Pages

Rabu, 13 Mei 2015

Kemuliaan Orang Berilmu dan Ahli Ibadah

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)
Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, bukan hanya ilmu agama sebagai investasi akhirat tapi juga ilmu yang paling kontemporer sekalipun. Banyak ulama yang mempelajari kitab agama lain bukan sebagai perbandingan tapi menambah wawasan tentang ajaran yang berbeda dengan Islam.
        Begitu pentingnya kewajiban menuntut ilmu di dalam Islam, sehingga Allah lebih memuliakan darah ulama daripada para syuhada. Hal tersebut ditegaskan di dalam firman-Nya yang berbunyi, “ Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah : 122)
Dalam ayat ini, Allah Swt menerangkan bahwa kewajiban menuntut ilmu juga merupakan salah satu cara berjihad. Karena orang-orang yang cerdas bisa menjadi mercusuar bagi umatnya. Rasulullah Saw pernah ditanya oleh para sahabat tentang dua laki-laki dari Bani Israil, yang satu adalah orang alim yang selalu mengerjakan salat wajib dan mengajarkan kebaikan kepada manusia sedangkan yang seorang lagi menghabiskan waktunya untuk beribadah, puasa pada siang hari dan salat pada malam hari. Manakah di antara mereka yang lebih utama, tanya para sahabat. Rasulullah Saw pun bersabda, “ Keutamaan seorang yang alim (berilmu) atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” Subhanallah.
 Pendidikan Karakter Ala Rasulullah Saw
Dalam membentuk generasi pilihan, Rasulullah Saw sangat mengintensifkan pada tiga kecerdasan, yaitu, emosional, spritual dan intelektual. Hasilnya dapat dilihat dari penerus perjuangan beliau dalam  mensyiarkan ajaran Islam, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta sahabat lainnya.
Tidak hanya itu, Rasulullah Saw juga selalu menanamkan karakter kenabian yang tercermin dari prilaku beliau sehari-hari, yaitu Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan) dan Fatonah (cerdas). Rasulullah Saw mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari sekadar perkataan. Ketika menerima perlakuan  buruk dari umatnya, beliau selalu membalasnya dengan perbuatan baik.
Berbagai kisah meriwayatkan bagaimana sikap Rasulullah Saw menghadapi orang yang membencinya. Seorang nenek tua yang setiap hari melemparnya dengan kotoran serta  pengemis buta yang selalu memfitnahnya dengan keji akhirnya mengucapkan syahadat karena Rasulullah Saw membalas perbuatan mereka dengan kebaikan. Itulah yang disebut kecerdasan berkarakter sesungguhnya. Rasulullah Saw mengubah masyarakat jahiliyah menjadi lebih baik lewat keteladanan.  
Sayangnya , kini dunia pendidikan justru lebih terfokus pada peningkatan kecerdasan intelektual dan mengabaikan nilai-nilai spritual serta kemampuan sosial. Sehingga  generasi yang dihasilkan pun hanya cerdas secara intelektual namun rendah kecerdasan emosional dan spritualnya. Banyak orang yang kritis dan memiliki kemampuan verbal yang baik namun ilmunya justru digunakan untuk menjatuhkan orang lain lewat argumentasi, tidak bisa menerima perbedaan dan sulit bekerjasama dengan orang lain. Hal itu disebabkan karena pemahamannya hanya sampai memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya.
Banyak orang-orang cerdas yang kariernya berakhir di jeruji besi karena tidak amanah. Menyalahgunakan kecerdasan yang dimiliki untuk hal-hal yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Padahal dia pasti tahu kalau apa yang dilakukannya itu salah.
        Dengan menanamkan pendidikan karakter kepada anak sejak dini, inshaallah dapat mengubah dunia menjadi lebih baik dengan generasi yang juga jauh lebih baik. Amiin...
       

        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar