Pages

Kamis, 11 Juni 2015

Ketika Anjing Bernama Kucing

Entah kenapa Imam Besar yang satu ini, justru lebih lucu berkali-kali lipat dari seorang komik. Bahkan anjing pun dibuatnya krisis identitas dan seekor Kucing dibuatnya menggongong. 
Saat menunggui putri saya yang sedang mengikuti Workshop menulis KKPK di MP Book Point, 2008 silam, saya memilih membaca di cafe sekaligus toko buku itu. Sialnya saya, buku yang saya ambil untuk "killing time" itu berjudul Drunken Monster, sebuah cacatan harian dari seorang yang bernama Pidi Baiq. Bagaimana tidak sial, buku itu ternyata benar-benar sangat berbahaya dan membuat saya terjebak dalam cinta bukan pada pandangan pertama, melainkan pada kata pertama yang dituliskan orang yang memanggil dirinya Ayah. Orang ini memaksa saya nyaris membagi cinta saya dari seorang laki-laki yang saya panggil sayang Ayah dengan dirinya yang dengan pede menyebut dirinya Ayah. Sial saya semakin bertambah kuadratnya karena buku yang ditulis orang ini bukan hanya satu di toko itu , tapi ada juga Drunken Molen dan Drunken Mama yang benar-benar memaksa saya untuk memilikinya. Lagi-lagi sial, karena Ayah yang saya sayangi juga jatuh cinta padanya. Dia memang sangat - sangat - sangat berbahaya dan telah mengintervensi bentuk cinta saya dan Ayah Sayang saya. Dan kini, lewat Dilan, dia mulai coba-coba mendekati putri saya yang sebentar lagi menjadi siswi SMA. Oh, NO! Tidak hanya Dilan edisi 1990, racunnya makin meluas dengan Dilan di tahun 1991. Please, enough!!!



Setelah bertahun-tahun menyimpan dendam kesumat pada Ayah dari Timur dan Bebe ini, akhirnya Mizan mempertemukan saya dengan pendiri Negara Kesatuan Republik The  Panasdalam yang akibat perubahan politik di negeri ini kini telah menjadi Daerah Khusus The Panasdalam. Tapi dendam saya menggumpal menjadi hasrat membawanya  pulang ke rumah untuk mengganti posisi buku-buku tulisannya di rak buku saya. Soalnya, sumpah mati, orangnya jauuuuuuh lebih lucu dari bukunya!!! 
Di acara Temu Jurnalis, Blogger dan Penulis 2015 bertajuk #RayakanIndonesiamu: Ribuan Pulau Kebaikan yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan, Pidi berceloteh tentang banyak hal, termasuk kenapa dia memberi nama anjingnya dengan nama Kucing. Hal itu tak pelak membuat beberapa tetangganya keberatan dan menegurnya," Itu miara anjing, ngga boleh masuk ke rumah karena nanti malaikat ngga mau masuk ke rumah. " Si Ayah Surayah ini malah ngeyel menjawab,"Jangankan anjing, nyamuk juga ngga saya kasih masuk ke rumah." Tapi tetangganya juga lebih ngeyel," jilatan anjing itu haram." Eh, dia malah nantangin," jangankan anjing, teman saya kalau jilat, saya tampar!" 
Masalah pemberian nama Kucing untuk anjingnya, juga membuat anjingnya jadi krisis identitas. Karena cuma dia kucing yang kalau dipanggil mengonggong. Apalagi tuannya yang belagu itu juga suka khilaf menyebutnya anjing. Jadi, sekali lagi, memberi nama kucing buat seekor anjing itu juga bisa membuat si anjing memusuhi dirinya sendiri. Karena dari jaman dulu, kucing itu musuhnya anjing. 
Mengingat acara tersebut juga sekaligus memperkenalkan Gerakan Islam Cinta, Pidi bercerita pengalamannya tentang pandangan tentang Islam yang sering berlebihan. Tentang bagaimana orang yang membawa-bawa agama ke ranah politik. "Ada yang bertanya, apakah saya suka Jokowi? Tentu saja ini dilema, karena teman dan saudara saya juga mempunyai pilihan masing-masing dan saya ngga mau jawaban saya jadi melebar, jadi saya jawab saja," Saya kan laki-laki."
Tentang bakwan yang pernah dia beli tanpa bayar waktu sekolah juga bisa jadi tidak membawanya bermasalah di hari pembalasan nanti." Kalau malaikat nanya soal bakwan itu, saya akan jawab, itu kan masalah di dunia, jangan dibawa-bawa ke akhirat dong..."
Tapi laki-laki yang dengan kekonyolan dan tulisan tanpa bebannya itu telah membuat banyak orang kepincut itu ternyata juga bisa bernyanyi. Maklumlah, dia juga pendiri The Panasdalam Band yang masih karena perubahan politik kini menjadi The Panasdalam Bank. Usaha simpan pinjam, dimana orang bisa menyimpan uang untuk mereka pinjam. Dia membawakan dua lagu, "Jangan Takut" dan "Bayangkan Tanpa Nia"
Lagu "Jangan Takut" itu dia tulis untuk anaknya Timur yang jadi takut gara-gara nonton acara Uji Nyali di tv. Liriknya kira-kira seperti ini," Jangan takut polisi, kalau tidur, kita gilas. Jangan Takut Mike Tyson, tuanya nanti parkinson. Jangan takut tetangga, rumah kita pakai pagar. Tapi takutlah kalau kau ngga punya teman, hidupmu jadi sunyi sendiri. Jangan takut Ibu, uang ibu dari Ayah. Jangan takut Ayah, Ayah takut sama Ibu..." itu yang saya ingat dan bikin saya ngakak, sengakak-ngakaknya. 
Sedangkan lagu Bayangkan Tanpa Nia, lebih gokil lagi, karena dunia tanpa Nia akan jadi Du... hahaah.
Terimakasih Mizan, dendam saya terbalaskan tuntas, meski tak sempat foto bareng. 


foto: google images


3 komentar:

  1. makasih postingannya. jangan lupa dimention @pidibaiq di twitter

    BalasHapus
  2. Sama2 kang....okeee thanks ya kang

    BalasHapus
  3. Ade, memang kebetulan Bunda hadir di acara Temu Jurnalis, Blogger, dan Penulis, Rabu, 10 Juni 2015 dan mau gak mau ketawa terbahak-bahak mendengarkan lagu dengan syair yang lucu bukan main. Sampe capek lho karena ketawa terus, hehe...

    BalasHapus