Pages

Rabu, 22 April 2015

Metamorfosis Aksesoris, Dari Yang Unik Hingga Ekstrim

Berbagai kisah telah menyertai perjalanan panjang aksesoris sebagai pelengkap penampilan kaum hawa. Aksesoris awalnya menjadi simbol status yang membedakan perempuan bangsawan dengan rakyat jelata. Seperti penutup kepala yang dikenakan Ratu Nefertiti dari Mesir dan mahkota bertahtakan batu permata yang menghiasi kepala Chaterine Yang Agung  dari Rusia.
Ratu Balqis yang konon sangat jelita juga identik dengan aksesoris batu permata sebagai lambang seorang permaisuri. Dari kerajaan Inggris aksesoris berkembang dengan mahkota dan kerudung sutra berenda yang menghiasi penampilan Ratu Victoria.
Sejak abad ke-19, penampilan para bangsawan di Eropa tidak terpisahkan dari topi dan model rambut yang ditata bergelombang. Renda, bulu dan batu permata tetap mendominasi penampilan para bangsawan Eropa termasuk para prianya yang gemar mengenakan wig.
Sementara bangsawan di Cina mengenalkan budaya ekstrim yang menganggap kecantikan seorang perempuan terlihat dari ukuran kakinya yang sangat kecil. Budaya tersebut memaksa para perempuan bangsawan di Cina harus membebat kaki mereka sejak usia lima tahun hingga kaki tersebut tidak berkembang dan bisa mengenakan sepatu dengan ukuran sangat kecil yang dinamakan lotus feet. Menyakitkan tapi tetap merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang menjalankan tradisi ini.
Aksesoris yang tak kalah ekstrim dikenalkan oleh perempuan Karen, sebuah suku yang bermukim di Desa Baan Tong Luang, Thailand dengan kalung tembaga yang membungkus leher mereka. Sedangkan perempuan dari Suku Padaung, masih di Thailand, menggunakan cincin leher. Cincin emas tersebut mulai dipasangkan di leher mereka sejak berusia lima tahun dan terus ditambah setiap tahunnya.





















Di Indonesia juga ada suku Dayak Kenyah yang memakai anting sebanyak usia mereka sehingga membuat lubang tindik telinga menjadi melebar dan memanjang. Anting-anting tersebut mulai ditindikkan sejak mereka berusia satu tahun.

Benar kan, kalau cantik itu menyakitkan...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar