Pages

Rabu, 06 Mei 2015

Marah Yang Menyehatkan

Siapa bilang marah itu membuat kita cepat tua dan naik tensi. Marah juga menyehatkan, jika tahu menyiasatinya. 
Siapa sih orang yang tidak pernah marah? Kalau saya, sih, jangan ditanya... Secara memang saya rada-rada sensitif, saya juga merupakan tipikal orang yang spontan dan paling susah menutupi apa yang sedang saya rasakan. Saya bisa bersikap dingin pada orang yang saya kurang sreg. Entah kenapa, saya seringkali memiliki feeling yang tepat tentang orang yang saya kurang sreg tersebut. Pernah seorang teman saya beritahu tentang feeling saya terhadap orang yang sedang dekatnya pada saat itu. Saya memberitahukan hal itu tanpa bermaksud sedikitpun untuk melarangnya akrab dengan orang tersebut. Tapi, hanya berselang bulan, teman saya bercerita kalau firasat saya benar. 

Kembali ke soal marah-marah tadi. Menurut Charles Spielberger,Ph.D, psikolog yang mengambil spesialisasi studi tentang marah, marah adalah hal yang normal dan sehat. Sebagai salah satu bentuk dari ekspresi emosi manusia, maka marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika seseorang marah, denyut nadi dan tekanan darah pun meningkat demikian pula halnya dengan level hormon, adrenalin maupun nonadrenalin. 
Marah juga merupakan bentuk komunikasi, karena ada orang yang baru mengerti apa yang kita maksud setelah dimarahi. Begitupun, cara marah orang juga berbeda-beda. Ada yang suka meledak-ledak, berteriak, memaki, ada juga yang diam, seperti kebanyakan marahnya orang Jepang. Karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Sedangkan orang Amerika, justru kebalikannya.

Tapi, marah juga bisa loh menjadi menjadi relaksasi yang menyehatkan kalau dikendalikan dengan tepat. Marah akan berakhir dengan buruk bahkan sangat buruk jika tidak terkontrol dengan baik. Memendam rasa marah, bukanlah solusi, karena kemarahan terpendam justru bisa menyebabkan banyak saraf yang kaku dan ujung-ujungnya stroke.
Seorang peneliti dari Universitas Valencia di Spanyol menemukan bahwa mengekspresikan kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang berkaitan dengan perasaan bahagia. Selain itu, bagian kiri dari otak menjadi lebih terstimulasi ketika seseorang sedang marah. 
Daerah frontal otak kiri umumnya berkaitan dengan emosi positif sedangkan bagian kanan berkaitan dengan emosi negatif.
Jadi, kalau memang ada perasaan yang mengganjal hati, sebaiknya dikeluarkan saja, jangan dipendam. Karena dengan mengeluarkan emosi, maka aliran darah yang menuju otak akan mengalir secara meningkat. Perasaan marah juga dapat mengatur kerja jantung dan hormon yang ada di dalam tubuh.
Tapi, marah yang berlebihan juga tidak baik, apalagi kalau sampai membuat hati orang lain terluka. 

Banyak hal yang bisa membuat kita marah. Salah satunya, teman yang suka menggunjingkan kita dan mengatakan hal yang tidak benar tentang kita. Saya pernah mengalami hal ini, dan saya langsung mendatangi teman tersebut dan menanyakan apa maksudnya melakukan hal itu pada saya. Saya memang paling tidak suka dengan tipikal teman seperti ini. Tapi membiarkannya juga bukan cara yang tepat. Karena apa yang dilakukannya salah dan merugikan orang lain, dalam hal ini, saya. Yang pasti, jangan pernah membiarkan diri kita terjebak dalam pikiran dan tindakan yang negatif. Karena hidup terlalu indah untuk dilewatkan dengan hati yang penuh kebencian. Marah memang menyehatkan, tapi lebih sehat lagi kalau kita merasa bahagia. 




foto-foto: google images




Tidak ada komentar:

Posting Komentar