Pages

Rabu, 22 April 2015

Tren Batu Akik: Antara Sunnah & Musyrik

Batu Akik yang dulu dipandang sebelah mata kini menjadi tren terutama  di kalangan para pria. Bila diniati dengan cara yang salah, batu akik bisa membuat penggemarnya menjadi kehilangan logika. 
Setelah tren ikan lohan dan tanaman anthurium dengan gelombang cintanya berlalu, kini perhatian para pria beralih ke batu akik. Nama batu akik pun bermacam-macam, mulai jenis Kecubung, Mirah Delima, Onix, Giok, Bacan hingga Bulu Monyet. Hanya gara-gara melihat batu cincin yang melingkar di jari seseorang, dua pria yang tidak saling kenal bisa menjadi akrab dan obrolan bisa menjadi panjang, mulai dari bisnis sampai hal mistis di dunia ‘perbatuan’.
Postingan para pria di media sosial bukan lagi soal kuliner maupun tempat wisata atau foto-foto selfie, melainkan dipenuhi dengan postingan koleksi batu yang mereka miliki. Pojok-pojok jalanan pun dipenuhi dengan lapak-lapak pedagang batu cincin.  Zaman ini benar-benar sudah kembali ke zaman batu!
Batu akik tidak hanya menjadi trending topic tapi juga menjadi lambang status sosial di kalangan para pria. Celetukan beberapa orang dari mereka yang memang hobi atau mengais rezeki dari usaha jual-beli batu cincin tersebut memancing rasa penasaran. Benarkah memakai batu cincin itu sunnah Rasulullah? Apa ada hal mistis atau klenik ketika memakai batu cincin atau akik? Halal atau Haram-kah memakai-nya?
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dijelaskan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu Habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya.
Hadist tersebut kemudian  menjadi landasan bahwa benar Rasulullah Saw memakai batu cincin dan mengikat-nya dengan perak, batu yang dikenakan pun beliau peroleh dari Ethiopia. Berdasarkan berbagai penelusuran diketahui bahwa jenis batu yang paling banyak terdapat di Etiopia adalah Zamrud.  Sehingga,  kemungkinan besar Rasulullah mengenakan cincin dengan hiasan batu Zamrud.
Bisa Jadi Musyrik
Meski pun Rasulullah diriwayatkan memakai cincin batu akik, namun ada juga hadist yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah membuang cincin yang melingkar di jari kanannya. Rasulullah Saw duduk di atas mimbar dan melepas cincinnya seraya bersabda,” Sesungguhnya aku mengenakan cincin ini dan menjadikan batu cincinnya di bagian dalam.”  Lalu beliau melempar cincin tersebut dan mengatakan,” Demi Allah, aku tidak akan mengenakannya selama-lamanya.” Maka manusia yang menyaksikannya saat itu pun membuang cincin mereka.” (H.R. Muslim)
Islam sesunguhnya tidak menyarankan umatnya memakai batu cincin,  karena dapat menimbulkan sifat keangkuhan. Apalagi saat ini memakai batu cincin sudah menjadi lambang status sosial. Semakin bagus batu yang ia kenakan, maka akan semakin mahal harga yang kemudian  menjadi acuan gengsi, pamor atau popularitas orang yang memakainya.  

Sisi negatif lainnya, karena sebagian masyarakat kita masih memelihara kepercayaan terhadap benda-benda mati. Mereka menganggap bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan, kesaktian, atau keistimewaan yang sangat dahsyat, sehingga bisa dijadikan sebagai jimat dan senjata. Padahal, kepercayaan seperti ini hanyalah bersumber dari khurafat, khayalan, & halusinasi semata.
Batu akik, menurut sebagian orang memiliki kekuatan gaib atau kekuatan supranatural tertentu sehingga bisa dipakai sebagai jimat atau senjata kesaktian.
Berdasarkan Riwayat dari Ahmad, Al-Hakim, & Ibnu Hibban yang dinilai shahih oleh Al-Haitsami dlm Al-Majma’ Rasulullah Saw bersabda “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, semoga Allah tidak mengabulkan tujuan yang dia inginkan. Dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (salah satu jenis jimat), semoga Allah tidak menjadikan dirinya tenang.”
Rasulullah Saw sudah menghapus segala apa pun bentuk khurafat termasuk kepercayaan khurafat terhadap jimat dan kekuatan magis di dalam batu akik. Rasulullah Saw bersabda ketika beliau berkhutbah pada Haji Wada’ : “Ketahuilah, seluruh perkara jahiliyah terkubur di bawah kedua telapak kakiku.”  (H.R. Muslim).                                                   
Jadi, para penggemar dan pecinta batu akik sekalian, silakan memakai batu cincin tanpa bermaksud riya apalagi sebagai jimat dan penguat keyakinan. Jangan sampai, rasa cinta yang berlebihan malah mengantarkan pada perbuatan musyrik yang sangat dibenci Allah Swt. Na’uzubillahi min Dzalik...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar