Pages

Selasa, 12 Mei 2015

Rumpian Ibu-Ibu Kompleks

Tinggal di perumahan dengan berbagai karakter warganya, tentu memiliki cerita tersendiri. Saya ingin berbagi cerita tentang ibu-ibu di kompleks tempat saya tinggal. Bisa jadi,  cerita saya ini sama dengan yang Anda alami. 
Ketika belanja di tukang sayur langganan, seorang Ibu mengeluh karena si mbak yang membantunya mencuci dan setrika sudah dua hari tidak masuk dengan alasan sakit, sementara si mbak tersebut dia lihat tetap bekerja di tempat majikannya yang lain. Berbagai sumpah serapah dilontarkan si Ibu itu terhadap si mbak dan dan tetangga kami tempat si mbak tetap masuk bekerja. Dia terus melampiaskan kemarahannya tanpa peduli apakah yang mendengar bisa memberi solusi atau tidak. Karena dia hanya butuh tempat menumpahkan seluruh perasaannya tanpa mengharapkan solusi.
Ibu-ibu yang tinggal di kompeks perumahan memang tidak hanya berbagi cerita tapi juga berbagi asisten rumah tangga. Si mbak yang membantu cuci dan setrika,  tidak hanya bekerja di satu rumah saja, tapi juga di tiga hingga empat rumah sekaligus. Si mbak yang bekerja di rumah Ibu yang marah-marah di tukang sayur tadi juga begitu. Dia bekerja di tiga rumah dengan jam kerja yang sudah disepakati dengan sesama majikan. 
Bahkan untuk salary pun sudah ada standarnya. Di perumahan tempat saya tinggal, salary Mbak yang membantu cuci dan setrika minimal Rp.400 ribu sebulan untuk keluarga dengan empat orang dan selanjutnya disesuaikan dengan jumlah orang yang ada di rumah. Mbak Inah yang bekerja di rumah tetangga saya, termasuk Mbak yang paling diminati, karena selain hasil pekerjaannya bagus, Mba Inah juga jarang kasbon dan tidak suka merumpi. 
Tapi setelah menjamurnya usaha laundry kiloan rumahan, banyak warga yang lebih memilih menggunakan jasa laundry kiloan ini, termasuk saya. 


Selain berbagi asisten rumah tangga, Ibu-ibu kompleks juga suka berbagi hasil belanjaan, terutama bagi yang berprofesi menjual barang secara cicilan. Mereka menawarkan dagangannya saat arisan RT dan pengajian. Mencicilnya juga ada opsinya, bisa mingguan saat pengajian atau bulanan di acara  arisan. Semua barang bisa dipesan lewat para shopaholic ini, mulai dari baju, sepatu, gadget hingga furnitur. Saat ini, baju muslim syar'i merupakan barang yang paling banyak dipesan. 
Me Time Ibu-ibu kompleks berkisar di jam 1 hingga jam 4 sore. Karena di waktu tersebut, kami sudah selesai masak dan beberes di rumah tinggal menunggu jam 5 sore untuk menjemput anak pulang sekolah. Tempat menghabiskan waktu yang paling nyaman itu tentu saja di salon khusus perempuan yang ada di depan kompleks. Dengan modal Rp 40 ribu buat keramas dan creambath, banyak cerita yang bisa didapat. Info di salon ini lebih aktual ketimbang info dari grup WA Ibu-ibu kompleks dan dipastikan A-1 alias dari sumber yang terpercaya. Begitu jam lima, wara-wiri motor para Ibu mulai berseliweran menjemput anak-anak pulang sekolah, les bimbel juga les mengaji. Kehidupan kompleks kembali senyap hingga matahari membangunkan dan memulai hari yang baru lagi dan rutinitas yang nyaris sama. Bosan? Sampai hampir dua bulan ini, saya masih sangat menikmatinya. 



Foto: google images



Tidak ada komentar:

Posting Komentar