Pages

Senin, 04 Mei 2015

Growing Pains

Masa remaja bukan hanya masa mencari jati diri, tapi juga saat dimana up bisa dengan cepat berganti down dan sebaliknya. Saat-saat dimana mereka ingin menjadi pusat perhatian tidak hanya dari keluarga tapi juga lawan jenisnya. 

Ketika putri sulung saya pertama kali mengalami haid, dia menghadapinya dengan tenang. Tidak ada rasa khawatir, bingung apalagi takut, seperti ketika saya pertama kali mengalami hal yang sama. Dia hanya mengetuk pintu kamar saya, seraya berbisik," Bunda, sepertinya aku haid, tolong minta pembalut dan ajarkan aku cara memakainya ya." Sesimpel itu saja dia menghadapi hal pertama yang menandakan awal kedewasaannya. Bukan hanya karena saya sudah menjelaskan kepadanya tentang proses yang akan dialaminya memasuki masa puber, tapi juga karena hal seperti ini bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu untuk dijelaskan termasuk oleh guru di sekolah.
Memasuki masa puber memang bukan hal yang menyenangkan. Perubahan-perubahan yang dialami, tidak hanya soal fisik yang berkembang tapi juga kulit yang mulai berjerawat dan suara menjadi lebih berat. Saya masih ingat bagaimana risihnya ketika mulai belajar mengenakan bra. Rasa gatal dari tali dan pengait bra membuat saya lebih memilih mengenakan singlet sampai akhirnya siap untuk benar-benar mengenakannya karena merasa sangat tidak nyaman saat pelajaran olahraga. 
Di Perancis maupun Amerika, pendidikan seks secara formal sudah diberikan sejak anak-anak masih SD. Sedangkan di Indonesia, pelajaran tentang seks masih diselipkan di antara pelajaran Biologi dan PPKN. Semakin bebasnya remaja menggunakan akses internet juga menjadi tugas baru bagi orangtua dan guru untuk lebih waspada.
Please, Cheer Up, Honey...!
Masa-masa puber tidak saja berpengaruh pada perubahan fisik tapi juga sikap anak. Kebanyakan anak yang sudah remaja mulai "menjaga jarak" dengan orangtua, kakak maupun adik. Mereka seolah membentuk dunia sendiri. Mulai menolak dipeluk dan dicium terutama saat berada di tengah teman-teman sekolahnya. 
Pada masa-masa ini pula, anak mulai suka berargumen dan ingin mendapatkan kepercayaan dari keluarga. Mulai menghindar jika diajak ke acara keluarga dan lebih memilih jalan bersama teman-temannya. Mulai suka mencoba hal-hal baru dan ingin menegaskan bahwa dia bukan anak kecil lagi.
Bisa dikatakan kalau masa-masa pubertas merupakan masa yang paling sulit dalam perjalanan hidup seseorang, termasuk kita dan anak kita. Itu sebabnya, kita sebagai orangtua harus ekstra hati-hati dalam mendampingi anak melewati masa-masa sulit ini. 
Ibarat bermain layang-layang, harus ada tarik ulurnya. Terlalu dikekang salah, terlalu bebas, apalagi. Selalu pastikan, bahwa anak kita memilih teman yang baik untuknya. 
Kebanyakan anak yang mulai memasuki masa pubertas, lebih sensitif dan sering galau. Hubungan pertemanan pun ikut mengalami pasang surut seiring naik turunnya emosi. Usia 14 - 16 tahun, umumnya mulai ada problema perasaan yang lain. Sebagian anak di usia 14 tahun bahkan lebih muda dari usia itu, sudah memiliki rasa suka dengan lawan jenis. Ada yang mengumbar perasaan lewat status di media sosial, tapi ada pula anak yang sudah bisa memilah dengan baik apa yang pantas diumbar di media sosial. 
Anak saya justru lebih sering menjadi tempat curhat teman-temannya yang sedang kasmaran, meski dia sendiri tahu benar kalau tidak ada izin untuk berpacaran di usia belianya itu. Jangan pernah lepaskan kesempatan untuk menjadi sahabat terbaik anak kita di usia seperti ini. Selalu tanamkan pada buah hati kita bahwa dunia tetap akan berlanjut meski hatinya luluh lantak.Karena itu, jangan pernah larut dalam sebuah masalah. Karena ada yang jauh lebih penting di dunia daripada galau karena asmara.
Go Away Galau!

Hal yang perlu kita sadari adalah meski tubuh mereka mulai berkembang seperti orang dewasa, tapi mereka tetaplah seorang anak. Pikiran mereka masih belum sepenuhnya matang sehingga masih membutuhkan perhatian kita. Jangan pernah biarkan dengan postur tubuhnya yang sudah seperti orang dewasa, mereka dapat melakukan seperti halnya orang dewasa. Terutama coba-coba merokok dan minum alkohol supaya bisa diterima di kalangan lingkungan tertentu dan dianggap keren. 
Sebagai orangtua, kita juga tidak boleh berperan sebagai hakim apalagi sipir yang siap menghukum kalau anak berbuat kesalahan.
Waktu saya SMP, ada salah seorang teman saya yang menggunakan uang SPP untuk membeli rokok. Begitu orangtuanya tahu, dia malah dipermalukan di depan seisi kelas. Sejak peristiwa tersebut, teman saya itu selalu bolos sampai akhirnya dia tidak naik kelas. 
Belasan tahun kemudian, saya bertemu dengan teman saya itu dan dia bercerita bahwa dampak perbuatan orangtuanya itu masih membekas sampai dia dewasa. 
Kita boleh menghukum anak, tapi tetap ada batas-batas tertentu sehingga tidak menjadi mimpi buruk yang mengikuti sampai anak dewasa. 
Semoga masa-masa puber yang tidak nyaman ini, membuat anak kita bisa tumbuh menjadi dirinya sendiri yang berani menatap masa depan gemilang di depannya. Galau? No Way!


foto : google images



Tidak ada komentar:

Posting Komentar