Pages

Sabtu, 23 Mei 2015

Kisah Sedih Di Balik Lagu Hits

Lagu yang mungkin menjadi favorit kita ternyata tidak sedikit yang lahir dari kisah sedih yang dialami penggubahnya. Itulah mungkin yang dimaksud, selalu ada hikmah di dalam setiap musibah. 
Saat sedang duduk sendiri di sebuah kafe, tanpa sadar saya menangis begitu mendengar lagu "Tears in Heaven" yang diputar di kafe tersebut. Terbayang, kepergian buah hati saya tercinta yang telah berpulang 15 tahun silam. Lagu Tears in Heaven memang ditulis Eric Clapton dibantu Will Jennings untuk mengenang  putranya, Conor Clapton, yang meninggal dunia di usia 4 tahun.  
Buah hati Eric dari pernikahannya dengan seorang aktris Italia, Lori Del Santo ini meninggal karena terjatuh dari jendela lantai 53 di apartemen New York City pada 20 Maret 1991 siang.
Eric Clapton dan Conor
Tidak hanya lagu Tears in Heaven saja yang lahir karena kisah sedih penulisnya. Lagu Gloomy Sunday yang dipopulerkan  penyanyi jazz terkenal Billie Holiday juga dituliskan berdasarkan kisah sedih yang dialami Rezso Seress, musisi Hungaria yang menciptakan lagu tersebut di awal 1930-an. Oleh seorang penulis puisi bernama Laszlo Javor, lagu yang awalnya berkisah tentang duka yang dirasakan  Seress akibat perang kemudian diubah liriknya menjadi keinginan bunuh diri karena keperian kekasihnya. Judul yang semula Vege a Vilagnak, atau Dunia Sedang Berakhir berganti jadi Szomoru Vasarnap atau Sabtu Sedih yang kemudian dikenal dengan lagu Gloomy Sunday.
Rezso Seress
Lagu tersebut sempat dilarang di beberapa karena dianggap memicu meningkatnya angka kasus bunuh diri. Seress sendiri juga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jendela apartemennya sehari setelah ulang tahunnya yang ke-69. 
Billie Holiday
Lagu "Fur Elise" gubahan Beethoven yang sangat populer hingga saat ini merupakan bentuk cinta tak sampai sang maestro. Banyak yang bertanya, siapa sebenarnya Elise yang dimaksud Beethoven hingga membuat berbagai spekulasi tentang sosok perempuan yang telah mematahkan hatinya itu. Hal yang kemudian dipercaya sebagai sosok Elise adalah Theresa Malfatti von Rohrenbach zu Dezza (1792-1851) yang telah menikah sebelum Beethoven mengungkapan perasaan cintanya. Konon, ketika karya tersebut dipublikasikan pada tahun 1865, Ludwig Nohl, yang menemukan gubahan tersebut salah menyalin judulnya sehingga yang seharusnya Fur Theresa menjadi Fur Elise. Sedangkan Klaus Martin Kopitz, musikolog asal Jerman berhipotesa lagu tersebut justru dipersembahkan Beethoven kepada Elisabeth Rockel, seorang penyanyi yang pada tahun 1813 menikahi komposer Johann Nepomuk Hummel.

Siapa yang mengira kalau lagu "All About That Bass" lahir karena pengalaman menyakitkan yang dialami penulisnya ... Ketika berusia 13 tahun, Megan Trainor menyukai seorang anak laki-laki, teman sekolahnya. Tapi ketika Megan mengungkapkan perasaannya, anak itu menjawab bahwa dia baru mau berkencan kalau Megan bisa menurunkan berat badannya setidaknya 5 kg. Ucapan tersebut sangat membekas di hatinya dan membuatnya sangat terpukul.  
Lewat lagu yang berhasil menguasai puncak tangga lagu di seluruh dunia ini, Megan berhasil menjadikan hinaan sebagai motivasi buat dirinya bangkit dan melakukan yang terbaik tanpa merasa rendah diri dengan bentuk tubuhnya. 
Meghan Trainor
Lagu "Wake Me Up When September Ends" merupakan pengalaman menyedihkan Billie Joe Armstrong, vokalis Green Day yang ditinggal pergi sang Ayah untuk selama-lamanya. Ketika Billie berusia 10 tahun, pada 1 September 1982, Ayahnya meninggal dunia karena kanker. Bagi Billie, pemakaman Ayahnya itu sangat menyakitkan sehingga meninggalkan upacara tersebut dan berlari ke rumah lalu mengunci diri di dalam kamar. Ketika Ibunya mengetuk pintu kamarnya, dia berteriak sambil menangis," Wake me up when September ends." Kata-kata itu terus terekam di kepalanya hingga 20 tahun kemudian dia menuliskan lagu dengan judul kata-kata tersebut dan memasukkan baris, "Like my father's come to pass, 20 years has gone so fast"
Billie Joe Armstrong
Patah hati juga bisa menjadi motivasi buat menghasilkan karya fenomenal. Hal itu pula yang dilakukan Adele ketika orang yang dicintainya memilih hidup bersama perempuan lain. Lewat lagu "Someone Like You" Adele tidak hanya mampu membius jutaan orang yang dirundung duka karena putus cinta tapi sekaligus mengantarkannya menjadi superstar. 
Adele
Kepergian seorang sahabat menginspirasi terciptanya lagu "A Day In The Life" yang dipopulerkan The Beatles. Lagu yang dirilis tahun 1967 itu diangkat dari tragedi yang menimpa Tara Browne. John Lennon menuliskan lagu itu setelah membaca koran yang memberitakan  kematian Tara dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tara menabrak sebuah truk yang sedang diparkir karena tidak melihat lampu lalu lintas yang telah berganti warna. 
The Beatless
Tara Browne dan pasangannya Nicky Browne
Di balik keceriaan lagu "Save The Last Dance For Me" yang dinyanyikan Michael Buble dalam irama jazz swing terselip kisah sedih dari penulis lagu tersebut. Dia adalah seorang laki-laki cacat yang harus merelakan istrinya berdansa bersama laki-laki lain karena dia tidak bisa melakukannya. Dalam salah satu liriknya tertulis kata-kata," But don't forget who's takin you home and in whose arm you're gonna be." Tapi dia juga menambahkan," If he asks if you're all alone, can he walk you home, you must tell him no." 

Michael Buble
Kematian Marilyn Monroe  menginspirasi Elton John menuliskan lagu berjudul "Candle in The Wind". Lagu yang ditulis pada 1973 ini menceritakan kehidupan bintang hollywood yang meninggal secara tragis pada 1962 ketika usianya masih 36 tahun.
Marilyn Monroe
Lagu yang sama juga dinyanyikan Elton untuk mengenang kepergian sahabatnya, lady Diana. Lagu tersebut dinyanyikan Elton pada upacara pemakaman Diana dengan mengubah kalimat pertama yang semula "Goodbye Norma Jean" menjadi "Goodbye England's Rose". Lagu itu kemudian dijual sebagai single dengan tambahan sub judul: "In Loving Memory of Diana, Princess of Wales" dan menjadi single yang paling banyak terjual dalam sejarah sehingga tercatat dalam Guinness Book of Record. 
Lady Diana
Elton John bersama Lady Diana



Rabu, 20 Mei 2015

Wajah Memilukan Perpustakaan Kota Depok


Perpustakaan tidak hanya membutuhkan fasilitas mewah maupun sokongan dana, tapi cinta dan peduli. Perpustakaan Kota Depok, salah satu contoh perpustakaan yang tidak dikelola dengan baik. 
Tiada hal yang membuat saya bahagia ketika membaca berita tentang diresmikannya Perpustakaan Umum di kota tempat saya bermukim, Depok. Sudah terbayang, bagaimana saya kelak bisa membawa kedua putri saya menghabiskan waktu di perpustakaan ini. Apalagi, lokasinya yang berada di kompleks Kantor Walikota Depok, cukup strategis untuk warga Depok sekitarnya, termasuk saya. Cukup sekali naik angkot, sudah sampai ke Perpustakaan yang terletak hanya selemparan batu dari Terminal Depok, Stasiun Depok Baru dan pusat perbelanjaan ITC Depok dan Plaza Depok. Dari berita yang saya baca di media online, bangunan perpustakaan yang diresmikan oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, Senin, 27 April 2015 itu terdiri dari 3 lantai, dimana lantai 1 berupa hall pameran dan ruang serbaguna. Terdapat pula ruang untuk lansia dan ruang balita. Sementara di lantai 2 terdapat ruang informasi, ruang baca umum, ruang baca anak dan layanan multimedia. Ruang perpustakaan sendiri terletak di lantai 3 bersama dengan ruang diskusi dan teater. 
Suasana perpustakaan yang lengang namun hampa 
Rasa penasaran dengan berita yang saya baca tersebut akhirnya mengantarkan saya ke perpustakaan yang berlokasi di gedung berlantai tiga nan wah itu. Saya sengaja mengajak putri sulung saya yang sudah 5 tahun mengelola taman bacaan gratis di rumah kami. Ekspektasi kami berdua, kalaupun perpustakaan tersebut tidak selengkap Perpustakaan Diknas di kantor Kemendiknas, maupun sekeren perpustakaan Freedom Institute dan perpustakaan di kampus UI, paling tidak, nyamanlah buat kami yang ingin menambah wawasan dengan koleksi bukunya yang katanya mencapai 19.250 buku dengan 11.855 judul buku. Tapi ternyata, semua ekspektasi itu ibarat jauh panggang dari api. Ibarat langit dan bumi dengan semua perpustakaan yang pernah saya sambangi selama ini. 
Ini yang katanya jumlah koleksi buku mencapai 19.250 buku dengan hampir 12 ribu judul...
Siapa yang tertarik membaca dengan buku yang tidak tertata dengan baik seperti ini
Kemana buku yang katanya ribuan itu? 


Bikin Geregetan

Sejak awal memasuki gedung berlantai 3 ini, sebenarnya perasaan saya sudah merasa tidak enak. Lobinya lengang, sementara jejeran rak kosong tertata tidak beraturan di salah satu sisi ruangan. Tampak beberapa anak berseragam putih abu-abu keluar dari lift disertai seorang PNS .
Pegawai perempuan itu pula yang mengarahkan kami menaiki lift karena perpustakaan umum terletak di lantai 3.
Kami semakin semangat dan berharap bisa menemukan oase kota Depok 
di tempat ini.
Tapi, harapan tinggallah harapan.
Lantai 3 yang dimaksud itu, hanyalah sebuah ruangan yang sama sekali
tidak mengesankan sebuah perpustakaan. 
Tampak seorang pegawai duduk lesu di sebuah meja yang di atasnya 
terletak buku daftar pengunjung, 
tak ubahnya  meja penerimaan pasien di puskesmas.
Sama sekali tidak mengesankan moderen seperti yang diberitakan media online itu. 
Rak penitipan barang dan tas juga kosong yang menandakan bahwa 
tidak ada pengunjung yang datang, selain kami berdua dan  tiga orang anak
sekolah tadi. 
Tidak ada petugas yang tergerak untuk merapikan buku-buku yang berantakan ini 
Suasana ruangan yang luas tapi kosong itu sama sekali tidak 
representatif sebagai sebuah perpustakaan yang diresmikan oleh 
seorang walikota. 
Pegawai yang bertugas di bagian perpustakaan ini selain tidak memiliki 
inisiatif juga tidak memiliki passion di bidang kepustakaan. 
Mereka hanya duduk santai  sambil bermain gadget dan tidak ada satupun 
yang tergerak merapikan buku-buku yang berantakan. 
Dari sekali pandang saja, saya bisa menaksir kalau jumlah buku tersebut 
tidak ada separuhnya dari jumlah koleksi buku di perpustakaan 
sekolah anak saya, bahkan di taman bacaan kami yang sederhana. 
Sempat terpikir, 
apakah Bapak Walikota yang meresmikan perpustakaan ini pernah
meluangkan waktunya untuk mampir dan membaca di perpustakaan 
yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari kantornya ini ? 
Apakah dia berpikir, bahwa tugasnya hanya sekadar 
meresmikan saja, selebihnya sudah bukan urusannya lagi? 
Terbayang, apakah senyum Pak Walikota akan sesumringah seperti foto 
di atas kalau dia melihat bagaimana kondisi perpustakaan itu hanya 
berselang 3 minggu setelah dia resmikan? 
Bahkan, perpustakaan yang ada di Terminal Depok dan dikelola oleh seorang 
mantan preman terminal itu jauh lebih baik dari perpustakaan 
yang pengelolaannya menggunakan dana APBD ini. 
Masak kalah sih, sama mantan preman... Malu, dong ah!
 Foto : Ade & Google Images




.


Senin, 18 Mei 2015

Work Hard , Pray Harder

Seorang bijak pernah memberi nasihat bahwa manusia boleh saja berencana tapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Begitu pun, pasrah pada suratan takdir  juga bukan pilihan yang bijak.
Alkisah, dua orang pedagang sepatu dihadapkan pada satu tantangan bisnis untuk melakukan ekspansi ke sebuah negeri terpencil. Gambaran yang jelas di berikan kepada mereka adalah masyarakat di negeri itu  tidak memakai sepatu. Pedagang pertama langsung memutuskan menolak dengan alasan, produk sepatunya tidak akan laku kalau dijual di sana. Sedangkan pedagang kedua dengan antusias menerima tantangan tersebut  karena merasa ini adalah peluang emas untuk memasarkan produk sepatunya. Banyak orang yang mengambil keputusan sebelum mencoba. Tak jarang terdengar keluhan dari seseorang yang mengatakan bahwa dia sudah beribadah dengan sungguh-sungguh, salat dan puasa, tapi tetap saja miskin, sedangkan yang jarang beribadah, salat bolong-bolong justru kaya raya. Itu namanya takdir.
Mempercayai takdir, baik maupun buruk atau disebut Qada dan Qadar, wajib hukumnya. Namun Qada dan Qadar ini juga mendatangkan dua hal  yang saling kontradiktif jika  tidak memahami dengan betul akan makna takdir ilahi. Bagi yang memahami, hidupnya   senantiasa dalam keadaan nyaman dan tenteram, serta terhindar dari sifat sifat mazmumah seperti, iri hati, dengki karena semuanya sudah dipasrahkan kepada Allah.  Sedangkan bagi kurang faham, dengan alasan takdir seseorang jadi malas berusaha karena semuanya sudah ditentukan oleh Allah Swt.  
Rahasia Allah
Menurut Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni, BA.M.Phil.Ph.D.,  Senior Lecturer Department of Islamic Theology & Religion, Islamic Science University of Malaysia, semua peristiwa , kejadian dan keadaan  yang telah dan akan dihadapi manusia berada dalam pengetahuan, pengamatan serta kekuasaan Allah Swt.
Namun bukan berarti takdir seseorang itu tidak akan berubah. Karena takdir itu sendiri ada dua, yakni takdir yang pasti berlaku pada diri seseorang yang disebut Qada Mubram dan takdir bersyarat atau Qada Mu’allaq.
Adapun langkah untuk mengubah takdir yang mu’allaq adalah dengan berusaha, berdoa dan tawakkal. Jika ketiga upaya itu sudah dilakukan, maka tinggal menunggu ketentuan Allah Swt. Karena sesungguhnya tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi,” Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (Q.S. Al-Mu’min : 60).”
Tidak ada Yang Instan
Salah satu hal yang membuat banyak orang gagal mewujudkan resolusinya adalah karena menghindari takdir, bukan menghadapinya. Ingin mengubah nasib tapi tidak mengubah pola pikir dan pola hidup itu sama saja dengan menyerahkan segala sesuatu pada suratan nasib.
Tidak cukup menghadapinya hanya dengan kerja keras tapi juga diimbangi dengan doa dan ibadah. Tapi mengapa tidak semua doa langsung dikabulkan oleh Allah Swt? Sekali lagi jangan menyalahkan takdir dan berputus asa, karena Allah lebih mengetahui kondisi hamba-Nya bahkan dari hamba-Nya sendiri. Seringkali Allah menyiapkan kondisi hamba-Nya terlebih dahulu sebelum mengabulkan doa mereka. Caranya, bisa lewat kemantapan hati saat mengambil keputusan atau merasa gelisah ketika hendak melakukan sesuatu yang salah. Allah hanya memberi jawaban melalui sinyal-sinyal yang Dia berikan, sedangkan keputusan tetap ada pada diri hamba-Nya. Karena Allah telah membekali manusia dengan akal untuk berfikir. Allah lebih tahu kapan saat yang tepat untuk mengijabah doa hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi : "Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta'ala adalah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.”



Waduh! Si Kecil Sudah Ngerti Pacaran...

Mudahnya  mengakses informasi serta pengaruh tayangan televisi yang kurang mendidik, menjadi sebagian faktor yang membuat anak di usia Sekolah Dasar sudah mulai mengerti berpacaran.
Saat arisan RT, salah seorang Ibu bercerita perihal anaknya yang sudah mengerti soal pacar-pacaran. Hal itu dia ketahui  ketika melihat profil facebook anaknya yang masih duduk di kelas  5 SD jelas tertera tulisan relationship with Denish, yang menjelaskan kalau anaknya itu sedang menjalin hubungan dengan temannya yang bernama Denish.
Ibu yang kebetulan tinggal di belakang rumah saya itu lebih lanjut bercerita kalau dia  pun langsung membuka akun facebook “pacar” anaknya. Ternyata, Denish juga menuliskan status yang sama, relationship with Tita, nama anaknya. Dari status dan foto-foto yang ada di akun keduanya, dia mengetahui kalau Denish dan Tita merupakan teman sekelas di tempat les bimbingan belajar. “Saya menjadi semakin panik, apalagi saya melihat di album foto Tita, banyak sekali foto selfie mereka berdua, meski masih dengan gaya anak-anak. Tapi saya tetap khawatir."
Ternyata tetangga saya itu tidak sendiri. Tetangga saya yang lain juga mengalami hal yang sama. Bedanya, Kikan, anaknya Ibu Nimas yang masih kelas 6 SD justru menanyakan apakah dia boleh berpacaran dengan Redi, teman sekelasnya.
        “Walaupun sempat kaget dengan pertanyaannya itu, tapi saya tidak langsung memarahinya. Saya justru menjadikan kesempatan ini untuk menjelaskan bahwa anak seusianya belum boleh pacaran. Saya juga menjelaskan tentang mudaratnya berpacaran di dalam Islam. Alhamdulillah dia mengerti. Mungkin karena masih kecil, dia mengira kalau suka dengan seseorang, itu artinya pacaran.”
Menurut Psikolog Ike R. Sugianto, sebenarnya fenomena pacaran di kalangan anak-anak sudah terjadi sejak dulu. Tapi karena dulu belum ada  media sosial, tempat mereka mengungkapkan segala hal yang dirasakan dan dialami, jadi fenomena tersebut tidak seramai saat ini.
        “Suka dengan lawan jenis saat usia pra remaja itu wajar karena di usia tersebut sudah mulai tumbuh rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Tapi dulu, masih malu-malu dan belum berani diwujudkan dan dinyatakan sejauh ini, apalagi di depan teman-teman,” ujar Ike, seperti dikutip dari wawancaranya dengan merdeka.com.
Banyak Faktor Penyebabnya
Perkembangan teknologi saat ini memang sulit membendung apa yang diserap oleh anak. Berbagai informasi dengan cepat tersebar luas termasuk ketika seorang anak SMP secara terbuka  menyatakan cintanya kepada seorang anak SD sambil membawa kue dan boneka. Momen yang diposting di media sosial ini dengan cepat tersebar dan mengundang berbagai reaksi dari nitizen,terutama para orangtua.
“Faktor utama yang paling mempengaruhi itu adalah tayangan televisi, apalagi di usia-usia seperti itu. Semua asalnya dari apa yang mereka lihat dan tonton. Meski mereka belum berpikir panjang tentang ketertarikan dengan lawan jenis, tapi mereka sudah punya defenisi yang berbeda-beda tentang pacaran. Gandengan tangan dan pergi ke mal bareng saja terkadang sudah mereka sebut pacaran.”  Ike berharap orangtua bisa belajar dari kasus ini dan menjadi semakin dekat dengan anak.
Selain itu, orangtua juga sebaiknya menjelaskan kepada anak tentang apa itu pacaran dan apa bedanya dengan berteman biasa. Karena banyak anak SD yang sudah berpacaran itu memanggil pacarnya dengan sebutan Ayah dan Bunda. Dampingi mereka saat menonton televisi, karena alat ini bisa menjadi musuh yang paling berbahaya di rumah Anda. Selalulah pantau akun media sosial anak terutama postingan mereka. Seringkali ketidakmengertian mereka sehingga suka latah berbagi info yang sebenarnya belum sesuai untuk usia mereka. So, para Ibu, jangan panik, kalau anak berceloteh tentang pacarnya, hadapi dengan tenang karena bisa jadi yang disebut pacar itu hanya teman yang pernah berbagi bekal makan dengannya, tidak lebih. 



Minggu, 17 Mei 2015

Flavor Bliss , Pleasure Place For Hang Out

Kini, tak perlu bingung mencari tempat untuk menikmati momen istimewa bersama keluarga maupun sahabat. Cukup satu tempat yang membuat suasana hang out tak terlupakan, The Flavor Bliss, Alam Sutera!
Sebelum mengenal The Flavor Bliss, saya termasuk orang yang paling menghindari acara yang berlangsung  di kawasan Serpong dan Alam Sutera. Jauh, booo! Tapi acara yang menampilkan penulis favorit saya di The Flavor Bliss, membuat saya mengabaikan alasan jarak dan waktu, demi bertemu dan belajar soal dunia menulis dari seorang Dewi Lestari.
Masalahnya, kembali lagi ke jarak Citayam-Serpong yang lumayan jauh dan bingung mau naik apa ke Serpong. Namun,  semua keraguan saya terjawab. Salah seorang teman  memberi tahu kalau saya bisa naik commuter dan turun di Stasiun Tanjung Barat lalu naik Bis Agra Mas jurusan BSD dan turun persis di depan gerbang Alam Sutera. Praktis banget, kan..
Pengalaman pertama naik kendaraan umum menuju Alam Sutera dan suasana tempat berlangsungnya acara bersama Dewi Lestari, membuat saya langsung jatuh cinta dengan The Flavor Bliss. Meski acara sudah usai, saya memilih menghabiskan waktu di The Flavor Bliss. Saya lalu menghubungi teman saya yang kebetulan tinggal di kawasan Serpong dan menikmati datangnya senja di Bandar Djakarta yang terletak tak jauh dari lokasi acara Woman In You. 
Pusat Kuliner dan Hiburan
Terletak tak jauh dari Gerbang Alam Sutera, tepatnya di area ring O, Alam Sutera, The Flavor Bliss merupakan satu-satunya tempat hang out ikonik yang fokus pada eat, play and shop. Pusat kuliner sekaligus hiburan bagi keluarga dengan berbagai fasilitas dari puluhan tenant ternama. Sejak kehadirannya pada 2009 silam, The Flavor Bliss dengan cepat mencuri hati para pecinta kuliner. Lokasinya yang mudah dijangkau termasuk untuk warga Citayam, seperti saya, membuat The Flavor Bliss menjadi destinasi untuk hang out tidak hanya buat warga Serpong dan sekitarnya tapi juga warga Jakarta, dan sekali lagi, orang Citayam seperti saya. 
Seminggu berselang setelah acara Woman In You yang "memaksa" saya datang ke The Flavor Bliss, saya kembali datang bersama sahabat saya yang datang dari Medan. Tak perlu bingung untuk menentukan tempat makan yang ingin dituju, karena bisa mengetahuinya lewat akun facebook Flavor Bliss atau mengakses websitenya di http://www.theflavorbliss.com. 
Hal yang membuat jauhnya perjalanan Citayam-Alam Sutera terbayarkan, karena di The Flavor Bliss tidak hanya menyediakan puluhan tenant kuliner ternama tapi juga event-event yang melibatkan masyarakat dan pengunjung. So. it's worth it!
Shop Til You Drop
Sebagai destinasi entertainment & family dine in yang unik di barat Jakarta, The Flavor Bliss ibarat sekeping surga terutama bagi penyuka aktivitas eat, play and shop. Area seluas 6,8 hektar yang terdiri atas Flavor Bliss 1 dan 2 itu menampung lebih dari 30 restoran dan kafe, seperti Warung Tekko, Nanny's Pavillon, Planet Noodle, Sushi Tei, Warung Si Doel, Radja Ketjil dan lain-lain. 
Suasana hang out dan belanja semakin menyenangkan karena The Flavor Bliss kerap menggelar event-event seru. Mulai dari berbagai talk show dengan tema-tema yang menarik dan penuh manfaat, seperti acara Woman in You yang menghadirkan Dewi Lestari juga pertunjukan live music dan yang paling penting, bazaar! 
Dari teman saya yang tinggal di Serpong, saya tahu kalau The Flavor Bliss juga menyediakan ruangan out door bagi yang ingin mengadakan acara, mulai dari acara kantor, arisan  hingga pesta. Berbagai info tentang The Flavor Bliss termasuk event apa yang akan digelar semua bisa diketahui lewat akun media sosial The Flavor Bliss, seperti Twitter : @flavorbliss, Instagram: @flavorbliss, Email : contact@theflavorbliss.com. 
Hal seru lainnya, The Flavor Bliss juga menambah sarana hiburan lain yang bisa membuat suasana hang out semakin menyenangkan, di antaranya Spartan Futsal dengan lima lapangan futsal indoor dan Patriot Paintball Sports.

Setelah mengenal The Flavor Bliss dengan segala fasilitas dan suasananya, saya, si orang Citayam ini justru punya tempat hang out baru yang meski jauh tapi terasa dekat. The Flavor Bliss menjadi tempat saya membuat janji bersama teman-teman terutama yang datang dari luar kota. Tak ada lagi yang merasa seleranya diabaikan, karena beragam pilihan kuliner tersedia di tempat ini. Tak ada lagi kebingungan mau ngapain lagi setelah makan, karena The Flavor Bliss adalah tempat hang out yang memiliki konsep one stop destination. Termasuk belanja sampai gempor...!

Foto: Google Images




Jumat, 15 Mei 2015

Young & Restless

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah Rasulullah Saw, banyak sekali kisah tentang besarnya kasih sayang dan harapan Rasulullah Saw pada anak-anak muda.
Meski pun masa muda adalah masa pencarian identitas diri, namun tidak sedikit dari mereka yang sudah menemukan jati diri di usia yang masih sangat belia. Bahkan, di jaman Rasulullah Saw pun banyak sekali anak muda yang menonjol kiprahnya terutama dalam hal membantu perjuangan Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama Islam.
Rasulullah Saw mengangkat Uttab bin Usaid menjadi Walikota Mekkah saat usia Uttab baru 21 tahun. Uttab juga tercatat sebagai pemimpin pertama yang diamanahkan Rasulullah Saw untuk mengimami salat berjamaah setelah penaklukan kota Mekkah.
Kepercayaan besar lainnya juga diberikan Rasulullah Saw kepada Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun untuk  menjadi pemimpin pasukan Islam saat perang melawan pasukan  Romawi. Pengangkatan ini tak pelak  mengundang penolakan dari sebagian besar sahabat. Namun Rasulullah Saw yang saat itu tengah sakit keluar dari rumah dan berjalan menuju mimbar. 
Beliau lalu bersabda, “ Wahai manusia! Saya sangat sedih karena penundaan keberangkatan tentara itu. Nampaknya, kepemimpinan Usamah tidak disukai oleh sebagian dari kalian. Dan kalian mengajukan keberatan. Namun, keberatan dan pembangkangan kalian ini bukanlah pertama kali. Sebelum ini, kalian juga mengkritik kepemimpinan Zaid, ayah Usamah. Saya bersumpah demi Allah bahwa ia pantas untuk jabatan ini, begitu pula putranya. Saya menyayanginya. Wahai manusia! Berlaku baiklah kepadanya. Ia salah seorang yang baik di antara kamu sekalian.”
Keistimewaan Usia Muda
Sesungguhnya ada lima hal yang baru terasa nilainya jika hilang dari kehidupan, yaitu masa muda, masa sehat, masa kaya, masa luang dan masa hidup di dunia.
Seseorang baru menghargai betapa bernilainya kesehatan ketika sakit datang menyerang, demikian pula halnya dengan usia muda. Banyak orang yang menyesali hal-hal yang tidak dia lakukan ketika usianya masih muda. Namun, sesal itu tidak akan ada gunanya karena masa muda tidak pernah terulang seperti halnya kehidupan.
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Saw bersabda,” Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu kefakiranmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu dan hidupmu sebelum datang kematianmu.”
Usia muda adalah waktu yang penuh semangat untuk berkarya dan beramal. Namun kebanyakan anak muda berprinsip bahwa masa muda itu masanya bersenang-senang dan amal itu hanya untuk orang tua saja. Meski sebagian berusaha melakukan segala hal untuk menorehkan nama mereka dalam sejarah, tidak sedikit pula yang mengakhiri masa mudanya dengan kisah tragis, larut dalam godaan duniawi dan menangisi semua itu ketika usia merambat senja.  
Daud Ath Tho’i sebagaimana dinukil dari kitab “Kam Madho Min ‘Umrika?” dengan tegas menyatakan, “ Sesungguhnya malam dan siang adalah persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu menuju negeri akhirat. Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba.”
Betapa meruginya jika menyia-nyiakan kesempatan berkarya dan beramal  di usia muda. Karena bagaimana pun penyesalan yang datang terlambat tidak akan mampu mengubah akhir dari apa yang sudah dijalani.




foto ilustrasi : Google Images

Kamis, 14 Mei 2015

Ketika Cinta Oma Mengalahkan Cinta Mama

Tidak ada yang menampik kalau kebanyakan  nenek sangat memanjakan cucunya.  Hal ini tak urung membuat konflik antara Ayah Ibu dengan Kakek Nenek terutama dalam hal perbedaan pola asuh.
Sudah beberapa bulan ini, tetangga saya, Sena, merasa uring-uringan pada Ibunya. Dia mendatangi saya yang sedang menjemur pakaian dan bercerita kalau setiap kali dia memarahi Najwa, anaknya, Ibunya pasti menegurnya dan mengatakan kalau mengurus anak itu harus sabar dan jangan suka memarahi anak. Padahal, seingatnya dulu, Ibunya juga sering memarahi bahkan memukul bokongnya kalau dia berbuat nakal.
        “Akibatnya, Najwa jadi manja dan kalau saya marahi dia pasti lari ke Eyang Uti. Bagaimana saya tidak kesal dibuat Ibu,” keluhnya.  Mendengar cerita Sena, tetangga saya lainnya, Mba Yanti,  menghampiri dan menambahkan kalau ibunya justru kebalikan dari Ibunya Sena.  “Terkadang saya suka nggak tega kalau melihat anak saya yang masih kecil sudah harus belajar membersihkan kamarnya sendiri. Tapi, saya tahu bahwa itu dilakukan Mama untuk kebaikan anak saya juga, sama seperti saya yang sudah memetik hasil didikan displin dari Mama." ..
Benefits Of Grandparenting
Apa yang dialami kedua tetangga saya  di atas memang menjadi bagian dari kisah sehari-hari. Tinggal bersama orangtua, seperti Sena  atau sebaliknya orangtua tinggal di rumah anaknya, seperti Mba Yanti, membuat kedua belah pihak merasa bertanggungjawab atas pengasuhan anak.
Kasus yang paling banyak terjadi adalah ibu bekerja yang menitipkan anak pada Ibunya. Selain karena tidak memiliki pengasuh, tidak sedikit yang memilih menitipkan anak pada Ibu karena kurang percaya menitipkan anak pada pengasuh.
Menurut Sharon L. Mader, Extension Educator, Family and Consumer Sciences Associate Professor, Sandusky County, sebagaimana dimuat pada laman The Ohio State University Extension, Kakek Nenek yang tinggal bersama cucunya, biasanya memberikan banyak kontribusi dan pengaruh dalam pola asuh cucunya. Menjadi Kakek atau Nenek sebenarnya memiliki keuntungan tersendiri, karena tanpa tanggung jawab utama dalam membesarkan anak-anak tapi memiliki semua nilai-nilai kebaikan. Banyak Kakek Nenek yang tanpa sadar memanfaatkan kondisi ini dengan melimpahkan cucu-cucunya kasih sayang yang berlebihan.
“Ibu saya selalu menyimpan uang pensiunnya untuk diberikan kepada cucunya. Jadi, kalau dia lihat cucunya menginginkan sesuatu dan kita tidak mengabulkannya, Ibu saya diam-diam akan membelikan apa yang menjadi keinginan cucunya itu. Di mata anak saya, saya itu terkesan pelit sedangkan neneknya malaikat pelindung yang selalu baik hati,” Sena menambahkan.
Sebagai orangtua, tentu ingin mendidik anak-anak menjadi anak yang shalih dan salihah.  Hanya saja keinginan itu terkadang tidak berjalan dengan mulus. Salah satu hal yang bisa menghambat proses pendidikan anak adalah, jika ada banyak pihak yang turut berperan dalam pendidikan anak-anak kita, tapi berbeda prinsip dengan kita.
 Agak sulit memang mengatasi situasi yang demikian. Apalagi kalau yang mengacaukan program pendidikan yang sudah dibuat itu justru orang-orang terdekat seperti misalnya kakek dan nenek. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus. Efek buruknya sangat besar bagi perkembangan anak. Anak-anak akan menjadi bingung perlakuan mana yang akan dipilihnya. Layaknya anak-anak biasanya memiliki kecenderungan untuk memilih dan mengikuti orang-orang yang selalu menuruti kemauannya.
“Akibat selanjutnya bisa jadi mereka akan lebih menurut dengan kakek neneknya dari pada orang tuanya,” kata dra (Psi). Zulia Limawati. Lebih lanjut Zulia menambahkan,” Usahakan persoalan ini segera dibicarakan dengan suami dan orangtua atau mertua. Sampaikan pentingnya mengarahkan anak-anak dengan pendekatan dan cara asuh yang sama. Bukankah sebuah kapal tidak akan sampai ke tujuan, jika banyak nahkoda yang menentukan arahnya? Ajaklah mereka  berdiskusi tentang pentingnya pola asuh yang seragam, makna kasih sayang, dan cara mengekspresikannya. Tanpa diskusi dan komunikasi, pola asuh grandparenting dapat menimbulkan banyak konflik dan pertengkaran.  Bukan hanya antara anak dengan orangtua namun juga antara orangtua dan  Kakek Nenek. Bagaimana pun, pengasuhan anak  merupakan tanggungjawab penuh orangtuanya.”