Pages

Rabu, 01 April 2015

Ridwan Kamil, Lelaki dengan Seratus Mimpi


Keyakinannya bahwa setiap perbuatan  baik pasti akan menuai kebaikan, membuat laki-laki ini tidak pernah takut untuk mewujudkan satu demi satu mimpinya.


Menyusuri sepanjang Jalan Braga, Bandung dan menepi ke sudut sebuah kafe yang riuh. Laki-laki itu menunggu dengan mata tak lepas dari laptop. Biasanya, dia bisa ditemui di Jakarta pada hari-hari tertentu, tapi kali ini, Bandung merupakan tempat yang pas untuk janji bertemu dengannya. Karena dia telah menjadi orang nomor satu di kota ini. 
        
Lahir dan besar di Bandung namun punya mimpi berkeliling dunia. Mencapai usianya yang ke-40, dia sudah mengeliling 100 kota di dunia. Mimpi pertama, done!
       “Saya bukanlah orang yang datang dari keluarga berada. Ayah saya yang menjadi tulang punggung keluarga, meninggal dunia pada saat saya sedang menyelesaikan skripsi. Saat itu, saya merasa sangat hancur dan sempat putus asa,” kata Emil, sapaan hangat Ridwan Kamil.
        
Keadaan keluarga yang timpang sejak kepergian Ayah dan skripsi yang harus diselesaikan akhirnya menjadi penyemangat Emil untuk bangkit. Dia menyemangati dirinya sendiri bahwa hidup tidak boleh setengah-tengah. Apalagi dia masih memiliki banyak mimpi yang belum terwujud. “Mimpi itu harus dijaga. Saya yakin, bila segala sesuatunya dilatarbelakangi dengan passion, pasti memberi hasil yang berbeda. Tidak ada satupun prestasi yang datang dari keputusan yang setengah-setengah.”
        
Setelah menamatkan pendidikan sarjananya dari Fakultas Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Emil mendapat beasiswa S2 dan berhasil meraih gelar Master of Urban Design dari College of Environment Design, University of California, Barkeley, Amerika Serikat.

        “Sewaktu tinggal di Amerika, saya sempat menjadi bagian dari orang miskin Amerika. Istri sedang hamil tua, perusahaan tempat saya bekerja tutup dan saya tidak punya uang untuk biaya istri melahirkan. Masalahnya,  penghasilan saya yang sedikit di atas UMR membuat saya tidak memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan gratis.”
       
Alhamdulillah, istrinya, Atalia Praratya akhirnya bisa mendapatkan fasilitas melahirkan gratis dan lahirlah anak pertama mereka, Emmeril Kahn Mumtadz (16 tahun). Sedangkan anak bungsunya, Camillia Laetitia Azzahra (11 tahun)  lahir di Bandung.


Urban Akupuntur
Emil tidak hanya dikenal sebagai sosok penting di balik penggarapan Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum, tapi juga arsitek dari beberapa bangunan terkenal lainnya, seperti Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok dan  Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar.
“Untuk Jakarta dengan kondisi seperti sekarang ini, yang dibutuhkan adalah urban akupuntur di banyak titik. Saya membayangkan adanya shuttle bike dimana orang bisa meminjam sepeda dan mengembalikannya di shuttle bike mana saja. Tidak harus kembali ke tempat dia meminjam sepeda tersebut,” kata laki-laki kelahiran 4 Oktober 1971 yang sudah mendapatkan banyak penghargaan atas kreatiftas dan kepeduliannya pada lingkungan, diantaranya pemenang Young Creative Enterpreneur Award dari British Council. 
        
Selain mengajar di almamaternya, penggagas Indonesia Berkebun ini juga aktif dengan berbagai kegiatan sosial seperti membangun kampung binaan dan  creative center di kota-kota besar Indonesia. “Indonesia Berkebun itu adalah kegiatan dengan memanfaatkan tanah-tanah kosong yang ada di kota. Saya masih percaya kalau masyarakat Indonesia banyak yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kegiatan itu juga untuk menyalurkan energi ngumpul-ngumpul sambil memajukan kota. Uniknya, acara itu juga mempertemukan pasangan yang memiliki minat sama dan akhirnya menikah.”



Menurut Emil, jika ada warga kota yang takut keluar rumah, apakah takut akan keamanan maupun karena merasa tidak nyaman disebabkan suasana kota yang semrawut, maka kota tersebut memang sudah harus diselamatkan. “Urban akupuntur itu memperbaiki titik-titik yang sakit, tapi kalau dikali banyak justru bisa memperbaiki keseluruhan kota,” kata dosen yang juga aktif memberikan  kuliah di Twitter atau Kultwit dan rajin menulis blog di sela kesibukannya yang padat.

100 Ide Emil
Walikota Bandung yang sangat dicintai warganya ini sejak beberapa tahun lalu sudah berkeinginan merilis buku berjudul 100 Ide Untuk Kota, yang mengangkat mimpi-mimpinya. Dengan mata menerawang, Emil membayangkan adanya Green Box, sebuah kotak menyerupai telepon umum tempo dulu, tapi penuh dengan tanaman hijau yang merambati dindingnya. “Di dalam kotak tersebut, kita bisa mendengarkan beragam suara alam, seperti kicauan burung, percikan air, desir angin dan dilengkapi dengan aroma terapi yang menenangkan jiwa. Jadi, kalau kita stres dan ingin mendapatkan ketenangan, masuk saja ke kotak itu.”


Emil selalu memegang teguh prinsipnya bahwa setiap punya gagasan, harus dikerjakan sendiri dan jangan pernah berharap pada pihak lain. “Terhadap klien pun saya tidak pernah memosisikan diri di bawah mereka, karena meski mereka yang membayar saya, tapi saya tetap punya idealisme sendiri terhadap profesi saya,” kata pendiri Urbanie Community yang selalu meluangkan sebagian waktunya untuk kegiatan sosial.
        
Bersamaan dengan larutnya  malam dan berangsur sepinya kafe tempat kami berbincang, laki-laki yang selalu optimis ini berharap Indonesia bisa menjadi negara yang lebih arif terhadap lingkungannya. Sayang, kemajuan waktu kerap tidak sebanding dengan realita hidup.


foto : facebook M.Ridwan Kamil



9 komentar:

  1. Aku dulu wawancara ama RK saat dia di Indonesia Berkebun. Ketemu lagi saat udah jadi walkot :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mba... ini, oranagnya humble dan menyenangkan juga humoris

      Hapus
    2. iya, mba... ini, oranagnya humble dan menyenangkan juga humoris

      Hapus
  2. adem bgt jiwanya.. sgt inspirasif

    BalasHapus
    Balasan
    1. sungguh beruntung orang Bandung punya walikota sekeren kang emil ini...

      Hapus
    2. sungguh beruntung orang Bandung punya walikota sekeren kang emil ini...

      Hapus
  3. Asyik, cerdas dan kreatif orangnya ya. Berharap ada kloningannya, qeqeqe. Biar banyak daerah bisa maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar,mba. Beruntung banget ya orang Bandung ... jadi iri, hehehe

      Hapus
    2. Benar,mba. Beruntung banget ya orang Bandung ... jadi iri, hehehe

      Hapus