Pages

Kamis, 30 Juli 2015

Islamisasi Boneka Barbie dan Princess Disney

Ketika umat Muslim marah dengan isu Kristenisasi, di sisi lain banyak pula umat Muslim yang melakukan Islamisasi, di antaranya terhadap tokoh kartun dan boneka kesayangan anak mereka. 
Baru-baru ini media sosial ramai mengangkat masalah tentang sebuah tayangan rohani Kristen yang para pengisi acaranya mengenakan pakaian muslim. Banyak netizen mengecam televisi yang menayangkan acara tersebut dan menuduh bahwa televisi itu telah berupaya melakukan Kristenisasi. 
Sebagai umat Muslim yang menjadi mayoritas di negara ini, kenapa kita harus panik dengan isu tersebut. Kalau sejak dini, masing-masing keluarga muslim telah menanamkan aqidah yang baik, tentu saja tidak ada yang mampu mempengaruhi keimanan kita, apalagi cuma sebuah program yang bisa jadi pemakaian atribut yang identik dengan umat Muslim seperti kerudung dan baju koko, karena penayangannya masih dalam suasana lebaran. Bukankah agama kita selalu menekankan pentingnya berkhusnudzon dan bertabayyun dalam menanggapi sebuah berita? 
Kita mudah marah, mudah terprovokasi dan mudah mengajak orang lain untuk bersikap sama dalam menanggapi hal yang berkaitan dengan aqidah. Kita selalu lupa bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. 
Sebaliknya, kita malah membiarkan Islamisasi kepada produk yang sebenarnya merupakan karya orang lain yang berbeda aqidah dengan kita.
Dengan alasan menanamkan nilai-nilai Islami kepada buah hati,  kita memakaikan hijab pada boneka Barbie. Lalu oleh sebagian dari kita meraup keuntungan dengan memasarkan Barbie berhijab. Pernahkah pembuat Barbie berhijab itu minta izin pada Mattel, perusahaan yang memproduksi Barbie, untuk memakaikan hijab pada boneka Barbie? Ini ibarat boneka Unyil atau  Upin Ipin dipakaikan atribut Nasrani sebagai bentuk syiar agama tersebut.
Plagiat Atas Nama Syiar 
Ternyata tidak hanya Barbie yang sudah "mualaf" dan memakai hijab, para plagiator atas nama syiar ini juga memakaikan hijab kepada para princess Disney. Maka, jadilah Cinderella, Mulan, Belle hingga Putri Salju  dan Elsa serta Ana dipakaikan hijab. 
Apakah menanamkan nilai-nilai aqidah kepada anak harus lewat princess Disney? 



Ketertarikan anak pada kisah princess tidak harus kita arahkan pada tokoh-tokoh Disney lalu "memaksa" mereka berhijab. Banyak cara lain dalam menanamkan nilai-nilai aqidah pada anak tanpa harus melakukan Islamisasi pada tokoh kartun favorit anak. 
Rasa prihatin ini pula yang mendorong saya untuk mengikuti workshop pictbook yang diadakan oleh Penerbit Mizan beberapa tahun lalu.Workshop yang dimentori Benny Rhamdani ini, mengajak pesertanya untuk menanamkan nilai-nilai edukasi lewat tokoh Islamic Princess yang diambil dari 99 Asmaul Husna. Alhamdulillah, para Islamic Princess ternyata juga tak kalah menarik dibanding Princess Disney. 


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari upaya umat lain untuk mempengaruhi aqidah kita. Tak perlu menghujat orang yang memilih murtad atau bersyukur dengan bertambahnya mualaf. Agama itu bukan produk yang membutuhkan  staf marketing untuk memasarkannya. Karena itu, kita tak perlu menjadi agen marketing yang melakukan berbagai upaya agar produk kita laku dengan menjelekkan produk lainnya. Jadilah duta yang baik untuk Islam dengan bersikap dan beradab selayaknya Rasulullah Saw mengajarkan kita. Daripada menyebarkan kebencian lewat share berita yang tak jelas kebenarannya, lebih baik kita mengajarkan anak-anak kita bagaimana menjadi seorang Muslim yang baik. InsyaAllah, apa pun dan siapa pun tidak akan mampu menggoyahkan keimanan mereka. Amin... 


ilustrasi : google images

Tidak ada komentar:

Posting Komentar