Pages

Sabtu, 06 Juni 2015

5 Penulis Yang Merancang Kematiannya Sendiri

The real reason for not committing suicide is because you always know how swell life gets again after the hell is over (Ernest Hemingway)
Kehidupan penulis, ternyata tidak seindah kisah yang mereka tuliskan. Penulis terkenal berikut ini bahkan menjadikan kematian mereka sebagai karya master piece yang terakhir. Sylvia Plath, salah satunya. Penulis perempuan berbakat ini  telah menghasilkan karya-karya hebat sejak usianya masih sangat belia.  Selain menulis puisi,  kelahiran 27 Oktober 1932 ini juga menulis novel, essay serta buku anak dengan menggunakan nama pena Victoria Lucas. Setelah memiliki dua anak, depresi mengantarkannya pada beberapa kali percobaan bunuh diri, hingga akhirnya dia berhasil melakukannya pada 11 Februari 1963. Peraih Pulitzer Prize for Poetry untuk buku kumpulan puisinya The Collected Poems ini ditemukan tewas di dapur rumahnya dengan kepala berada di dalam oven.
Kematian Sylvia Plath yang tragis, menggoda Jennifer Yaros melacak puisi-puisi Plath, terutama lima puisi yang terhimpun dalam The Collected Poems. Menurut Jennifer, dalam puisi berjudul "Elm", "Lady Lazarus", "Words", "Contusion" dan "Edge", telah terlihat indikasi keinginan Plath untuk bunuh diri. Bahkan psikolog Steven Gould Axelrod menyimpulkan bahwa kelima puisi tersebut adalah puisi pengakuan, ibarat otobiografi krisis yang menyingkap bagaimana depresi internal dan tekanan sosial yang dialami Plath.  Dalam catatan hariannya di tanggal 3 Oktober 1959, Plath menulis,  “Hari yang amat menekan. Aku tak bisa menulis apapun..."
Cara kematian yang dipilih Plath ternyata menginspirasi penyair perempuan lainnya. Setelah membaca kisah bunuh diri yang dilakukan Plath, Anne Sexton langsung memutuskan kematiannya sendiri. Dengan mengenakan mantel bulu milik ibunya, pemenang Pulitzer for Poetry tahun 1967 untuk bukunya yang berjudul "Live or Die" ini duduk di kursi mobil dan menyalakan mesinnya. Asap pun segera memenuhi garasi yang memang segaja ditutup rapat. Anne yang lahir di Newton, Massachusetts, 9 November 1928 ini ditemukan meninggal dunia di garasi mobilnya pada 4 Oktober 1974. 
Selain Plath dan Anne, Virginia Woolf juga merancang kematiannya sendiri. Pada 28 Maret 1941, Woolf mengisi saku mantelnya dengan bebatuan lalu berjalan menuju River Ouse yang tak jauh dari rumahnya. Dia  kemudian melompat ke arus sungai dan menenggelamkan dirinya. Jasad penulis novel, kumpulan cerita pendek dan naskah drama komedi ini baru ditemukan pada 18 April 1941. Woolf merasa terpukul setelah kematian ibunya, saudara tirinya dan ayahnya dalam rentang waktu yang demikian cepat. Setelah menyelesaikan manuskrip novel terakhirnya, Between the Acts, yang diterbitkan setelah kematiannya atau posthmous, Woolf merasa harus mengakhiri semua tekanan yang dihadapinya. Woolf juga menulis surat kepada suaminya, Leonard Woolf," Aku merasa pasti bahwa aku menjadi gila lagi. Aku mulai mendengar suara-suara dan aku tidak bisa berkonsentrasi. Suaminya pun memakamkan Woolf di bawah sebatang pohon di taman rumah mereka di Rodmell, Sussex, Inggris.

Bunuh diri tidak hanya dilakukan penulis perempuan yang merasa tertekan secara psikis, tapi juga menjadi pilihan penulis pria berbakat seperti David Foster Wallace. Penulis Postmodern yang dikenal dengan novel-novel satir ini ditemukan tidak bernyawa di rumahnya. Kematiannya di usia yang masih 46 tahun membuat banyak orang mencoba menarik benang merah antara kehidupan Wallace dengan karya-karyanya, seperti "Death is not the End, Suicide as a Sort of Present" dan "The Depressed Person", ternyata bukan sekadar fiksi belaka melainkan gambaran dari kesehariannya. 
Seperti halnya Plath, kematian baru menjemput penulis cerita pendek "A Natural History of the Dead", setelah dia mencoba melakukan beberapa kali upaya bunuh diri. Pengalamannya maju ke medan perang di Italia, membuat Ernest Hemingway melihat banyak peristiwa kematian, tapi peraih nobel di bidang sastra ini ingin memilih kematian dengan caranya sendiri. Menjelang ulang tahunnya yang ke-62, pada  2 Juli 1961, penulis novel yang dibaca puluhan juta orang di dunia, "The Old Man and The Sea" ini  menarik pelatuk pistolnya dan menutup kisah hidupnya dengan antiklimaks. Mendengar kematian Hemingway, Anne Sexton justru memberi aplaus atas tindakan bunuh diri yang dilakukan Heminway ini. Beberapa bulan kemudian,  dia pun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. 




6 komentar:

  1. Tragis banget ya, Mbak Ade... Kesuksesan juga bisa bikin orang depresi dan berpikir untuk bunuh diri. :( ira

    BalasHapus
  2. tenar, sukse, tapitidak bahagia, ruang jiwanya kosong, jatuhnya bundir. sayang sekali ya...

    BalasHapus
  3. iya mba ira... karena tidak semua orang jg bisa menerima kesuksesan...

    BalasHapus
  4. Rebellina Santi... padahal saya sendiri banyak terinspirasi oleh qoute yang ditulis oleh Ernest Hemingway... hiks

    BalasHapus
  5. Rebellina Santi... padahal saya sendiri banyak terinspirasi oleh qoute yang ditulis oleh Ernest Hemingway... hiks

    BalasHapus
  6. iya mba ira... karena tidak semua orang jg bisa menerima kesuksesan...

    BalasHapus