Pages

Minggu, 26 April 2015

Para Perempuan, Berkarierlah, Asal...

Perempuan bekerja bukan baru terjadi belakangan ini. Bahkan isteri Rasulullah Saw juga dikenal sebagai pebisnis yang sukses.
Majelis pengajian itu baru saja dimulai ketika seorang perempuan tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Penampilannya memang terlihat berbeda dari jamaah lainnya yang kebanyakan mengenakan gamis sederhana. Tema pengajian pada hari itu mengenai harta gono gini dari pasangan yang berpisah karena perceraian dan kematian. Saat ustazah memberi kesempatan bertanya, dia langsung mengacungkan jarinya.
        “Ustazah, dosakah jika saya bekerja?” tanyanya singkat. Pertanyaan itu mungkin terdengar sangat simpel dan sepele. Tapi sesungguhnya, masih banyak perempuan yang merasa pilihan bekerja di luar rumah merupakan hal yang dilarang agama.
Ada tiga pendapat dari para ulama tentang perempuan yang bekerja di luar rumah. Pertama, membolehkan perempuan bekerja tanpa syarat apapun. Kedua, tidak membolehkan sama sekali dan yang ketiga, membolehkan tapi dengan syarat-syarat tertentu. Menurut Sayid Qutb, ulama dan cendekiawan asal Mesir, ajaran Islam lebih dekat dengan pandangan yang terakhir. Karena Islam memang tidak pernah melarang perempuan bekerja.
Lebih lanjut Qutb menjelaskan bahwa Islam membolehkan perempuan bekerja di bidang kemampuannya asal disesuaikan dengan kodratnya sebagai perempuan, baik secara biologis maupun mental.
“Islam tidak pernah melarang perempuan bekerja. Apalagi kalau untuk membantu suami dalam mencari nafkah. Itu jelas pahala ganjarannya.  Yang penting, dia tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga,” kata Mamah Dedeh.
Mamah Dedeh juga menambahkan bahwa perempuan yang bekerja itu jauh lebih kuat dari laki-laki. “Kalau suami sakit, dia bisa benar-benar istirahat karena ada isteri yang mengurusinya. Tapi kalau sudah isteri yang sakit, belum tentu suami bisa melakukan hal yang sama. Isteri yang bekerja, dia harus bangun lebih awal untuk menyiapkan semua kebutuhan keluarga, belum lagi kalau ada anak yang sakit. Sedangkan suami, mau kerja ya tinggal berangkat.”

Rambu Bekerja Untuk Perempuan
Meski Islam membolehkan perempuan bekerja, namun tetap saja ada hal-hal yang membatasi. Agama Islam mengenal yang dinamakan hukum ikthilath tentang berbaurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat tertentu. Ketentuan ini bisa haram, bisa pula mubah. Akan menjadi haram jika mengandung tiga hal. Yakni, berduaan antara laki-laki dan perempuan, terbukanya aurat perempuan, serta ada persentuhan anggota badan antara laki-laki dan perempuan. Namun, hukum haram ini tidak berlaku untuk mereka yang berprofesi sebagai dokter.
Kesempatan bekerja kepada perempuan juga disebutkan dalam banyak hadis dan pandangan ulama. Namun semua kegiatan tersebut tentunya harus seizin suami bagi yang telah menikah .Dalam bukunya, Syubuhat Haula al-Islam, Muhammad Quthb menjelaskan, “Perempuan pada zaman Rasulullah pun bekerja, ketika kondisi menuntut mereka untuk bekerja. Masalahnya bukan terletak pada ada atau tidaknya hak mereka untuk bekerja karena Islam tidak cenderung mendorong perempuan keluar rumah kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting,  termasuk karena alasan yang menanggung hidupnya tidak mampu mencukupi kebutuhannya.
Sebuah pesan indah dari Rasulullah Saw untuk  mereka yang bekerja, termasuk kaum perempuan bisa menepis semua keraguan itu.   "Sesungguhnya Allah Swt mencintai orang yang melakukan satu pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan profesional (al-itqan)." (HR al Baihaqi, Abu Ya'la, Ibn Asakir) .


        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar