Pages

Rabu, 06 Mei 2015

I Quit and I'm Fine...

Banyak alasan untuk meninggalkan satu pekerjaan, salah satunya karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Saya mungkin bukan karyawan yang baik, tapi saya tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi ibu yang baik, setidaknya bagi kedua buah hati saya. 
Meski sudah lebih dari sebulan memutuskan berhenti bekerja, tapi banyak teman yang belum mengetahuinya, termasuk salah seorang teman di tempat saya bekerja sebelum di perusahaan yang sekarang saya tinggalkan. Teman saya mengirimkan pesan lewat inbox di facebook memastikan apakah kabar saya resign itu fakta atau sekedar rumor. Banyak juga teman yang kaget dan tidak menyangka saya meninggalkan pekerjaan yang sudah 22 tahun saya geluti. Terus terang, saya sangat mencintai pekerjaan ini, tapi tidak dengan sistemnya. 
Hal pertama saya lakukan setelah bertemu HRD, adalah menyelesaikan seluruh tugas saya, lalu pamit kepada seseorang yang menjadi salah satu alasan saya hengkang.
Begitu meninggalkan kantor tempat saya bekerja selama satu tahun lebih, saya langsung merayakan hari besar itu bersama dua senior saya di kantor sebelumnya. Menghabiskan malam terakhir saya sebagai perempuan kantoran di sebuah kafe. Malam itu, saya merasa seolah anak sekolah yang baru menuntaskan UN dan ingin mencoret-coret baju seragamnya. 
Hal yang paling membuat saya terharu, ketika saya mengabari soal pengunduran diri saya, suami saya hanya berkata,"Welcome Home, Bunda...!" Itulah kata-kata paling romantis yang pernah dia ucapkan selama 20 tahun kami bersama. 
Home Office
Hari-hari pertama stay di rumah, saya masih bingung mau melakukan apa. Saya masih mencari-cari formula bekerja di rumah. Tapi semua kebingungan itu sirna setiap kali melihat sinar bahagia kedua anak saya setiap pulang sekolah karena melihat saya ada di rumah. 
Hari-hari selanjutnya, saya semakin menikmati suasana rumah. Saya mulai membuat jadwal untuk saya sendiri dan menentukan jam kerja saya untuk menulis. Menulis apa saja. Saya mulai mengikuti pengajian bersama ibu-ibu kompleks, mengajak anak-anak tetangga  main ke rumah untuk membaca dan belajar, dan memiliki waktu untuk memanjakan diri. Saya mulai melupakan rutinitas pagi yang super duper heboh, naik ojeg ke stasiun, berimpitan di commuter, naik ojeg lagi ke kantor. Keluar rumah jam 7.30 dan kembali jam 21.30. Tapi saya sangat mencintai pekerjaan itu, di luar hal yang membuat saya hengkang.
Setelah tahu saya resign, beberapa tawaran bekerja kembali datang. Namun ketika hal itu  saya sampaikan kepada kedua anak saya, keduanya langsung memasang wajah sedih. Mereka bilang, masih ingin melihat saya di rumah. Saya sangat yakin kalau  rezeki seorang penulis itu seluas langit dan bumi. Alhamdulillah, belum seminggu di rumah, seorang kawan lama menawari saya  menulis buku bersamanya. Mudah-mudahan rencana ini berjalan dengan lancar dan dimudahkan Allah. Amiin. 
Let's Move On!
Mengawali hari-hari sebagai perempuan rumahan, saya kembali menulis blog dan menerima ajakan hang out dari  teman-teman yang selama ini tak bisa saya penuhi karena kesibukan bekerja.
Saya mulai belajar menulis di luar gaya menulis yang selama ini saya lakukan saat bekerja sebagai editor majalah lifestyle. Banyak sekali yang harus saya perbaiki sehingga tulisan saya bisa lebih soft dan tidak menjemukan. Melatih imajinasi dan fantasi dalam menulis sungguh merupakan hal baru bagi saya.
Setiap malam, saya menyiapkan meja kerja dan mulai bekerja. Menulis apa saja, merangsang daya menyusun kata menjadi kalimat. Melatih pengayaan bahasa dan frasa. Memantik intuisi dalam menata cerita dan menyelipkan intrik. Saya tidak boleh hanya terkagum pada teman-teman yang sudah melahirkan karya, tapi juga belajar bagaimana mereka bisa konstan dalam menulis. Saya harus lebih banyak lagi belajar. Karena mimpi dan harapan baik bisa saja ada di rumah, bukan di tempat lain. 


foto-foto : google images













20 komentar:

  1. Mesin ketiknya cakeppp....warna merah. Msh ada ga ya yg jualan mesin ketik kayak gitu hhaahh

    BalasHapus
  2. mbak. sama banget. saya pensiun setelah 22 tahun menjadi Dosen. Ternyata nikmat sekali bekerja di rumah.

    BalasHapus
  3. ari sona : iya bagus yaa, matching dengan warna kuteksnya

    BalasHapus
  4. benar mba deka, baru terasa nikmatnya...

    BalasHapus
  5. Amiin... mohon doanya ya kang...

    BalasHapus
  6. benar mba deka, baru terasa nikmatnya...

    BalasHapus
  7. iya mba deka : baru terasa nikmatnya kerja di rumah :)

    BalasHapus
  8. ari sona : iya bagus yaa, matching dengan warna kuteksnya

    BalasHapus
  9. Terharu, salut sama dengan yg saya alami. Semoga berkah :)

    BalasHapus
  10. Terimakasih mba Zulfa... Amiin...

    BalasHapus
  11. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya mbak..:-)

    BalasHapus
  12. inshaallah, bunda raka-alya, makasih ya sudah mampir

    BalasHapus
  13. Perempuan yang bekerja kantoran (di luar rumah) itu menurutku super sekali. Aku ga sanggup tiap hari berkutat macet dan rebutan kendaraan umum. Kalo aku, pulang rumah badan langsung "babak belur" rasanya. Welcome home, Kak Ade. Keep productive!

    BalasHapus
  14. terimakasih Haya... terinspirasi juga dari Haya setelah dua kali wawancarai Haya dari mulai di Noor sama Annisa. terimakasih juga sudah berkenan mampir ke blog kakak,ya...

    BalasHapus
  15. terimakasih Haya... terinspirasi juga dari Haya setelah dua kali wawancarai Haya dari mulai di Noor sama Annisa. terimakasih juga sudah berkenan mampir ke blog kakak,ya...

    BalasHapus
  16. Biar ikut romantis, aku mau ngucapin "Welcome home, Adek." jugalah ke dirimu. Semoga semakin produktif ya, Inang. ^_^

    BalasHapus
  17. hahaha makasih ya wik... Amiin

    BalasHapus
  18. hahaha makasih ya wik... Amiin

    BalasHapus
  19. Hello Mbak, saya mau ngobrol2 nih, ada email yang bisa dihubungi? :)

    BalasHapus