Pages

Rabu, 01 April 2015

Salman Aristo & Cinta Pertamanya


Kebiasaan diajak sang Ayah menonton film di bioskop, mengantarkannya menjadi salah seorang penulis skenario terbaik yang dimiliki negeri ini.




Siang terik di hari pertama Ramadan, mungkin bukan waktu yang tepat untuk membuat janji bertemu seseorang. Namun perbincangan dengan Ayah dua anak ini nyatanya mampu menafikan perasaan itu. Dia adalah sosok penting di balik film-film bermutu produksi negeri ini. Muda, cerdas dan penuh semangat untuk membuat film Indonesia bukan hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri tapi juga di mancanegara.
        
Lahir dan besar di kawasan Menteng, bungsu dari dua bersaudara ini tak pernah terpikir akan menjadi seorang pekerja film. Tapi dengan gamblang dia mengakui bahwa film adalah cinta pertamanya.
        Sejak berusia lima tahun, Aris, begitu Salman Aristo biasa disapa,  sudah sering diajak ayahnya menonton di bioskop. Jika anak seusianya kala itu menangis dan takut saat memasuki gedung bioskop yang gelap, Aris sebaliknya. Dia merasa mendapat sebuah kesenangan baru yang tak sebanding dengan mainan anak-anak umumnya. Ini sesuatu yang berbeda! Sebuah jeratan fantasi yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
        “Waktu itu, film Indonesia sedang berada di puncak kejayaannya. Dalam sebulan, kami bisa empat hingga lima kali ke bioskop. Nonton Warkop,” kata Aris yang ketika SMP mulai pergi nonton sendiri.
        “Uang jajan saya habis untuk membeli kaset dan nonton film di bioskop. Di keluarga saya, urusan membeli buku sudah menjadi keharusan. Jadi, kapanpun saya minta uang untuk membeli buku tidak akan pernah ada pertanyaan. Tapi, kalau untuk membeli kaset dan nonton film, tentu lain masalahnya.”
        

Sayangnya, di saat kecintaannya pada film semakin besar, film Indonesia sudah menghilang dari gedung bioskop. Produksi film mati selama satu dekade. Alumni Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjajaran ini pun beralih menjadi penonton setia film-film Hollywood.
        “Saya mencintai film secara detil tidak hanya permukaannya saja. Karena dulu tidak segampang sekarang dalam mengakses referensi, saya pun rajin mengulik berbagai informasi tentang film di Pusat Perfilman H.Usmar Ismail yang ada di Kuningan, Jakarta. Saya membaca ratusan skenario sehingga membuat saya paham bagaimana menulis skenario yang baik. Saya adalah seorang otodidak di bidang ini,” kata penulis skenario andal yang memulai debutnya lewat film Brownies, karya Hanung Bramantyo.
 “Film pertama yang mengantarkan saya sebagai nominator penulis skenario terbaik di FFI 2005.”


Bahayanya Mindset
Menyadari cintanya pada film hanya bisa sebatas menjadi penikmat saja, mantan jurnalis ini memilih ngeband. “Dulu, saya menganggap film itu adalah sesuatu yang mahal dan saya tak mungkin sanggup menggelutinya. Beda dengan ngeband, masih bisa patungan buat sewa studio.”
        
Sejak SMA, pembetot bas di grup Silentium ini mulai bermusik dengan berpatungan menyewa studio latihan di dekat rumahnya, di kawasan Manggarai. Kebiasaan bermusik terus terbawa hingga dia kuliah di Bandung. “Saat itu, musik-musik indie sedang digandrungi, terutama di kalangan anak-anak muda di Bandung,” kata Managing Director Rumah Produksi SBO yang menyesali pemikirannya kala itu tentang film.
        “Itulah bahayanya mindset. Karena pemikiran yang salah itu, saya bahkan mengabaikan  kalau di TIM, yang sebenarnya tak jauh dari rumah saya, terdapat IKJ dimana saya bisa belajar tentang film,” ujar penulis skenario film fenomenal Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta,  Garuda Di Dadaku 1 dan 2 ,  Sang Pemimpi dan Negeri 5 Menara.
       

Saat film Ayat-Ayat Cinta sedang diproduksi, Aris diminta untuk menulis skenario Laskar Pelangi dan kemudian Garuda Di Dadaku.
 “Ketiga film yang Alhamdulillah menembus box office itu, skenarionya saya tulis berurutan. Bahkan untuk skenario Ayat-Ayat Cinta, saya menulis skenarionya bersama istri saya, Retna Ginatri S. Noer. Saya ingin mendapatkan sentuhan perempuan dalam film tersebut.” Sang istri sendiri merupakan penulis skenario yang dikenalnya dalam sebuah kompetisi pembuatan film pendek dimana Aris menjadi jurinya.   


Tidak Idealis, Tapi Realistis
Menjalankan profesi sebagai penulis skenario film, bagi ayah dari Biru Langit (7 tahun) dan Akar Randu (4,5 tahun) bukan sekadar untuk mendapatkan materi semata, tapi kesenangan dan kenikmatan dalam bekerja.
        “Saya tidak bisa membayangkan kalau harus menerima tawaran menulis sesuatu yang tidak saya sukai. Betapa tersiksanya saya menghabiskan berbulan-bulan waktu saya terperangkap dengan hal yang tidak saya suka. Saya menolak pekerjaan bukan karena saya orang yang idealis, melainkan karena saya adalah orang yang realistis.”
        
Untuk setiap skenario film yang ditulisnya, Aris mengaku membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, bahkan untuk skenario film Penari, dia menulisnya dalam waktu tiga tahun. “Saya orangnya detil dan selalu melakukan riset mendalam untuk setiap cerita yang saya tulis. Saat saya menulis skenario film Brownies, saya sampai belajar membuat brownies. “
        
Selain sukses mengadaptasi novel best seller menjadi film laris, peraih penghargaan International Grand pada Jiffest Script Development Compettition tahun 2006 mengaku mendapatkan tantangan tersendiri dalam mengadaptasi novel menjadi film.
      



“ Tantangan terbesarnya adalah ekspetasi dari pembaca novel tersebut. Dan sekarang, pilihan ada di tangan saya. Apakah harus memuaskan keinginan orang banyak atau  bertahan dengan pemikiran saya sendiri. Bagi saya, dengan dipercaya untuk mengadaptasi novel menjadi film, berarti saya harus berusaha menciptakan versi  yang berbeda dari novelnya. Bukannya malah copy-paste. Seperti kata Andrea Hirata, kalau filmnya sama persis dengan novelnya, buat apa novel itu dibuat film,” kata produser film Aries, Foto Kotak dan Jendela, Asmara Dua Diana, Queen Bee, 5 Elang, Garuda Di Dadaku 1 dan 2 serta Negeri 5 Menara.
        
Meski kebanyakan skenario yang ditulisnya menuai sukses, bukan berarti Aris tidak pernah mendapat penolakan. “Banyak cerita saya yang ditolak produser demikian pula dengan tawaran produser yang tidak saya terima. Semua tergantung chemistry diantara kedua belah pihak. Karena saya bekerja bukan semata-mata untuk mendapatkan uang tapi juga berkarya. Saya selalu mencintai pekerjaan saya dan melakukannya dengannya dengan sepenuh hati.”
        
Menyadari minimnya penulis skenario di jagat perfilman maupun pertelevisian di Indonesia, Aris kini membentuk sebuah sindikasi penulisan skenario. “Basic film itu adalah kerja tim, dan keberhasilan sebuah film karena kerja keras semua yang terlibat di dalamnya. Penulis skenario harus duduk satu meja dengan produser dan sutradara dan bersinergi . Soal berdebat itu biasa,” kata laki-laki yang kini menularkan hobi membaca pada anaknya.

       
Sebuah insprasi yang menghidupkan siang pertama Ramadan. Mengalahkan terik matahari dengan keteguhan cinta yang sudah terbina sejak masa kanak-kanak. Melahirkan semangat baru untuk perfilman di negeri ini sebesar cinta pertama Salman Aristo.




Foto : Facebook Salman Aristo & Google Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar