Pages

Senin, 18 Mei 2015

Work Hard , Pray Harder

Seorang bijak pernah memberi nasihat bahwa manusia boleh saja berencana tapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Begitu pun, pasrah pada suratan takdir  juga bukan pilihan yang bijak.
Alkisah, dua orang pedagang sepatu dihadapkan pada satu tantangan bisnis untuk melakukan ekspansi ke sebuah negeri terpencil. Gambaran yang jelas di berikan kepada mereka adalah masyarakat di negeri itu  tidak memakai sepatu. Pedagang pertama langsung memutuskan menolak dengan alasan, produk sepatunya tidak akan laku kalau dijual di sana. Sedangkan pedagang kedua dengan antusias menerima tantangan tersebut  karena merasa ini adalah peluang emas untuk memasarkan produk sepatunya. Banyak orang yang mengambil keputusan sebelum mencoba. Tak jarang terdengar keluhan dari seseorang yang mengatakan bahwa dia sudah beribadah dengan sungguh-sungguh, salat dan puasa, tapi tetap saja miskin, sedangkan yang jarang beribadah, salat bolong-bolong justru kaya raya. Itu namanya takdir.
Mempercayai takdir, baik maupun buruk atau disebut Qada dan Qadar, wajib hukumnya. Namun Qada dan Qadar ini juga mendatangkan dua hal  yang saling kontradiktif jika  tidak memahami dengan betul akan makna takdir ilahi. Bagi yang memahami, hidupnya   senantiasa dalam keadaan nyaman dan tenteram, serta terhindar dari sifat sifat mazmumah seperti, iri hati, dengki karena semuanya sudah dipasrahkan kepada Allah.  Sedangkan bagi kurang faham, dengan alasan takdir seseorang jadi malas berusaha karena semuanya sudah ditentukan oleh Allah Swt.  
Rahasia Allah
Menurut Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni, BA.M.Phil.Ph.D.,  Senior Lecturer Department of Islamic Theology & Religion, Islamic Science University of Malaysia, semua peristiwa , kejadian dan keadaan  yang telah dan akan dihadapi manusia berada dalam pengetahuan, pengamatan serta kekuasaan Allah Swt.
Namun bukan berarti takdir seseorang itu tidak akan berubah. Karena takdir itu sendiri ada dua, yakni takdir yang pasti berlaku pada diri seseorang yang disebut Qada Mubram dan takdir bersyarat atau Qada Mu’allaq.
Adapun langkah untuk mengubah takdir yang mu’allaq adalah dengan berusaha, berdoa dan tawakkal. Jika ketiga upaya itu sudah dilakukan, maka tinggal menunggu ketentuan Allah Swt. Karena sesungguhnya tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi,” Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (Q.S. Al-Mu’min : 60).”
Tidak ada Yang Instan
Salah satu hal yang membuat banyak orang gagal mewujudkan resolusinya adalah karena menghindari takdir, bukan menghadapinya. Ingin mengubah nasib tapi tidak mengubah pola pikir dan pola hidup itu sama saja dengan menyerahkan segala sesuatu pada suratan nasib.
Tidak cukup menghadapinya hanya dengan kerja keras tapi juga diimbangi dengan doa dan ibadah. Tapi mengapa tidak semua doa langsung dikabulkan oleh Allah Swt? Sekali lagi jangan menyalahkan takdir dan berputus asa, karena Allah lebih mengetahui kondisi hamba-Nya bahkan dari hamba-Nya sendiri. Seringkali Allah menyiapkan kondisi hamba-Nya terlebih dahulu sebelum mengabulkan doa mereka. Caranya, bisa lewat kemantapan hati saat mengambil keputusan atau merasa gelisah ketika hendak melakukan sesuatu yang salah. Allah hanya memberi jawaban melalui sinyal-sinyal yang Dia berikan, sedangkan keputusan tetap ada pada diri hamba-Nya. Karena Allah telah membekali manusia dengan akal untuk berfikir. Allah lebih tahu kapan saat yang tepat untuk mengijabah doa hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi : "Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta'ala adalah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar