Pages

Kamis, 11 Juni 2015

Suara Dari Masjid

Ini bukan soal bid'ah tapi bagaimana indahnya kalau suara yang terdengar dari masjid dan musolla tidak mengganggu kenyamanan bagi yang mendengarnya. 
Jam belum menunjukkan pukul 9 pagi ketika terdengar suara mic yang diketuk-ketuk. "Test...Test... 123.." Tak lama kemudian, menggemalah suara yang "maaf" sangat sumbang di telinga, memanggil para ibu-ibu anggota majelis taklim untuk segera datang ke musholla. "Ayo bu... yang lagi masak, ditinggal dulu bae, buruan, bu... ibu ustazah sudah dari tadi duduk anteng di sini." Seraya menunggu semuanya datang, ibu tersebut menyenandungkan shalawat nabi yang jangankan indah di telinga tapi sama sekali berantakan lafaznya. Hal ini terus saya alami setiap hari Rabu, selama tiga tahun saya menetap di perumahan tempat saya tinggal sebelum pindah ke rumah yang sekarang. Mulai dari memanggil anggota berkumpul, hingga pengumuman yang seringkali tidak ada manfaatnya bagi warga sekitar yang terimbas suara mereka, semuanya dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Awalnya, saya merasa kondisi ini merupakan hal yang sangat dilematis buat saya. Ingin komplain khawatir dianggap melecehkan agama, tapi jujur, di hati kecil saya, sungguh saya merasa kurang nyaman dengan suara-suara tersebut. 
Kalau menurut saya pribadi, hubungan dengan Allah itu sangat sakral dan perlu suasana yang khusuk. Urusan mencari ilmu akhirat tak perlu disatukan dengan urusan arisan dan iuran seragam untuk menghadiri pengajian. 
Saya justru menemukan suasana yang jauh lebih menentramkan ketika menunggui putri saya belajar mengaji di musholla tempat tinggal saya saat ini. Tingkah suara anak-anak yang membacakan lembar-lembar iqra jauh lebih merdu ketimbang ibu-ibu pengajian yang mengumbar kaji mereka dengan suara yang membahana keliling kampung. 
Saya tidak sedang membahas masalah bid'ah, karena saya bukan orang yang memiliki kapasitas keilmuan mengenai hal itu. Di masa Rasulullah Saw tentu saja belum ada mic dan speaker. Sehingga tidak ada dalil yang bisa dijadikan rujukan untuk membahas masalah ini. Konon, ketika masjid-masjid mulai menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan suara azan, sempat terjadi penolakan keras karena menganggap pengeras suara ini bid'ah. 
Tapi, kini, tidak ada masjid bahkan musholla, surau hingga langgar sekalipun yang tidak memanfaatkan teknologi ini. Selain untuk mengumandangkan azan hingga bisa terdengar hingga jarak yang jauh, pengeras suara juga sangat bermanfaat agar makmum yang berada di barisan paling belakang bisa mendengarkan suara Imam. 
Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, Lc, MA,  pengeras suara juga bisa membantu para warga yang berhalangan menghadiri pengajian di masjid dan musholla untuk bisa tetap mendengarkannya dari rumah. Selain itu juga dimanfaatkan untuk berbagai pengumuman lainnya, termasuk mengabarkan berita duka cita. "Namun semua itu hanya itu diizinkan bila sudah dipastikan tidak mengganggu orang lain. Baik muslim maupun non muslim yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan masjid. Apalagi bila ada anggota keluarganya yang kebetulan sedang kurang sehat maupun anak-anak yang terganggu ketenangan tidurnya karena sound system yang over."
Penulis buku Seri Fiqih Kehidupan ini juga menambahkan kalau mengganggu ketenangan orang lain, meski dengan suara dari masjid, tetap saja tidak diperbolehkan. 
Hal yang memilukan jika pengeras suara di masjid itu digunakan untuk meminta sumbangan dicampur dengan bahasa kelakar yang jauh dari nilai-nilai Islam. 
Sementara itu Prof.Dr.M.Quraish Shihab, MA menjelaskan bahwa suara memiliki pengaruh bagi jiwa seseorang dan kurang baik jika dikumandangkan pada waktu yang tidak tepat atau suara yang sumbang. Azan, doa bersama, pembacaan Alquran dianjurkan dengan suara yang dapat menggugah pendengarnya untuk berkenan memenuhi panggilan Illahi, bukan sebaliknya. Itu sebabnya, Alquran mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya, yaitu, " Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan  lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai." (Q.S. Luqman : 19).  Dalam membaca ayat-ayat Alquran atau berdoa, Allah Swt juga  memerintahkan, "Janganlah mengeraskan suaramu dalam salat dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (Q.S Al-Isra' : 110). Itulah sebabnya berdoa dan membaca Alquran tidak harus dengan pengeras suara. "Tapi tidak ada salahnya kita menggunakannya pada saat-saat tertentu selama tidak mengganggu, terutama mengganggu anak-anak, orang sakit serta kaum Muslim yang bangun di awal pagi  untuk berzikir dan tafakur," jelas Quraish Shihab dalam kajian tentang mengaji dengan pengeras suara. 

Bagi saya, bermesraan dengan Allah  membutuhkan suasana intim yang benar-benar bisa membuat saya larut bersama-Nya. Islam itu teramat indah, dengan kumandang azan dan lantunan ayat suci yang dikumandangkan pada saat yang tepat dan suara yang membuat siapapun tersentuh hingga ke dasar kalbunya. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar