Pages

Senin, 08 Juni 2015

Keinginan Ayah

Ketika dokter memutuskan untuk mengamputasi salah satu kakinya, Kinanti justru mendapatkan alasan untuk menolak keinginan Ayahnya...
Sudah lama sekali Haji Jamaluddin ingin menikahkan Kinanti, putri semata wayangnya dengan Prasetyo, anak sahabatnya. Bagi Haji Jamaluddin, Prasetyo adalah pasangan yang tepat untuk Kinanti, Semua yang ada pada diri laki-laki muda itu sangat sesuai dengan apa yang diharapkannya sebagai syarat menjadi menantunya. Selain tampan, Prasetyo juga memiliki kemampuan akademik yang cukup membanggakan. Dia baru saja lulus dengan predikat cumlaude dari sebuah universitas bergengsi di Australia. Harapan Haji Jamaluddin untuk seseorang yang dapat diandalkan dalam  menjalankan perusahaannya , semua dimiliki Prasetyo. 
Tapi sayangnya, Kinanti justru menolak dengan keras keinginannya itu. Dengan alasan yang selalu berubah-ubah setiap kali ditanya, Kinanti tetap tidak ingin dijodohkan dengan Prasetyo. Kinanti seolah memiliki berjuta-juta persediaan alasan untuk menolak rencana perjodohan itu. Mulai dari belum memikirkan soal pernikahan hingga dalih bahwa sudah menganggap Prasetyo seperti saudaranya sendiri. 
Kinanti memang memiliki watak yang keras. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan. Sejak kanker rahim merenggut nyawa Ibunya, Kinanti seolah menutup dirinya untuk siapapun. Termasuk pada sang Ayah yang memilih tidak menikah demi mengasuh sendiri Kinanti kecilnya. Kinanti yang saat itu masih berusia lima tahun sangat terpukul dengan kepergian Ibunya. 
Kini, sudah lebih dari dua puluh tahun Ibunya berpulang, dan Haji Jamaluddin ingin ada seseorang yang bisa membahagiakan buah hatinya itu. Seseorang selain dirinya. 
Haji Jamaluddin sangat menyadari kalau bukanlah hal mudah menaklukan hati Kinanti. Dia memang tidak bisa diandalkan untuk mengasuh Kinanti. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membesarkan perusahaannya daripada anaknya sendiri. Kinanti pun tumbuh dari satu pengasuh ke pengasuh lainnya. Jarang ada pengasuh yang bertahan lebih dari sebulan karena Kinanti tidaklah semanis anak-anak lain seusianya. Selain menutup diri, Kinanti juga bisa melakukan apa saja untuk menolak siapapun yang ingin mendekati dirinya. Dia hanya menginginkan Ibunya kembali padanya dan itu takkan mungkin dapat terjadi.

Hanya prasetyo yang mampu mengambil hati Kinanti di saat tak satu pun anak lain berkenan melakukannya. Ketika Kinanti menangis karena salah seorang temannya mengejek badannya yang gendut, Prasetyo ada untuk menghiburnya. Di saat Kinanti marah karena Ayahnya tak pernah punya waktu untuknya, Prasetyo hadir untuk menemaninya. Ketika semua orang menganggapnya gadis yang aneh, Prasetyo tak pernah meninggalkannya. Tapi itu semua tak mampu mengubah pendirian Kinanti. Dia tetap menolak perjodohan itu, meski dengan segala hal yang telah dilakukan Prasetyo untuknya. 
             -----------------------
Setelah menyelesaikan SMA-nya, Kinanti meminta izin pada Ayahnya untuk melanjutkan sekolah ke Perancis. Dia memilih sekolah mode, suatu bidang yang tidak ada sedikitpun kaitannya dengan usaha yang dijalankan Ayahnya. Selama bertahun-tahun hubungan ayah dan anak ini hanya disatukan oleh surat-surat elektronik dengan bahasa yang formal. Mereka jarang bertelepon kecuali di hari-hari istimewa, ulang tahun Kinanti, ulang tahun Haji Jamaluddin, lebaran atau ketika sala seorang dari mereka merasa penting untuk bertukar kabar. Kinanti kemudian memutuskan menunda kepulangannya ke Indonesia, meski sudah dua tahun menyelesaikan pendidikannya. Dia memilih bekerja di sebuah rumah mode milih seorang perempuan berkebangsaan India. 
Haji Jamaluddin kembali melanjutkan hidupnya seorang diri. Di saat-saat tanpa Kinanti di sisinya, Prasetyo tetap setia menemaninya bila dia sedang tak memiliki kesibukan. Bagaimana mungkin Haji Jamaluddin tak mengangap penting arti seorang Prasetyo di hatinya...
"Aku sangat ingin anakku merasa dirinya berarti seperti halnya aku sekarang ini. Dan Prasetyolah orang yang kuanggap mampu melakukannya. Kalau kau berada di posisiku  saat ini, kau pun pasti bisa memahami apa yang kurasakan." Haji Jamaluddin tak mampu lagi menahan hasrat untuk mengutarakan niatnya menjodohkan Prasetyo dengan Kinanti. Bambang, sahabatnya sekalgus ayah dari Prasetyo hanya termangu sejenak tapi kemudian segera berkata," Bagaigama halnya dengan Kinanti, Mal? Sudahkah kau sampaikan hal itu padanya? Tentang Prasetyo itu biar menjadi urusanku." 
"Aku tak pernah punya kesempatan membicarakan hal ini dengannya. Dia selalu mencari alasan untuk menghindari pembicaraan tentang keinginanku ini. Anak itu memang tak pernah bisa kumengerti apa yang ada di dalam kepalanya. Padahal, seumur hidupnya dia hanya memiliki aku dan Prasetyo."
Bambang menepuk pundak sahabatnya dengan lembut dan merangkulnya. Sejak dua tahun terakhir ini, dia menjadi semakin dekat dengan sahabatnya itu. Kepergian istrinya karena penyakit yang sama dengan yang dialami ibunya Kinanti, membuatnya semakin lebih memahami mengapa sahabatnya itu demikian rapuh dan hampa. 
"Bersabarlah kawan, kita akan mencari waktu yang tepat untuk membahas hal ini dengan kedua anak kita. Sekarang, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Bukankah besok pagi kau harus menjemput Kinanti ke airport?"
Haji Jamaluddin bangkit dari duduknya dan berjalan lemah, seolah tak ada sekerat tulang pun yang menyangga tubuhnya. Dengan cepat,  Kasim, supir pribadinya, menggamit lengan Haji Jamaluddin menuju mobil. Mereka melaju menuju rumah yang tak punya warna. Hampa. 
--------------------------
Kepulangan Kinanti ke Indonesia disambut dengan kepergian Prasetyo melanjutkan kuliahnya ke Australia. Kembali tahun-tahun memisahkan keduanya dengan menyisihkan harapan besar di hati ayah-ayah mereka. Rencana perjodohan itu.
Kehidupan Perancis yang serba bebas ternyata tak mampu mengalahkan jiwa Kinanti. Dia bahkan pulang dengan penampilan yang sangat jauh berbeda. Tubuhnya yang dulu gendut, kini langsing dan stylish. Sifat individualistisnya juga berangsur menjadi lebih toleran terhadap orang lain. Kinanti ternyata tidak hanya berganti penampilan tapi juga seluruh yang ada di dalam dirinya. Kecuali satu hal, dia tetap menolak rencana perjodohan dengan Prasetyo. Apalah gunanya semua perubahan itu bagi Haji Jamaluddin, jika hati Kinanti tetap sekeras batu karang. "Apalagi yang membuatmu tetap menolak perjodohan ini, nak? Kau toh telah mengenal Prasetyo dengan cukup baik. Atau... apaka kau sudah memiliki calon yang lain?"
"Aku belum mau menikah, Ayah. Berapa kalikah harus aku jelaskan kalau aku belum mau menikah? Mohonlah Ayah bisa memahami keinginanku ini, tanpa terus memaksakan keinginan Ayah padaku."
"Apa lagi yang kau tunggu, nak. Usiamu sudah cukup untuk menikah. Sementara Ayah belum tentu punya umur untuk melihatmu berkeluarga, hidup bahagia dengan suami dan anak-anak yang menyayangimu."
"Tapi Pras terlalu sempurna untukku, Ayah. Aku tak pantas hidup berdampingan dengannya. Dari dulu orang-orang selalu memandang aneh jika melihat kami jalan berdua. Mereka selalu mengatakan betapa tak pantasnya anak perempuan yang gendut itu berdampingan dengan anak lelaki yang tampan itu. Sungguh aku tak sebanding untuk dia, Ayah..."
Haji Jamaluddin bangkit dari duduknya dan memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia lupa kapan terakhir memeluk anaknya sehangat ini. Dia bahkan tak ada di sisi Kinanti ketika anak-anak usil itu mengejek tubuh Kinanti yang gendut tak berbentuk. Kini, dia tiba-tiba hadir untuk memaksakan keinginannya pada buah hatinya itu. "Ma'afkan Ayah, nak. Tapi cobalah kau lihat bagaimana dirimu sekarang ini? Anak perempuan gendut itu kini tidak ada lagi. Tak ada siapapun yang berani mengatai dirimu lagi. Lihatlah betapa cantiknya kau sekarang ini."
"Tapi aku tetap bukan jodoh yang sepadan buat Pras, Ayah. Kecuali jika dia terpaksa menuruti kemauan ayah dan ayahnya. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi dimana orangtua bisa memasuki dengan seenaknya ranah pribadi anaknya. Biarkanlah Pras pun memilih jodohnya sendiri, demikian pula halnya dengan aku." 
Pembicaraan malam itu kembali berakhir dengan kekecewaan yang dalam di hati Haji Jamaluddin. Kinanti tetap menolak perjodohannya dengan Prasetyo.
---------------------------
Sudah beberapa bulan terakhir ini Kinanti membuka butik kecil di sebuah pusat perbelanjaan. Dia sangat menikmati pekerjaannya ini dan menghabiskan hampir sepanjang waktunya untuk pekerjaan ini. Jika tak sedang berada di butik, dia pasti sedang menjelajah berbagai tempat para pengrajin berburu bahan untuk kreasi berikutnya. 
Perlahan, nama Kinanti mulai dikenal sebagai desainer muda berbakat. Pelanggan butiknya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari sosialita, artis hingga istri pejabat. Kinanti semakin larut dalam pekerjaannya dan semakin mengabaikan keinginan ayahnya untu menjodohkannya dengan Prasetyo. Seperti malam ini, sepulang dari meeting dengan sebuah maskapai penerbangan yang ingin memberi order seragam untuk pramugarinya, Kinanti menolak dijemput Kasim dan memilih menghubungi Pras yang sudah kembali dari Australia. Meski menolak dijodohkan, tapi hubungan keduanya tak terpisahkan. Prasetyo sangat menyayangi Kinanti demikian pula sebaliknya dengan Kinanti. Tapi keduanya tetap sepakat menolak dijodohkan. Hari giniiii... gitu loooh!
"Hei Kermit, aku punya kabar gembira untukmu," Kinanti memang selalu memanggil Prasetyo dengan nama tokoh boneka kodok dari acara favorit mereka, The Muppet Show". "Memangnya ada kabar apa sih, Miss Piggy? Berhasil mengalahkan ayahmu berdebat soal perjodohan itu ya?"
"Lebih dari itu... Aku berhasil memenangkan tender baju seragam pramugari itu! Ayo kita rayakan... Aku traktir nasi goreng kambing kesukaanmu itu, mau?" 
"Ogah!Menang tender ratusan juta, kok beraninya cuma ntraktir nasi goreng kambing. Aku maunya ditraktir di tempat yang sepadan dengan jumlah uang yang bakal kau dapatkan." 
"Dasar, kurang pandai bersyukur kamu... Ayo, cepatan jemput aku di PS, sekarang. Nggak jauh kan dari kantormu..."
--------------------------
Keduanya menuju resto nasi goreng kambing langganan mereka dan menutup malam dengan segudang cerita dan kelakar mereka. Sayang, sebuah truk yang tak terkendali menabrak Kinanti yang akan menyeberang jalan menuju parkiran mobil. Prasetyo yang tak bisa menahan perasaannya ketika melihat tubuh Kinanti terjepit di bawah truk dan darah menutup pandangannya. 
Tim dokter memutuskan mengamputasi kaki kiri Kinanti. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan kaki yang telah hancur itu. Bagi Kinanti, keputusan dokter tersebut merupakan alasan yang paling tepat untuk menolak keinginan ayahnya. 
Operasi untuk mengamputasi kaki itu berjalan sangat lama bagi Prasetyo. Dia merasa sangat bersalah karena membiarkan peristiwa itu menimpa Kinanti. Dia tak memungkiri betapa dia sangat mencintai gadis itu meski seandainya Kinanti tak memiliki tangan dan kaki sekalipun.  Tak ada yang dapat menggantikan tempat gadis itu di hatinya meski waktu telah berkali-kali memisahkan mereka. 
Perlahan mata Kinanti mulai terbuka. Dia mulai siuman dan mendapati Prasetyo sedang menggenggam jemarinya. Hanya Prasetyo yang ada di kamar itu, tak ada orang lainnya, juga tak ada ayahnya. "Ayahmu, baru saja keluar dari ruangan ini. Semalaman dia menungguimu dan tak pernah beranjak dari sisimu. Dia bahkan terus menangis sambil membelai wajahmu. Dia sangat menyayangi kau, Kinanti."


"Apakah mereka telah mengangkatnya?"
"Ya"
"Apakah kini aku hanya memiliki sebelah kaki?"
"Tepat sekali."
"Apakah... apakah kau akan meninggalkan aku?" 
Prasetyo membelai tangan Kinanti dan mendekatkan tangan itu pada pipinya. 
"Ya... karena aku akan segera mengurus acara lamaran untukmu. Bersediakah kau, Kinanti?"
Kinanti memalingkan wajahnya. Ingin rasanya dia berlari sejauh-jauhnya seperti yang biasa dia lakukan kalau Prasetyo menggodanya. Tapi, kini dia takkan mungkin melakukannya. Kinanti yang dulu terjebak dalam tubuh yang gendut kini terperangkap dalam tubuh yang cacat.
"Apakah kau bermaksud menghinaku? Belum cukup puaskah kau melihat orang-orang yang dulu selalu menertawakan kita. Lihatlah keadaanku sekarang, Kermit! Aku ini telah cacat!Mereka telah mengambil  kakiku, Kermit!"
"Tapi mereka takkan mampu mengubah perasaanku padamu. Aku bersumpah, Miss Piggy, aku sangat-sangat-sangat-sangat mencintaimu, sejak dulu. Aku mencintaimu, apapun adanya dirimu. Bahkan meski mereka akan mengangkat kedua kakimu sekalipun, aku tetap mencintaimu." 
Serta merta Kinanti melempari Prasetyo dengan benda apapun yang dapat digapainya. "Jadi, kau mau aku tak punya kaki? Aku lebih membutuhkan kedua kakiku daripada cintamu... Karena aku bisa berlari mengejarmu jika kau tak sungguh-sungguh mencintaiku..." Kinanti mengucapkan kata-katanya yang terakhir dengan suara pelan, menahan malu.
"Kapan kita akan menikah, Miss Piggy?"
"Sesegera yang kau inginkan, asal..."
"Asal apa?"
"Kau mengatakan pada ayahku bahwa kita menikah bukan karena keinginannya, tapi karena kita saling mencintai. Itu pun kalau tak bohong memang benar mencintaiku, bukan karena kasihan padaku."
"Dasar Gembul! Ayo cepat sembuh dan tinggalkan rumah sakit ini, karena aku sudah tahu hadiah apa yang pas untuk ulang tahunmu bulan depan."
"Kau ingin memberiku hadiah cincin pertunangan ya?"
"Tentu bukan, dong... melainkan sebuah kaki palsu..."
Keduanya tertawa bahagia tanpa mengetahui kalau ada dua orang yang menangis terharu di balik pintu ruang perawatan itu. Kedua laki-laki itu saling berpelukan dan membayangkan kalau beberapa bulan mendatang mereka akan menjadi besan. 
---------------------------


Foto : Google Images



Tidak ada komentar:

Posting Komentar