Pages

Rabu, 20 Mei 2015

Wajah Memilukan Perpustakaan Kota Depok


Perpustakaan tidak hanya membutuhkan fasilitas mewah maupun sokongan dana, tapi cinta dan peduli. Perpustakaan Kota Depok, salah satu contoh perpustakaan yang tidak dikelola dengan baik. 
Tiada hal yang membuat saya bahagia ketika membaca berita tentang diresmikannya Perpustakaan Umum di kota tempat saya bermukim, Depok. Sudah terbayang, bagaimana saya kelak bisa membawa kedua putri saya menghabiskan waktu di perpustakaan ini. Apalagi, lokasinya yang berada di kompleks Kantor Walikota Depok, cukup strategis untuk warga Depok sekitarnya, termasuk saya. Cukup sekali naik angkot, sudah sampai ke Perpustakaan yang terletak hanya selemparan batu dari Terminal Depok, Stasiun Depok Baru dan pusat perbelanjaan ITC Depok dan Plaza Depok. Dari berita yang saya baca di media online, bangunan perpustakaan yang diresmikan oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, Senin, 27 April 2015 itu terdiri dari 3 lantai, dimana lantai 1 berupa hall pameran dan ruang serbaguna. Terdapat pula ruang untuk lansia dan ruang balita. Sementara di lantai 2 terdapat ruang informasi, ruang baca umum, ruang baca anak dan layanan multimedia. Ruang perpustakaan sendiri terletak di lantai 3 bersama dengan ruang diskusi dan teater. 
Suasana perpustakaan yang lengang namun hampa 
Rasa penasaran dengan berita yang saya baca tersebut akhirnya mengantarkan saya ke perpustakaan yang berlokasi di gedung berlantai tiga nan wah itu. Saya sengaja mengajak putri sulung saya yang sudah 5 tahun mengelola taman bacaan gratis di rumah kami. Ekspektasi kami berdua, kalaupun perpustakaan tersebut tidak selengkap Perpustakaan Diknas di kantor Kemendiknas, maupun sekeren perpustakaan Freedom Institute dan perpustakaan di kampus UI, paling tidak, nyamanlah buat kami yang ingin menambah wawasan dengan koleksi bukunya yang katanya mencapai 19.250 buku dengan 11.855 judul buku. Tapi ternyata, semua ekspektasi itu ibarat jauh panggang dari api. Ibarat langit dan bumi dengan semua perpustakaan yang pernah saya sambangi selama ini. 
Ini yang katanya jumlah koleksi buku mencapai 19.250 buku dengan hampir 12 ribu judul...
Siapa yang tertarik membaca dengan buku yang tidak tertata dengan baik seperti ini
Kemana buku yang katanya ribuan itu? 


Bikin Geregetan

Sejak awal memasuki gedung berlantai 3 ini, sebenarnya perasaan saya sudah merasa tidak enak. Lobinya lengang, sementara jejeran rak kosong tertata tidak beraturan di salah satu sisi ruangan. Tampak beberapa anak berseragam putih abu-abu keluar dari lift disertai seorang PNS .
Pegawai perempuan itu pula yang mengarahkan kami menaiki lift karena perpustakaan umum terletak di lantai 3.
Kami semakin semangat dan berharap bisa menemukan oase kota Depok 
di tempat ini.
Tapi, harapan tinggallah harapan.
Lantai 3 yang dimaksud itu, hanyalah sebuah ruangan yang sama sekali
tidak mengesankan sebuah perpustakaan. 
Tampak seorang pegawai duduk lesu di sebuah meja yang di atasnya 
terletak buku daftar pengunjung, 
tak ubahnya  meja penerimaan pasien di puskesmas.
Sama sekali tidak mengesankan moderen seperti yang diberitakan media online itu. 
Rak penitipan barang dan tas juga kosong yang menandakan bahwa 
tidak ada pengunjung yang datang, selain kami berdua dan  tiga orang anak
sekolah tadi. 
Tidak ada petugas yang tergerak untuk merapikan buku-buku yang berantakan ini 
Suasana ruangan yang luas tapi kosong itu sama sekali tidak 
representatif sebagai sebuah perpustakaan yang diresmikan oleh 
seorang walikota. 
Pegawai yang bertugas di bagian perpustakaan ini selain tidak memiliki 
inisiatif juga tidak memiliki passion di bidang kepustakaan. 
Mereka hanya duduk santai  sambil bermain gadget dan tidak ada satupun 
yang tergerak merapikan buku-buku yang berantakan. 
Dari sekali pandang saja, saya bisa menaksir kalau jumlah buku tersebut 
tidak ada separuhnya dari jumlah koleksi buku di perpustakaan 
sekolah anak saya, bahkan di taman bacaan kami yang sederhana. 
Sempat terpikir, 
apakah Bapak Walikota yang meresmikan perpustakaan ini pernah
meluangkan waktunya untuk mampir dan membaca di perpustakaan 
yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari kantornya ini ? 
Apakah dia berpikir, bahwa tugasnya hanya sekadar 
meresmikan saja, selebihnya sudah bukan urusannya lagi? 
Terbayang, apakah senyum Pak Walikota akan sesumringah seperti foto 
di atas kalau dia melihat bagaimana kondisi perpustakaan itu hanya 
berselang 3 minggu setelah dia resmikan? 
Bahkan, perpustakaan yang ada di Terminal Depok dan dikelola oleh seorang 
mantan preman terminal itu jauh lebih baik dari perpustakaan 
yang pengelolaannya menggunakan dana APBD ini. 
Masak kalah sih, sama mantan preman... Malu, dong ah!
 Foto : Ade & Google Images




.


2 komentar:

  1. miris ... hiks. Semoga jadi perhatian pengelolannya setelah ini disebar :)

    BalasHapus
  2. iya kang... sayang gedungnya juga...kepikiran buat mengajukan program dengan memanfaatkan gedung tsb

    BalasHapus