Pages

Rabu, 13 Mei 2015

Belajar Dari Totto-Chan

Punya mata tapi tak melihat keindahan. Punya telinga tapi tak mendengar musik. Punya pikiran tapi tak memahami kebenaran. Punya hati tapi tak pernah tergerak, itulah hal yang harus ditakuti. – Sosaku Kobayashi
Gadis kecil itu sangat terpesona dengan meja belajar di kelasnya. Meja itu juga berfungsi menjadi laci tempat para murid menyimpan buku pelajaran. Ketika menyadari kalau meja itu dibuka dan kemudian ditutup akan menimbulkan suara, gadis bernama Totto-Chan itu lalu melakukannya berkali-kali sehingga membuat gurunya marah karena suaranya merusak suasana belajar. Totto-Chan lalu dicap sebagai murid bermasalah dan dikeluarkan dari sekolah.
Totto-Chan adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar sekaligus jiwa sosial yang sama besarnya. Meski beberapa sekolah konvensional menganggapnya bermasalah, tapi dia memiliki hal istimewa yang tak dimiliki anak lainnya. Karakter!
Kalau orangtua pada umumnya cemas dan panik ketika anaknya dicap bermasalah oleh beberapa sekolah, tidak demikian halnya dengan orangtua Totto-Chan. Mereka tetap berupaya mencarikan sekolah terbaik yang mau menerima anaknya apa adanya.
Totto kemudian diterima di sebuah sekolah yang dipimpin Susaku Kobayashi. Sekolah itu, Tomoe Gakuen,  menjadi tempat yang sangat berkesan bagi Totto, nama kecil Tetsuko Kuroyanagi, yang kini menjadi artis terkenal sekaligus Duta Unicef. Dia menuliskan kenangannya bersekolah di Tomoe Gakuen dalam sebuah novel yang menjadi salah satu buku terlaris  di dunia.
Belajar Itu Menyenangkan
Susaku Kobayashi adalah guru yang berani menembus sistem dan tradisi umum di masyarakat dengan menerapkan metode pendidikan yang tidak lazim. Dia mengajak muridnya melakukan apa saja  yang mereka senangi. Ruang kelas yang berupa gerbong kereta tak terpakai  membuat anak-anak selalu merasa sedang melakukan perjalanan yang seru dan menyenangkan. Baginya, belajar itu adalah bagaimana murid menikmati proses belajar itu sendiri. Semua murid adalah juara dan dia memotivasi murid-muridnya dengan mantra ajaib, “Kau bisa melakukannya!”
Hal itu yang jarang sekali dilakukan para guru pada umumnya yang lebih mengutamakan nilai akademik anak didiknya. Guru-guru lebih mengutamakan murid yang pintar matematika daripada yang berbakat di bidang seni atau olahraga.
“Ironisnya, para orangtua juga bersikap sama. Ketika nilai matematika anaknya jelek, dunia seolah mau runtuh. Anak lalu dimasukkan les matematika untuk memperbaiki nilainya. Sementara ketika anak pintar melukis, menulis syair, tidak mendapat apresiasi yang sama, karena pelajaran kesenian bukan pelajaran unggulan di sekolah,” ujar Henny Supolo Sitepu, Ketua Yayasan Cahaya Guru, yang rajin melakukan pelatihan untuk para guru di Indonesia.
Henny juga menjelaskan kalau pendidikan karakter itu sangat penting ditanamkan sejak dini sehingga menghasilkan generasi masa depan yang berkualitas dan menghargai nilai-nilai kejujuran. “Dan itu bukan hanya menjadi tanggungjawab guru dan orangtua saja, tapi juga pemerintah sebagai penentu kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan”.
Sekolah memang sudah seharusnya menjadi madrasah yang melahirkan intelektual berkarakter baik dan mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. 




 foto-foto : google images

2 komentar:

  1. Aku juga sangat terkesan dengan buku itu.Menyenangkan sekali bersekolah di sana. ira

    BalasHapus
  2. Wah... Terimakasih banyak ya mba, sdh berkenan mampir.. Iya,mba, aku suka sekali dgn buku totto chan, seharusnya itu menjd buku wajib para guru

    BalasHapus