergian Khadijah, sangat cemburu pada Khadijah.

Kecemburuan Aisyah
Aisyah adalah  istri Rasulullah Saw yang paling cerdas dan menghafal banyak hadis serta menjadi rujukan bagi sahabat Rasulullah Saw. Usia yang muda ketika dinikahi Rasulullah, membuat Aisyah dikenal sangat manja dan pencemburu terutama kepada Khadijah yang ia tahu memiliki tempat tersendiri di hati suaminya.  

Banyak kisah romantis yang dituliskan tentang hubungan Rasulullah Saw dengan Aisyah. Begitu sayang dan cintanya Rasulullah Saw pada Aisyah hingga beliau memanggilnya dengan nama kesayangan “Humaira” yang artinya kemerah-merahan. Rasulullah Saw pernah berlomba lari dengan Aisyah dan selalu minta disisirkan rambutnya oleh Aisyah.

Perbedaan usia nyatanya bukan menjadi penghalang dalam menyatukan cinta. Rasulullah memperlakukan istri-istrinya dengan penuh kasih sayang. Khadijah hadir selama 25 tahun mendukung Rasulullah Saw dalam membangun basis Islam di Mekah dengan perjuangan yang sangat berat. Lalu Aisyah mendampingi selama 10 tahun dalam misi pembangunan konstitusi negara Madinah yang rumit dengan tantangan yang tak kalah beratnya. 

Kecemburuan Aisyah pada Khadijah sangat besar hingga ia pernah berkata,” Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah Saw kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah Saw selalu  menyebut namanya setiap saat.Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Lalu  aku katakan, seakan-akan tidak ada perempuan  di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.”
Hal yang semakin menambah rasa cemburu Aisyah, setiap keluar rumah Rasulullah SAW  hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. “Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain perempuan  tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’

Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar