Pages

Jumat, 01 Mei 2015

Selain Lokalisasi, Apalagi?

Islam tidak hanya melarang perbuatan zina, bahkan mendekati saja pun sudah berdosa. Lantas, perlukah wacana melokalisirnya?

Ketika Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dengan berani menutup lokalisasi Dolly, saya mengucap syukur dan menangis haru. Terbayang, bagaimana anak-anak yang tumbuh besar di sana dan sebagian besar kelak mewarisi pekerjaan yang sama dengan ibunya. Terbayang cerita Ibu Risma di acara Mata Najwa tentang pelacur tua yang kliennya justru ABG yang penasaran bagaimana rasanya bersetubuh. Terbayang mucikari muda yang menjual teman-teman sekolahnya ke om-om hidung belang. Terbayang kisah PSK  belia yang bercerita kepada Fifi Aleyda Yahya, host acara Sudut Pandang di Metro TV bahwa dalam semalam dia bisa melayani hingga 14 orang klien... Terbayang apa jadinya moral bangsa ini dengan kenyataan yang menyesakkan dada ini.

Tapi hati saya semakin sesak setelah menyadari bahwa penutupan lokalisasi Dolly ternyata tidak memecahkan masalah prostitusi di negeri ini. Para PSK Dolly justru menyebar kemana-mana. Masih di acara Sudut Pandang, PSK belia itu bercerita kalau setelah Dolly tutup, dia memilih menjadi PSK "freelance" yang tidak terikat pada mucikari dan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih banyak.
Sebagian lainnya membentuk mata rantai prostitusi baru dengan memanfaatkan media sosial. Dolly memang sudah tutup dan berganti wajah, tapi penyebaran penyakit masyarakat ini semakin tidak terdeteksi, tidak terlokalisir. Mereka ada dimana-mana, bertameng rumah kos, beroperasi di apartemen, bahkan di kampung-kampung. 
Sejarah Prostitusi
Prostitusi bisa dikatakan sebagai pekerjaan yang sudah ada sejak ribuan tahun silam. Pada masa Yunani Kuno, pelacur jalanan disebut "pornoi", sedangkan pada masa Babilonia, ada istilagh "Temple Prostitutes", sebuah institusi purba, tempat para pelacur menyumbangkan hasil kerja mereka untuk kuil Aphrodite agar mendapat berkah dari para Dewi. Bagi bangsa Romawi Kuno, pelacur mendapat stempel penjahat sehingga harus mengenakan pakaian tertentu yang membedakan mereka dengan perempuan baik-baik. 
Pada masa Dinasti Han, para pelacur dirumahkan bersama penjahat, tahanan politik dan para budak. Kekaisaran Ottoman juga memiliki Harem, yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan praktik prostitusi dimana orang-orang kaya bisa membeli ratusan perempuan untuk dijadikan pemuas birahi. Namun, ada juga bangsa yang memuliakan profesi ini, seperti halnya bangsa Yunani Kuno yang menyebut mereka dengan "Hetaerea". Thais dari Athena, merupakan hetaerea yang legendaris karena dinikahi oleh Alexandre Agung lalu diambil alih Ptolomeus, Raja Mesir yang kemudian menjadikannya Permaisuri. Di Jepang juga ada Geisha yang meski melakukan pekerjaan yang sama dengan perempuan penghibur lainnya tapi memiliki posisi terhormat di tengah masyarakat. Bahkan ada sekolah khusus untuk menjadi Geisha. 
Awal Lokalisasi Prostitusi Di Indonesia
Praktik pelacuran di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak VOC menguasai Batavia pada abad 17. Para PSK ini disebut "Cabo" yang berasal dari bahasa Tiongkok, Caibo yang berarti perempuan malam. Selain itu, Cabo ini umumnya didatangkan dari Tiongkok. 
Lokalisasi pertama di Indonesia bernama Macao Po yang berlokasi di kawasan Stasiun Kota. 
Fientje de Ferniks
Fientje de Feniks, adalah salah seorang PSK yang kisah kematiannya dituliskan Pramudya Ananta Toer dalam novelnya, "Rumah Kaca". Pram mengganti nama perempuan yang tewas dibunuh pada 17 Mei 1912 itu dengan nama Rientje de Roo. Peristiwa pembunuhan yang terjadi di Kalibaru itu cukup menghebohkan karena dilakukan oleh Brinkman, kekasih Fientje, seorang Belanda yang kemudian mengakhiri hidupnya sendiri di dalam sel penjara. 
Berdasarkan Ensiklopedia Jakarta yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, lokalisasi pertama lainnya terdapat di Gang Mangga, kawasan Glodok. Jika Macao Po merupakan lokalisasi kelas atas, lokalisasi Gang Mangga  ditujukan untuk kalangan bawah. Lokalisasi ini kemudian tutup karena kalah bersaing dengan rumah-rumah bordil  yang menjamur di Jakarta. 
Praktik prostitusi semakin berkembang setelah Indonesia merdeka. Berbagai lokalisasi prostitusi berdiri, mulai dari Gang Hauber di kawasan Petojo, Kaligot di Mangga Besar, Planet di Senen, dan rumah-rumah kardus di sepanjang rel kereta api dari Stasiun Senen hingga Gunung Sahari. 
Untuk menertibkan praktik prostitusi ini, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian melokalisir semua tempat prostitusi tersebut di kawasan Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Apa yang dilakukan Ali Sadikin ini tak pelak mengundang penolakan. Namun Ali bergeming karena menurutnya, lebih baik melokalisir para PSK ini agar mudah dibina dan tidak berkeliaran dan menyebar penyakit kemana-mana tanpa pengawasan. 
Kejayaan Kramat Tunggak yang merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara kemudian berakhir di tangan Sutioyoso yang pada tahun 1999 mengubahnya menjadi Islamic Center. Namun, upaya ini bukan berarti bisa menyelesaikan masalah prostitusi di Jakarta, karena para PSK eks Kramat Tunggak ini justru berkeliaran di jalanan. Mereka hanya bertukar tempat praktik saja. 
Selain Kramat Tunggak, banyak lagi lokalisasi yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Salah satu yang paling legendaris adalah lokalisasi yang terdapat di Gang Dolly, Surabaya. Lokalisasi yang didirikan Tante Dolly van der mart ini sudah ada sejak jaman Belanda dan diklaim terbesar di Asia Tenggara setelah Kramat Tunggak ditutup. Kini, nasibnya juga berakhir di tangan kebijakan pemerintah yang ingin kota Surabaya bebas dari praktik prostitusi. 
Ada pula Sarkem di Pasar Kembang- Yogyakarta, Sunan Kuning-Semarang, Jalan Pajajaran- Malang, Sintai-Batam, Dadap-Tangerang, Gang Sadar I dan II - Purwokerto, Lismusnunggal, Cileungsi-Bogor, Saritem-Bandung dan masih banyak lagi. Ironisnya, mereka hidup berkeluarga di lokalisasi tersebut sehingga memberi dampak buruk bagi anak-anak mereka. 
Selain Lokalisasi, Apa Lagi? 
Kematian Tata Chubby yang menjalankan prostitusi dengan memanfaatkan media sosial, menjadi salah satu alasan Gubernur Ahok mewacanakan kembali melokalisir para PSK ini. Seperti halnya ketika Ali Sadikin mendirikan Kramat Tunggak, wacana Ahok pun juga mendapat penolakan keras. Berbeda dengan Ali Sadikin yang bisa cuek, posisi Ahok yang non muslim dan keturunan Cina semakin membuat penolakan berlipat-lipat kerasnya. "Ibarat orang buang kotoran, masak dibiarkan dibuang dimana-mana, seharusnya di satu tempat, sehingga tidak mengotori yang lainnya," dalih Ahok. 
Selain wacana lokalisasi, apa lagi solusi untuk meminimalisir praktik prostitusi ini? Saya justru menaruh harapan besar pada para tokoh agama untuk lebih proaktif. Tugas pemuka agama bukan hanya untuk menentukan halal dan haram saja maupun memutuskan fatwa. Mereka juga bertanggungjawab terhadap moral umat. Berapa banyak tokoh agama yang mau bersentuhan dengan mereka yang bergelimang dosa di tempat-tempat prostitusi? Berapa banyak ibu-ibu yang aktif di pengajian mau menyapa dan bersahabat dengan mereka yang terlanjur menjadi penjaja cinta? 
Saya pernah merasa terpukul  dengan perkataan seorang perempuan yang mencari nafkah sebagai perempuan panggilan kelas atas. Dia bercerita kalau sebenarnya dia sudah berkali-kali berusaha meninggalkan profesi itu dengan pekerjaan halal, mulai dari berdagang pakaian dan bisnis katering, tapi stigma sebagai PSK membuat tidak ada yang mau membeli dagangannya apalagi memesan makanan padanya. Dia bahkan dikucilkan dan digunjingkan. 
Ironisnya, meski dia mengaku sudah tidak melacur dan ingin kembali ke jalan yang benar, orang-orang yang mengaku lebih suci dari dirinya, justru menutup jalan pulang untuknya. Merasa tidak ada pilihan, dia pun kembali melacur...
Sebenarnya wacana lokalisasi itu ada sisi positifnya, minimal untuk menghalangi kotoran tersebut masuk ke rumah-rumah yang selama ini kita anggap rumah yang bersih, seperti rumah kos tempat Tata Chubby menjalankan profesinya, atau apartemen yang sudah menjadi rahasia umum menjadi tempat prostitusi terselubung. 
Kalaupun wacana tersebut direalisasikan, saya berharap mereka yang bekerja di lokalisasi tidak membawa anak-anaknya tinggal di sana. Harus ada batasan ketat siapa yang bisa masuk ke lokalisasi. CCTV terpasang di tiap sudut dan semua tamu harus terdata sehingga orang harus berpikir dua kali  masuk ke tempat itu. Bila perlu dibuat UU tentang lokalisasi dengan sanksi hukum berat bagi yang melanggarnya. 
Menurut saya, lokalisasi prostitusi bukan berarti melegalkan praktik ini. Tapi kalau memang ada solusi lain, mungkin wacana lokalisasi harus segera disingkirkan sejauh mungkin. Kita tidak sedang bicara soal halal haram, surga neraka, tapi bagaimana membuat mereka yang sudah larut dalam pekerjaan ini bisa memutuskan resign dan memilih pekerjaan lain. 
Para pemuka agama tidak hanya mengeluarkan fatwa tapi juga melakukan pendekatan kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka bukan penyakit maupun sampah masyarakat yang harus dikucilkan dan digunjingkan. Mereka juga butuh teman yang bisa merangkul menuju kebaikan. Penutupan lokalisasi memang tidak bisa dilakukan serta merta, semua yang akan pensiun tentu butuh perbekalan untuk memulai langkah yang baru. 

foto ilustrasi: Google Images .

.



3 komentar:

  1. Coba peruntungan Anda di SINIDOMINO, Agen Domino Online Terbaik di Indonesia.
    Hanya dengan Minimal Deposit Rp 20.000,- Anda sudah bisa menikmati 7 permainan dalam 1 ID yang di sediakan SINIDOMINO.
    Buruan gabung dan daftarkan diri Anda Jangan sampai ketinggalan ya!!!
    SINIDOMINO juga memberikan Bonus Menarik untuk Para Poker Mania :
    ? Bonus Referral 20% (Seumur Hidup)
    ? Bonus Cashback Up To 0.5%. Dibagikan Setiap hari SENIN
    ? 100% murni Player vs Player ( NO ROBOT )
    Untuk Info Lebih Lanjut Bisa Hubungi Customer Service Kami di :
    LiveSupport 24 jam (NONSTOP)
    ? LiveChat :http://www.sinidomino.com/?ref=limm88
    ? Pin BBM : D61E3506
    Terima Kasih
    poker online

    BalasHapus
  2. I would like to tell you keep working on this article. obat kencing manis

    BalasHapus
  3. Yuk Gabung Di Bolacasino88.com
    Dapatkan Promo Deposit 100% Sportsbook
    Minimal Deposit Promo 100% Sportsbook Rp 300.000
    Maksimal Bonus Sampai Rp 500.000
    Dapatkan Juga Promo Menarik Lain nya !!!

    Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS Kami Di :

    - No Tlp ( +855962671826 )
    - BBM ( 2BF2F87E )
    - Yahoo ( cs_bolacasino88 )
    - WhatsApp ( +855962671826 )

    Baca Juga Prediksi Togel Tanggal 21 October 2017 :

    http://prediksitoto.online/bocoran-togel-sgp-21-okt-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-jitu-hk-21-okt-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-jitu-sydney-21-okt-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-top-milan-21-oktober-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-top-pattaya-21-okt-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-top-genting-21-oktober-2017/
    http://prediksitoto.online/prediksi-top-magnum-21-okt-2017/

    BalasHapus