Pages

Kamis, 11 Juni 2015

Suara Dari Masjid

Ini bukan soal bid'ah tapi bagaimana indahnya kalau suara yang terdengar dari masjid dan musolla tidak mengganggu kenyamanan bagi yang mendengarnya. 
Jam belum menunjukkan pukul 9 pagi ketika terdengar suara mic yang diketuk-ketuk. "Test...Test... 123.." Tak lama kemudian, menggemalah suara yang "maaf" sangat sumbang di telinga, memanggil para ibu-ibu anggota majelis taklim untuk segera datang ke musholla. "Ayo bu... yang lagi masak, ditinggal dulu bae, buruan, bu... ibu ustazah sudah dari tadi duduk anteng di sini." Seraya menunggu semuanya datang, ibu tersebut menyenandungkan shalawat nabi yang jangankan indah di telinga tapi sama sekali berantakan lafaznya. Hal ini terus saya alami setiap hari Rabu, selama tiga tahun saya menetap di perumahan tempat saya tinggal sebelum pindah ke rumah yang sekarang. Mulai dari memanggil anggota berkumpul, hingga pengumuman yang seringkali tidak ada manfaatnya bagi warga sekitar yang terimbas suara mereka, semuanya dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Awalnya, saya merasa kondisi ini merupakan hal yang sangat dilematis buat saya. Ingin komplain khawatir dianggap melecehkan agama, tapi jujur, di hati kecil saya, sungguh saya merasa kurang nyaman dengan suara-suara tersebut. 
Kalau menurut saya pribadi, hubungan dengan Allah itu sangat sakral dan perlu suasana yang khusuk. Urusan mencari ilmu akhirat tak perlu disatukan dengan urusan arisan dan iuran seragam untuk menghadiri pengajian. 
Saya justru menemukan suasana yang jauh lebih menentramkan ketika menunggui putri saya belajar mengaji di musholla tempat tinggal saya saat ini. Tingkah suara anak-anak yang membacakan lembar-lembar iqra jauh lebih merdu ketimbang ibu-ibu pengajian yang mengumbar kaji mereka dengan suara yang membahana keliling kampung. 
Saya tidak sedang membahas masalah bid'ah, karena saya bukan orang yang memiliki kapasitas keilmuan mengenai hal itu. Di masa Rasulullah Saw tentu saja belum ada mic dan speaker. Sehingga tidak ada dalil yang bisa dijadikan rujukan untuk membahas masalah ini. Konon, ketika masjid-masjid mulai menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan suara azan, sempat terjadi penolakan keras karena menganggap pengeras suara ini bid'ah. 
Tapi, kini, tidak ada masjid bahkan musholla, surau hingga langgar sekalipun yang tidak memanfaatkan teknologi ini. Selain untuk mengumandangkan azan hingga bisa terdengar hingga jarak yang jauh, pengeras suara juga sangat bermanfaat agar makmum yang berada di barisan paling belakang bisa mendengarkan suara Imam. 
Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, Lc, MA,  pengeras suara juga bisa membantu para warga yang berhalangan menghadiri pengajian di masjid dan musholla untuk bisa tetap mendengarkannya dari rumah. Selain itu juga dimanfaatkan untuk berbagai pengumuman lainnya, termasuk mengabarkan berita duka cita. "Namun semua itu hanya itu diizinkan bila sudah dipastikan tidak mengganggu orang lain. Baik muslim maupun non muslim yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan masjid. Apalagi bila ada anggota keluarganya yang kebetulan sedang kurang sehat maupun anak-anak yang terganggu ketenangan tidurnya karena sound system yang over."
Penulis buku Seri Fiqih Kehidupan ini juga menambahkan kalau mengganggu ketenangan orang lain, meski dengan suara dari masjid, tetap saja tidak diperbolehkan. 
Hal yang memilukan jika pengeras suara di masjid itu digunakan untuk meminta sumbangan dicampur dengan bahasa kelakar yang jauh dari nilai-nilai Islam. 
Sementara itu Prof.Dr.M.Quraish Shihab, MA menjelaskan bahwa suara memiliki pengaruh bagi jiwa seseorang dan kurang baik jika dikumandangkan pada waktu yang tidak tepat atau suara yang sumbang. Azan, doa bersama, pembacaan Alquran dianjurkan dengan suara yang dapat menggugah pendengarnya untuk berkenan memenuhi panggilan Illahi, bukan sebaliknya. Itu sebabnya, Alquran mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya, yaitu, " Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan  lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai." (Q.S. Luqman : 19).  Dalam membaca ayat-ayat Alquran atau berdoa, Allah Swt juga  memerintahkan, "Janganlah mengeraskan suaramu dalam salat dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (Q.S Al-Isra' : 110). Itulah sebabnya berdoa dan membaca Alquran tidak harus dengan pengeras suara. "Tapi tidak ada salahnya kita menggunakannya pada saat-saat tertentu selama tidak mengganggu, terutama mengganggu anak-anak, orang sakit serta kaum Muslim yang bangun di awal pagi  untuk berzikir dan tafakur," jelas Quraish Shihab dalam kajian tentang mengaji dengan pengeras suara. 

Bagi saya, bermesraan dengan Allah  membutuhkan suasana intim yang benar-benar bisa membuat saya larut bersama-Nya. Islam itu teramat indah, dengan kumandang azan dan lantunan ayat suci yang dikumandangkan pada saat yang tepat dan suara yang membuat siapapun tersentuh hingga ke dasar kalbunya. 







Ketika Anjing Bernama Kucing

Entah kenapa Imam Besar yang satu ini, justru lebih lucu berkali-kali lipat dari seorang komik. Bahkan anjing pun dibuatnya krisis identitas dan seekor Kucing dibuatnya menggongong. 
Saat menunggui putri saya yang sedang mengikuti Workshop menulis KKPK di MP Book Point, 2008 silam, saya memilih membaca di cafe sekaligus toko buku itu. Sialnya saya, buku yang saya ambil untuk "killing time" itu berjudul Drunken Monster, sebuah cacatan harian dari seorang yang bernama Pidi Baiq. Bagaimana tidak sial, buku itu ternyata benar-benar sangat berbahaya dan membuat saya terjebak dalam cinta bukan pada pandangan pertama, melainkan pada kata pertama yang dituliskan orang yang memanggil dirinya Ayah. Orang ini memaksa saya nyaris membagi cinta saya dari seorang laki-laki yang saya panggil sayang Ayah dengan dirinya yang dengan pede menyebut dirinya Ayah. Sial saya semakin bertambah kuadratnya karena buku yang ditulis orang ini bukan hanya satu di toko itu , tapi ada juga Drunken Molen dan Drunken Mama yang benar-benar memaksa saya untuk memilikinya. Lagi-lagi sial, karena Ayah yang saya sayangi juga jatuh cinta padanya. Dia memang sangat - sangat - sangat berbahaya dan telah mengintervensi bentuk cinta saya dan Ayah Sayang saya. Dan kini, lewat Dilan, dia mulai coba-coba mendekati putri saya yang sebentar lagi menjadi siswi SMA. Oh, NO! Tidak hanya Dilan edisi 1990, racunnya makin meluas dengan Dilan di tahun 1991. Please, enough!!!



Setelah bertahun-tahun menyimpan dendam kesumat pada Ayah dari Timur dan Bebe ini, akhirnya Mizan mempertemukan saya dengan pendiri Negara Kesatuan Republik The  Panasdalam yang akibat perubahan politik di negeri ini kini telah menjadi Daerah Khusus The Panasdalam. Tapi dendam saya menggumpal menjadi hasrat membawanya  pulang ke rumah untuk mengganti posisi buku-buku tulisannya di rak buku saya. Soalnya, sumpah mati, orangnya jauuuuuuh lebih lucu dari bukunya!!! 
Di acara Temu Jurnalis, Blogger dan Penulis 2015 bertajuk #RayakanIndonesiamu: Ribuan Pulau Kebaikan yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan, Pidi berceloteh tentang banyak hal, termasuk kenapa dia memberi nama anjingnya dengan nama Kucing. Hal itu tak pelak membuat beberapa tetangganya keberatan dan menegurnya," Itu miara anjing, ngga boleh masuk ke rumah karena nanti malaikat ngga mau masuk ke rumah. " Si Ayah Surayah ini malah ngeyel menjawab,"Jangankan anjing, nyamuk juga ngga saya kasih masuk ke rumah." Tapi tetangganya juga lebih ngeyel," jilatan anjing itu haram." Eh, dia malah nantangin," jangankan anjing, teman saya kalau jilat, saya tampar!" 
Masalah pemberian nama Kucing untuk anjingnya, juga membuat anjingnya jadi krisis identitas. Karena cuma dia kucing yang kalau dipanggil mengonggong. Apalagi tuannya yang belagu itu juga suka khilaf menyebutnya anjing. Jadi, sekali lagi, memberi nama kucing buat seekor anjing itu juga bisa membuat si anjing memusuhi dirinya sendiri. Karena dari jaman dulu, kucing itu musuhnya anjing. 
Mengingat acara tersebut juga sekaligus memperkenalkan Gerakan Islam Cinta, Pidi bercerita pengalamannya tentang pandangan tentang Islam yang sering berlebihan. Tentang bagaimana orang yang membawa-bawa agama ke ranah politik. "Ada yang bertanya, apakah saya suka Jokowi? Tentu saja ini dilema, karena teman dan saudara saya juga mempunyai pilihan masing-masing dan saya ngga mau jawaban saya jadi melebar, jadi saya jawab saja," Saya kan laki-laki."
Tentang bakwan yang pernah dia beli tanpa bayar waktu sekolah juga bisa jadi tidak membawanya bermasalah di hari pembalasan nanti." Kalau malaikat nanya soal bakwan itu, saya akan jawab, itu kan masalah di dunia, jangan dibawa-bawa ke akhirat dong..."
Tapi laki-laki yang dengan kekonyolan dan tulisan tanpa bebannya itu telah membuat banyak orang kepincut itu ternyata juga bisa bernyanyi. Maklumlah, dia juga pendiri The Panasdalam Band yang masih karena perubahan politik kini menjadi The Panasdalam Bank. Usaha simpan pinjam, dimana orang bisa menyimpan uang untuk mereka pinjam. Dia membawakan dua lagu, "Jangan Takut" dan "Bayangkan Tanpa Nia"
Lagu "Jangan Takut" itu dia tulis untuk anaknya Timur yang jadi takut gara-gara nonton acara Uji Nyali di tv. Liriknya kira-kira seperti ini," Jangan takut polisi, kalau tidur, kita gilas. Jangan Takut Mike Tyson, tuanya nanti parkinson. Jangan takut tetangga, rumah kita pakai pagar. Tapi takutlah kalau kau ngga punya teman, hidupmu jadi sunyi sendiri. Jangan takut Ibu, uang ibu dari Ayah. Jangan takut Ayah, Ayah takut sama Ibu..." itu yang saya ingat dan bikin saya ngakak, sengakak-ngakaknya. 
Sedangkan lagu Bayangkan Tanpa Nia, lebih gokil lagi, karena dunia tanpa Nia akan jadi Du... hahaah.
Terimakasih Mizan, dendam saya terbalaskan tuntas, meski tak sempat foto bareng. 


foto: google images


Senin, 08 Juni 2015

Keinginan Ayah

Ketika dokter memutuskan untuk mengamputasi salah satu kakinya, Kinanti justru mendapatkan alasan untuk menolak keinginan Ayahnya...
Sudah lama sekali Haji Jamaluddin ingin menikahkan Kinanti, putri semata wayangnya dengan Prasetyo, anak sahabatnya. Bagi Haji Jamaluddin, Prasetyo adalah pasangan yang tepat untuk Kinanti, Semua yang ada pada diri laki-laki muda itu sangat sesuai dengan apa yang diharapkannya sebagai syarat menjadi menantunya. Selain tampan, Prasetyo juga memiliki kemampuan akademik yang cukup membanggakan. Dia baru saja lulus dengan predikat cumlaude dari sebuah universitas bergengsi di Australia. Harapan Haji Jamaluddin untuk seseorang yang dapat diandalkan dalam  menjalankan perusahaannya , semua dimiliki Prasetyo. 
Tapi sayangnya, Kinanti justru menolak dengan keras keinginannya itu. Dengan alasan yang selalu berubah-ubah setiap kali ditanya, Kinanti tetap tidak ingin dijodohkan dengan Prasetyo. Kinanti seolah memiliki berjuta-juta persediaan alasan untuk menolak rencana perjodohan itu. Mulai dari belum memikirkan soal pernikahan hingga dalih bahwa sudah menganggap Prasetyo seperti saudaranya sendiri. 
Kinanti memang memiliki watak yang keras. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan. Sejak kanker rahim merenggut nyawa Ibunya, Kinanti seolah menutup dirinya untuk siapapun. Termasuk pada sang Ayah yang memilih tidak menikah demi mengasuh sendiri Kinanti kecilnya. Kinanti yang saat itu masih berusia lima tahun sangat terpukul dengan kepergian Ibunya. 
Kini, sudah lebih dari dua puluh tahun Ibunya berpulang, dan Haji Jamaluddin ingin ada seseorang yang bisa membahagiakan buah hatinya itu. Seseorang selain dirinya. 
Haji Jamaluddin sangat menyadari kalau bukanlah hal mudah menaklukan hati Kinanti. Dia memang tidak bisa diandalkan untuk mengasuh Kinanti. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membesarkan perusahaannya daripada anaknya sendiri. Kinanti pun tumbuh dari satu pengasuh ke pengasuh lainnya. Jarang ada pengasuh yang bertahan lebih dari sebulan karena Kinanti tidaklah semanis anak-anak lain seusianya. Selain menutup diri, Kinanti juga bisa melakukan apa saja untuk menolak siapapun yang ingin mendekati dirinya. Dia hanya menginginkan Ibunya kembali padanya dan itu takkan mungkin dapat terjadi.

Hanya prasetyo yang mampu mengambil hati Kinanti di saat tak satu pun anak lain berkenan melakukannya. Ketika Kinanti menangis karena salah seorang temannya mengejek badannya yang gendut, Prasetyo ada untuk menghiburnya. Di saat Kinanti marah karena Ayahnya tak pernah punya waktu untuknya, Prasetyo hadir untuk menemaninya. Ketika semua orang menganggapnya gadis yang aneh, Prasetyo tak pernah meninggalkannya. Tapi itu semua tak mampu mengubah pendirian Kinanti. Dia tetap menolak perjodohan itu, meski dengan segala hal yang telah dilakukan Prasetyo untuknya. 
             -----------------------
Setelah menyelesaikan SMA-nya, Kinanti meminta izin pada Ayahnya untuk melanjutkan sekolah ke Perancis. Dia memilih sekolah mode, suatu bidang yang tidak ada sedikitpun kaitannya dengan usaha yang dijalankan Ayahnya. Selama bertahun-tahun hubungan ayah dan anak ini hanya disatukan oleh surat-surat elektronik dengan bahasa yang formal. Mereka jarang bertelepon kecuali di hari-hari istimewa, ulang tahun Kinanti, ulang tahun Haji Jamaluddin, lebaran atau ketika sala seorang dari mereka merasa penting untuk bertukar kabar. Kinanti kemudian memutuskan menunda kepulangannya ke Indonesia, meski sudah dua tahun menyelesaikan pendidikannya. Dia memilih bekerja di sebuah rumah mode milih seorang perempuan berkebangsaan India. 
Haji Jamaluddin kembali melanjutkan hidupnya seorang diri. Di saat-saat tanpa Kinanti di sisinya, Prasetyo tetap setia menemaninya bila dia sedang tak memiliki kesibukan. Bagaimana mungkin Haji Jamaluddin tak mengangap penting arti seorang Prasetyo di hatinya...
"Aku sangat ingin anakku merasa dirinya berarti seperti halnya aku sekarang ini. Dan Prasetyolah orang yang kuanggap mampu melakukannya. Kalau kau berada di posisiku  saat ini, kau pun pasti bisa memahami apa yang kurasakan." Haji Jamaluddin tak mampu lagi menahan hasrat untuk mengutarakan niatnya menjodohkan Prasetyo dengan Kinanti. Bambang, sahabatnya sekalgus ayah dari Prasetyo hanya termangu sejenak tapi kemudian segera berkata," Bagaigama halnya dengan Kinanti, Mal? Sudahkah kau sampaikan hal itu padanya? Tentang Prasetyo itu biar menjadi urusanku." 
"Aku tak pernah punya kesempatan membicarakan hal ini dengannya. Dia selalu mencari alasan untuk menghindari pembicaraan tentang keinginanku ini. Anak itu memang tak pernah bisa kumengerti apa yang ada di dalam kepalanya. Padahal, seumur hidupnya dia hanya memiliki aku dan Prasetyo."
Bambang menepuk pundak sahabatnya dengan lembut dan merangkulnya. Sejak dua tahun terakhir ini, dia menjadi semakin dekat dengan sahabatnya itu. Kepergian istrinya karena penyakit yang sama dengan yang dialami ibunya Kinanti, membuatnya semakin lebih memahami mengapa sahabatnya itu demikian rapuh dan hampa. 
"Bersabarlah kawan, kita akan mencari waktu yang tepat untuk membahas hal ini dengan kedua anak kita. Sekarang, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Bukankah besok pagi kau harus menjemput Kinanti ke airport?"
Haji Jamaluddin bangkit dari duduknya dan berjalan lemah, seolah tak ada sekerat tulang pun yang menyangga tubuhnya. Dengan cepat,  Kasim, supir pribadinya, menggamit lengan Haji Jamaluddin menuju mobil. Mereka melaju menuju rumah yang tak punya warna. Hampa. 
--------------------------
Kepulangan Kinanti ke Indonesia disambut dengan kepergian Prasetyo melanjutkan kuliahnya ke Australia. Kembali tahun-tahun memisahkan keduanya dengan menyisihkan harapan besar di hati ayah-ayah mereka. Rencana perjodohan itu.
Kehidupan Perancis yang serba bebas ternyata tak mampu mengalahkan jiwa Kinanti. Dia bahkan pulang dengan penampilan yang sangat jauh berbeda. Tubuhnya yang dulu gendut, kini langsing dan stylish. Sifat individualistisnya juga berangsur menjadi lebih toleran terhadap orang lain. Kinanti ternyata tidak hanya berganti penampilan tapi juga seluruh yang ada di dalam dirinya. Kecuali satu hal, dia tetap menolak rencana perjodohan dengan Prasetyo. Apalah gunanya semua perubahan itu bagi Haji Jamaluddin, jika hati Kinanti tetap sekeras batu karang. "Apalagi yang membuatmu tetap menolak perjodohan ini, nak? Kau toh telah mengenal Prasetyo dengan cukup baik. Atau... apaka kau sudah memiliki calon yang lain?"
"Aku belum mau menikah, Ayah. Berapa kalikah harus aku jelaskan kalau aku belum mau menikah? Mohonlah Ayah bisa memahami keinginanku ini, tanpa terus memaksakan keinginan Ayah padaku."
"Apa lagi yang kau tunggu, nak. Usiamu sudah cukup untuk menikah. Sementara Ayah belum tentu punya umur untuk melihatmu berkeluarga, hidup bahagia dengan suami dan anak-anak yang menyayangimu."
"Tapi Pras terlalu sempurna untukku, Ayah. Aku tak pantas hidup berdampingan dengannya. Dari dulu orang-orang selalu memandang aneh jika melihat kami jalan berdua. Mereka selalu mengatakan betapa tak pantasnya anak perempuan yang gendut itu berdampingan dengan anak lelaki yang tampan itu. Sungguh aku tak sebanding untuk dia, Ayah..."
Haji Jamaluddin bangkit dari duduknya dan memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia lupa kapan terakhir memeluk anaknya sehangat ini. Dia bahkan tak ada di sisi Kinanti ketika anak-anak usil itu mengejek tubuh Kinanti yang gendut tak berbentuk. Kini, dia tiba-tiba hadir untuk memaksakan keinginannya pada buah hatinya itu. "Ma'afkan Ayah, nak. Tapi cobalah kau lihat bagaimana dirimu sekarang ini? Anak perempuan gendut itu kini tidak ada lagi. Tak ada siapapun yang berani mengatai dirimu lagi. Lihatlah betapa cantiknya kau sekarang ini."
"Tapi aku tetap bukan jodoh yang sepadan buat Pras, Ayah. Kecuali jika dia terpaksa menuruti kemauan ayah dan ayahnya. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi dimana orangtua bisa memasuki dengan seenaknya ranah pribadi anaknya. Biarkanlah Pras pun memilih jodohnya sendiri, demikian pula halnya dengan aku." 
Pembicaraan malam itu kembali berakhir dengan kekecewaan yang dalam di hati Haji Jamaluddin. Kinanti tetap menolak perjodohannya dengan Prasetyo.
---------------------------
Sudah beberapa bulan terakhir ini Kinanti membuka butik kecil di sebuah pusat perbelanjaan. Dia sangat menikmati pekerjaannya ini dan menghabiskan hampir sepanjang waktunya untuk pekerjaan ini. Jika tak sedang berada di butik, dia pasti sedang menjelajah berbagai tempat para pengrajin berburu bahan untuk kreasi berikutnya. 
Perlahan, nama Kinanti mulai dikenal sebagai desainer muda berbakat. Pelanggan butiknya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari sosialita, artis hingga istri pejabat. Kinanti semakin larut dalam pekerjaannya dan semakin mengabaikan keinginan ayahnya untu menjodohkannya dengan Prasetyo. Seperti malam ini, sepulang dari meeting dengan sebuah maskapai penerbangan yang ingin memberi order seragam untuk pramugarinya, Kinanti menolak dijemput Kasim dan memilih menghubungi Pras yang sudah kembali dari Australia. Meski menolak dijodohkan, tapi hubungan keduanya tak terpisahkan. Prasetyo sangat menyayangi Kinanti demikian pula sebaliknya dengan Kinanti. Tapi keduanya tetap sepakat menolak dijodohkan. Hari giniiii... gitu loooh!
"Hei Kermit, aku punya kabar gembira untukmu," Kinanti memang selalu memanggil Prasetyo dengan nama tokoh boneka kodok dari acara favorit mereka, The Muppet Show". "Memangnya ada kabar apa sih, Miss Piggy? Berhasil mengalahkan ayahmu berdebat soal perjodohan itu ya?"
"Lebih dari itu... Aku berhasil memenangkan tender baju seragam pramugari itu! Ayo kita rayakan... Aku traktir nasi goreng kambing kesukaanmu itu, mau?" 
"Ogah!Menang tender ratusan juta, kok beraninya cuma ntraktir nasi goreng kambing. Aku maunya ditraktir di tempat yang sepadan dengan jumlah uang yang bakal kau dapatkan." 
"Dasar, kurang pandai bersyukur kamu... Ayo, cepatan jemput aku di PS, sekarang. Nggak jauh kan dari kantormu..."
--------------------------
Keduanya menuju resto nasi goreng kambing langganan mereka dan menutup malam dengan segudang cerita dan kelakar mereka. Sayang, sebuah truk yang tak terkendali menabrak Kinanti yang akan menyeberang jalan menuju parkiran mobil. Prasetyo yang tak bisa menahan perasaannya ketika melihat tubuh Kinanti terjepit di bawah truk dan darah menutup pandangannya. 
Tim dokter memutuskan mengamputasi kaki kiri Kinanti. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan kaki yang telah hancur itu. Bagi Kinanti, keputusan dokter tersebut merupakan alasan yang paling tepat untuk menolak keinginan ayahnya. 
Operasi untuk mengamputasi kaki itu berjalan sangat lama bagi Prasetyo. Dia merasa sangat bersalah karena membiarkan peristiwa itu menimpa Kinanti. Dia tak memungkiri betapa dia sangat mencintai gadis itu meski seandainya Kinanti tak memiliki tangan dan kaki sekalipun.  Tak ada yang dapat menggantikan tempat gadis itu di hatinya meski waktu telah berkali-kali memisahkan mereka. 
Perlahan mata Kinanti mulai terbuka. Dia mulai siuman dan mendapati Prasetyo sedang menggenggam jemarinya. Hanya Prasetyo yang ada di kamar itu, tak ada orang lainnya, juga tak ada ayahnya. "Ayahmu, baru saja keluar dari ruangan ini. Semalaman dia menungguimu dan tak pernah beranjak dari sisimu. Dia bahkan terus menangis sambil membelai wajahmu. Dia sangat menyayangi kau, Kinanti."


"Apakah mereka telah mengangkatnya?"
"Ya"
"Apakah kini aku hanya memiliki sebelah kaki?"
"Tepat sekali."
"Apakah... apakah kau akan meninggalkan aku?" 
Prasetyo membelai tangan Kinanti dan mendekatkan tangan itu pada pipinya. 
"Ya... karena aku akan segera mengurus acara lamaran untukmu. Bersediakah kau, Kinanti?"
Kinanti memalingkan wajahnya. Ingin rasanya dia berlari sejauh-jauhnya seperti yang biasa dia lakukan kalau Prasetyo menggodanya. Tapi, kini dia takkan mungkin melakukannya. Kinanti yang dulu terjebak dalam tubuh yang gendut kini terperangkap dalam tubuh yang cacat.
"Apakah kau bermaksud menghinaku? Belum cukup puaskah kau melihat orang-orang yang dulu selalu menertawakan kita. Lihatlah keadaanku sekarang, Kermit! Aku ini telah cacat!Mereka telah mengambil  kakiku, Kermit!"
"Tapi mereka takkan mampu mengubah perasaanku padamu. Aku bersumpah, Miss Piggy, aku sangat-sangat-sangat-sangat mencintaimu, sejak dulu. Aku mencintaimu, apapun adanya dirimu. Bahkan meski mereka akan mengangkat kedua kakimu sekalipun, aku tetap mencintaimu." 
Serta merta Kinanti melempari Prasetyo dengan benda apapun yang dapat digapainya. "Jadi, kau mau aku tak punya kaki? Aku lebih membutuhkan kedua kakiku daripada cintamu... Karena aku bisa berlari mengejarmu jika kau tak sungguh-sungguh mencintaiku..." Kinanti mengucapkan kata-katanya yang terakhir dengan suara pelan, menahan malu.
"Kapan kita akan menikah, Miss Piggy?"
"Sesegera yang kau inginkan, asal..."
"Asal apa?"
"Kau mengatakan pada ayahku bahwa kita menikah bukan karena keinginannya, tapi karena kita saling mencintai. Itu pun kalau tak bohong memang benar mencintaiku, bukan karena kasihan padaku."
"Dasar Gembul! Ayo cepat sembuh dan tinggalkan rumah sakit ini, karena aku sudah tahu hadiah apa yang pas untuk ulang tahunmu bulan depan."
"Kau ingin memberiku hadiah cincin pertunangan ya?"
"Tentu bukan, dong... melainkan sebuah kaki palsu..."
Keduanya tertawa bahagia tanpa mengetahui kalau ada dua orang yang menangis terharu di balik pintu ruang perawatan itu. Kedua laki-laki itu saling berpelukan dan membayangkan kalau beberapa bulan mendatang mereka akan menjadi besan. 
---------------------------


Foto : Google Images



Minggu, 07 Juni 2015

Ketika Bocah Muslim Belajar Salat Pada Elsa (Frozen) dan Naruto

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengganggu bisnis atau usaha orang lain, tapi hanya curahan hati seorang Ibu yang menolak mukena bergambar tokoh kartun...



Bulan Ramadan semakin dekat. Saya mulai mempersiapkan kebutuhan untuk menunaikan ibadah di bulan yang mulia ini. Salah satunya, membeli mukena untuk Jingga, putri saya yang berusia 10 tahun karena hampir semua mukenanya sudah sempit. Tapi sesampainya di pusat grosir busana muslim yang ada di Depok, mendadak kepala saya menjadi pusing dan dada menjadi sesak... Bayangkan saja, di antara sekian banyak toko yang ada di sini, saya justru kesulitan mencari mukena berwarna putih. Hampir semua toko menjual mukena bergambar tokoh kartun, mulai dari tokoh kartun Frozen yang lagi disukai anak-anak, hingga Naruto. Ironisnya, para pembuat mukena ini juga mendesain sajadah bergambar pasangan Ana dan Kristoff. Rasa frustrasi yang sama juga saya dapatkan saat mencoba membeli di toko online. Saya tidak tahu harus sedih, miris, atau marah melihat tren mukena anak saat ini. Kalau busana muslim anak bergambar tokoh kartun, saya masih bisa menolerirnya, tapi mukena dan sajadah bergambar tokoh kartun... bagi saya pribadi, ini sama dengan pelecehan!


Saat saya ceritakan apa yang membuat hati saya gundah ini, salah seorang tetangga saya justru mengatakan bahwa anak perempuannya termotivasi untuk salat setelah dibelikan mukena bergambar princess dari Disney. "Lucunya anak saya pikir  Cinderella itu sudah jadi mualaf makanya  dijadikan model untuk mukena,"ujar tetangga saya itu sambil tergelak. Berhasil memotivasi anak perempuannya untuk salat karena mukena bergambar Cinderella, dia pun melakukan hal yang sama untuk anak laki-lakinya dengan membelikan sajadah bergambar Superman. 

Masih merasa galau, saya lalu bertanya kepada ustazah Nurhayati yang biasa memberi kajian Alquran setiap Kamis di kompleks rumah saya. Ternyata si ustazah juga merasakan keprihatinan yang sama dengan saya. Menurut beliau, banyak cara lain untuk memotivasi anak melaksanakan ibadah salat. Bisa dengan memberi teladan kepada anak tentang pentingnya salat maupun lewat kisah-kisah Alquran. Beliau juga menambahkan kalau banyak riwayat yang menyampaikan tentang larangan menggambar makhluk bernyawa seperti binatang dan manusia. Apalagi jika menjadi atribut melaksanakan ibadah. 
Kembali ke soal mukena untuk Jingga, akhirnya saya memilih membeli mukena putih untuk orang dewasa yang kemudian saya kecilkan bagian wajahnya sehingga bisa dipakai Jingga. Bagaimana pun kunci ibadah adalah kekhusukan, bukan hanya kekhusukan yang mengenakan mukena bergambar tokoh kartun tapi juga kekhusukan orang lain yang salat di belakang atau di sebelah kanan dan kirinya. Apalagi penampilan tokoh kartun, terutama Barbie dan princess Disney terkesan seksi dan mengumbar aurat. Sekali lagi ini hanya pandangan saya semata tanpa bermaksud menghalangi siapapun untuk meraup rezeki dari bisnis seperti ini. 



foto ilustrasi : google images 


Sabtu, 06 Juni 2015

5 Penulis Yang Merancang Kematiannya Sendiri

The real reason for not committing suicide is because you always know how swell life gets again after the hell is over (Ernest Hemingway)
Kehidupan penulis, ternyata tidak seindah kisah yang mereka tuliskan. Penulis terkenal berikut ini bahkan menjadikan kematian mereka sebagai karya master piece yang terakhir. Sylvia Plath, salah satunya. Penulis perempuan berbakat ini  telah menghasilkan karya-karya hebat sejak usianya masih sangat belia.  Selain menulis puisi,  kelahiran 27 Oktober 1932 ini juga menulis novel, essay serta buku anak dengan menggunakan nama pena Victoria Lucas. Setelah memiliki dua anak, depresi mengantarkannya pada beberapa kali percobaan bunuh diri, hingga akhirnya dia berhasil melakukannya pada 11 Februari 1963. Peraih Pulitzer Prize for Poetry untuk buku kumpulan puisinya The Collected Poems ini ditemukan tewas di dapur rumahnya dengan kepala berada di dalam oven.
Kematian Sylvia Plath yang tragis, menggoda Jennifer Yaros melacak puisi-puisi Plath, terutama lima puisi yang terhimpun dalam The Collected Poems. Menurut Jennifer, dalam puisi berjudul "Elm", "Lady Lazarus", "Words", "Contusion" dan "Edge", telah terlihat indikasi keinginan Plath untuk bunuh diri. Bahkan psikolog Steven Gould Axelrod menyimpulkan bahwa kelima puisi tersebut adalah puisi pengakuan, ibarat otobiografi krisis yang menyingkap bagaimana depresi internal dan tekanan sosial yang dialami Plath.  Dalam catatan hariannya di tanggal 3 Oktober 1959, Plath menulis,  “Hari yang amat menekan. Aku tak bisa menulis apapun..."
Cara kematian yang dipilih Plath ternyata menginspirasi penyair perempuan lainnya. Setelah membaca kisah bunuh diri yang dilakukan Plath, Anne Sexton langsung memutuskan kematiannya sendiri. Dengan mengenakan mantel bulu milik ibunya, pemenang Pulitzer for Poetry tahun 1967 untuk bukunya yang berjudul "Live or Die" ini duduk di kursi mobil dan menyalakan mesinnya. Asap pun segera memenuhi garasi yang memang segaja ditutup rapat. Anne yang lahir di Newton, Massachusetts, 9 November 1928 ini ditemukan meninggal dunia di garasi mobilnya pada 4 Oktober 1974. 
Selain Plath dan Anne, Virginia Woolf juga merancang kematiannya sendiri. Pada 28 Maret 1941, Woolf mengisi saku mantelnya dengan bebatuan lalu berjalan menuju River Ouse yang tak jauh dari rumahnya. Dia  kemudian melompat ke arus sungai dan menenggelamkan dirinya. Jasad penulis novel, kumpulan cerita pendek dan naskah drama komedi ini baru ditemukan pada 18 April 1941. Woolf merasa terpukul setelah kematian ibunya, saudara tirinya dan ayahnya dalam rentang waktu yang demikian cepat. Setelah menyelesaikan manuskrip novel terakhirnya, Between the Acts, yang diterbitkan setelah kematiannya atau posthmous, Woolf merasa harus mengakhiri semua tekanan yang dihadapinya. Woolf juga menulis surat kepada suaminya, Leonard Woolf," Aku merasa pasti bahwa aku menjadi gila lagi. Aku mulai mendengar suara-suara dan aku tidak bisa berkonsentrasi. Suaminya pun memakamkan Woolf di bawah sebatang pohon di taman rumah mereka di Rodmell, Sussex, Inggris.

Bunuh diri tidak hanya dilakukan penulis perempuan yang merasa tertekan secara psikis, tapi juga menjadi pilihan penulis pria berbakat seperti David Foster Wallace. Penulis Postmodern yang dikenal dengan novel-novel satir ini ditemukan tidak bernyawa di rumahnya. Kematiannya di usia yang masih 46 tahun membuat banyak orang mencoba menarik benang merah antara kehidupan Wallace dengan karya-karyanya, seperti "Death is not the End, Suicide as a Sort of Present" dan "The Depressed Person", ternyata bukan sekadar fiksi belaka melainkan gambaran dari kesehariannya. 
Seperti halnya Plath, kematian baru menjemput penulis cerita pendek "A Natural History of the Dead", setelah dia mencoba melakukan beberapa kali upaya bunuh diri. Pengalamannya maju ke medan perang di Italia, membuat Ernest Hemingway melihat banyak peristiwa kematian, tapi peraih nobel di bidang sastra ini ingin memilih kematian dengan caranya sendiri. Menjelang ulang tahunnya yang ke-62, pada  2 Juli 1961, penulis novel yang dibaca puluhan juta orang di dunia, "The Old Man and The Sea" ini  menarik pelatuk pistolnya dan menutup kisah hidupnya dengan antiklimaks. Mendengar kematian Hemingway, Anne Sexton justru memberi aplaus atas tindakan bunuh diri yang dilakukan Heminway ini. Beberapa bulan kemudian,  dia pun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.