Pages

Kamis, 16 April 2015

Possessive’s Love : Cinta Yang Tersandera



Cemburu adalah bunganya cinta, tapi kalau kadarnya berlebihan, justru bisa  menuai petaka dalam rumah tangga.


Saya mengenal perempuan mungil ini beberapa tahun lalu. Kebetulan kami sempat melakukan perjalanan ke luar kota untuk sebuah  peliputan. Selama beberapa hari bersama dan kebetulan dia teman sekamar saya, kami pun menjadi akrab. Tapi, saya sama sekali tidak menyangka kalau dia baru dua bulan mengakhiri pernikahannya yang sudah memasuki tahun ke-10. Tampaknya dia begitu mensyukuri keputusannya berpisah dengan orang yang sangat dicintainya. 

Dia bercerita bahwa ketika mantan suaminya itu melamarnya  dengan cara yang sangat romantis,  dia merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di jagat ini. Perkenalan yang terjadi 12 tahun silam dan berlanjut dengan keputusan mereka menikah, merupakan momen yang tak kan terlupakan olehnya sampai kapan pun.
        
Sayang, belum setahun berumah tangga, sang suami malah memperlihatkan gelagat yang membuatnya  ingin mengakhiri pernikahan mereka saat itu juga. Jangankan bisa membuat janji bertemu teman-teman lama, bahkan untuk datang ke acara keluarga inti pun, suaminya  tidak mengizinkan jika tidak bersamanya.

       
"Cemburunya sudah tingkat dewa, mengerikan sekali. Dia bahkan bisa marah hebat kalau saya bersikap ramah dan mengobrol dengan kasir minimarket. Bayangkan, sampai segitunya rasa cemburunya pada saya."

Rasa cemburu memang merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Ada suatu titik dimana kita merasa sangat ingin berkuasa sehingga muncul rasa cemburu ketika pasangan terlalu akrab dengan orang lain.
        
Menurut dr.H.Boyke Dian Nugraha, SpOG.MARS, ada empat hal yang membuat seseorang itu dapat disebut posesif, yaitu, cemburu yang berlebihan sehingga bisa mengancam hubungan yang sudah terjalin. Kemudian suka menuduh tanpa alasan yang jelas, lalu marah yang berlebihan sampai melakukan kekerasan fisik serta mudah tersinggung untuk hal-hal yang sebenarnya sangat sepele.
       
“Keempat hal itu umumnya didorong karena rasa takut yang berlebihan akan kehilangan orang yang sangat dicintai. Perasaan ini justru akhirnya bisa memicu kemarahan dan pertengkaran di antara keduanya.”

Cemburu Buta
Penyebab paling utama dari sikap posesif itu tidak lain dan tidak bukan adalah rasa cemburu yang berlebihan. Banyak orang  yang menganggap pasangannya mutlak miliknya sepenuhnya. Sehingga dia tidak rela bila ada orang lain yang mendapat perhatian lebih dari pasangannya itu, termasuk  sahabat dan keluarga pasangannya sekali pun.
       
Boyke menambahkan, kalau suami posesif biasanya akan mengontrol semua hal tentang istrinya, mulai dari menyeleksi dengan siapa istrinya boleh bergaul, pakai baju yang seperti apa sampai apa saja yang dilakukan istrinya, dia harus tahu semuanya.

Namun, tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan pernikahan dengan suami yang posesif.  Seorang penasehat perkawinan ternama, Dr. Phil McGraw, menegaskan kalau sikap posesif suami bisa jadi disebabkan istri memberi ruang untuk membuat suami  merasa perlu mengontrol. Maka sebaiknya diskusikan dengan suami batasan apa yang perlu diberlakukan dan yang tidak perlu dilakukan .




Tapi yang paling penting, berusahalah untuk menolak segala sikap posesifnya kalau memang itu tidak masuk akal. Berpasrah diri pada sikap mengontrolnya hanya akan membuat situasi semakin buruk di masa mendatang. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar