Pages

Kamis, 02 April 2015

Pesona Islam di Guangzhou


Di balik perkembangan kotanya yang begitu pesat, Guangzhou masih menyimpan sisi lain yang tak kalah memikat. Di kota ini pula, sahabat Rasulullah SAW, Sa’ad Bin Abi Waqqash dimakamkan. Sebuah perjalanan yang penuh makna...




Hanya berjarak 2 jam perjalanan dengan memakai subway train, saya meninggalkan Hongkong dan sampai di kota Shenzhen,  Tiongkok. Belum lengkap rasanya jika pergi ke Hongkong tanpa menyempatkan mampir di negeri yang masih lekat dengan tradisinya ini. Sejak awal, perjalanan ini memang diniatkan untuk menjelajahi jejak Islam di  Guangzhou.
            
Begitu sampai di Luohu, stasiun Hongkong yang terakhir, sudah terlihat kemegahan kota Shenzhen. Hujan turun dengan derasnya membuat udara dingin semakin terasa menggigit. Namun hal itu tidak mematahkkan semangat untuk memulai perjalanan ke tempat-tempat bersejarah Islam di negeri Tiongkok.

Selain menggunakan subway train, perjalanan dari Hongkong ke Cina dapat juga ditempuh dengan menggunakan MTR (Mass Transit Railway) atau atau kereta dan bis melalui Shenzhen.


Mata Air Penuh Khasiat

Mengingat waktu berkunjung yang terbatas, saya melewatkan Shenzhen dan langsung menuju Guangzhou.

Guangzhou sendiri terletak di tepi utara sungai Mutiara yang juga merupakan pusat perdagangan tertua di Tiongkok. Sebagian besar penduduknya beragama Islam dan berprofesi sebagai petani. Saya sempat bertemu dengan keluarga petani muslim yang sedang merayakan Hari Raya Idul Adha. Mereka memanfaatkannya dengan berziarah ke makam sahabat Rasulullah SAW, Sa’ad bin Abi Waqqash.
            
Makam Sa’ad bin Abi Waqqash berada di komplek Masjid Ash-Shahabiy yang dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Halamannya yang luas di bawah naungan rumpun bambu dan pohon-pohon kayu tua sering merupakan tempat berkumpulnya warga muslim di Guangzhuo untuk salat Jumat maupun salat Id.
           
Selain makam Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat Rasulullah SAW yang diutus untuk menyampaikan risalah Islam di Tiongkok, terdapat pula makam lainnya termasuk makam keluarga inti sang ulama. Makam tersebut merupakan  salah satu tempat yang wajib dikunjungi pelancong muslim yang berwisata ke Guangzhou.

Masih di kompleks yang sama dengan makam tersebut, terdapat sebuah sumur yang airnya dipercaya sangat berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit termasuk membuat wajah bercahaya dan awet muda. Tentu saja, saya  tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati kesegaran “air zam-zam” dari China itu.

Sebagian besar peziarah selalu menyiapkan wadah untuk membawa pulang air tersebut untuk obat bagi keluarga mereka. Konon, sumur itu sudah ada sejak Sa’ad bin Abi Waqqash datang ke China.

Kuliner ... Kuliner ...

Oleh pemandu lokal yang mengantarkan saya  mengelilingi Guangzhou, saya diajak ke sebuah restoran muslim yang menyajikan aneka makanan laut. Yang menarik, ikan asam manis yang saya  pesan, disajikan dengan penampilan yang sungguh menarik. Teh khas Guangzhou yang diantarkan ke meja saya  juga menambah nikmat santap malam di tengah dinginnya udara Guangzhou.
           
Masalahnya, daftar makanan yang ada di buku menu menggunakan tulisan Tiongkok sehingga saya memasrahkan urusan pesan memesan makanan kepada Bapak Yusuf Wang, pemandu saya, hingga tersajilah ikan yang rasanya tak seindah bentuknya. Untunglah, ada masakan yang  akrab dengan lidah seperti bakmi dan cah kailan. Cukup mengesankan,  makan di sebuah restoran yang jauh dari negeri sendiri dengan dilayani oleh pramusaji berbusana muslim yang rapi dan dan anggun.
            

Selain dengan dikenal dengan masyarakat muslimnya, kota yang berdiri sejak tahun 214 SM itu juga dikenal sebagai pusat perdagangan dan pendidikan. Sejak pedagang arab masuk ke Tiongkok, Guangzhou memikat pedagang dari berbagai bangsa lainnya, termasuk bangsa Eropa. Sebagai kota terbesar di Tiiongkok Selatan, geliat Guangzhou hingga saat ini mengantarkannya menjadi salah satu yang paling pesat perkembangannya di Tiongkok.
           
Saran bijak bagi yang datang ke Guangzhou bukan karena untuk berobat, pastikan pada pemandu lokal bahwa Anda tidak berniat untuk berkunjung ke pusat pengobatan yang biasanya akan menjadi tempat pertama yang harus dikunjungi. Meski mereka menyampaikan berbagai hal tentang khasiat obat-obatan tradisional Tiongkok yang mengalahkan teknologi kedokteran modern, tapi pada akhirnya Anda diarahkan untuk membeli produk obat di tempat tersebut.
           
Berkunjung ke Guangzhou tidak hanya memuaskan mata pada panorama alamnya, tapi juga memberi pemahaman pada perjuangan sahabat Rasulullah SAW dalam menyiarkan Islam di negeri Tiongkok.






Foto : pribadi dan google image


Tidak ada komentar:

Posting Komentar