Pages

Rabu, 01 April 2015

Iwan Setyawan , Berlayar Bersama Doa Ibuk


Dia tak pernah bermimpi menginjakkan kaki di New York City, apalagi menaklukkannya. Dia hanya berani memimpikan bisa punya kamar sendiri.


Bagi Iwan Setyawan, keluarga adalah segalanya. Kekuatan cinta dari Bapak, Ibu, dan keempat saudara perempuannya telah menyelamatkannya dari mimpi buruk melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai sopir angkot.  Untuk mereka pula, lulusan terbaik Fakultas MIPA IPB 1997 ini memutuskan untuk meninggalkan karir cemerlangnya di NYC dengan posisi terakhir sebagai Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. “Saya tak ingin kehilangan momen penting bersama mereka. Ini adalah salah satu keputusan terbaik di dalam hidup saya,” kata penulis buku laris “ 9 Summers 10 Autumns. Dari Kota Apel ke The Big Apple” yang merupakan  Buku Fiksi Terbaik Jakarta Book Award 2011. Beruntung, saya bisa mewawancarai salah seorang penulis favorit saya




Banyak orang yang mempertanyakan keputusan  saya meninggalkan segala kemeriahan hidup di NYC. Bagi saya, tidak ada hal yang lebih berharga dalam hidup saya selain bisa menghabiskan momen-momen penting bersama Bapak, Ibuk dan saudara-saudara saya. Selain itu, saya juga ingin melakukan sesuatu yang berarti dan kelak bisa saya kenang. Saya ingin melakukan sesuatu yang bisa menyentuh hati orang. Semua keinginan tersebut hanya bisa saya lakukan dengan kembali ke rumah kecil saya di Batu.
        

Di masa kecil dulu, saya tidak pernah menyimpan keinginan pergi ke NYC. Bahkan, memimpikannya pun tidak pernah.  Karena mimpi itu terlalu besar buat  saya dan membentur atap rumah kecil kami. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di NYC, saya merasa hidup dalam sebuah mimpi. Meski sudah sepuluh tahun menetap di sana, saya masih sering tidak percaya kalau saya pernah tinggal di NYC.

Bayangan rumah kecil ukuran 7 meter x 6 meter yang kami tempati bertujuh , selalu lekat di ingatan saya. Membayangi setiap langkah saya menyusuri SoHo menuju kantor saya di Astor Place. Di antara butik-butik mewah dan apartemen  tua nan elegan  di Manhattan, saya  melihat wajah Bapak, Ibuk, Mbak Isa, Mbak Nani, Rini dan Mira. Bapak dan Ibuk adalah jiwa saya, sedangkan keempat saudara perempuan saya adalah pilar kokoh yang telah membantu saya melesat begitu jauh meninggalkan rumah kecil kami di kaki Gunung Panderman.



Keberanian Ibuk

Saya memang berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bapak saya seorang sopir angkot yang tak lulus SMP, sedangkan Ibuk, panggilan kami pada Ibu, terpaksa berhenti sekolah sebelum menamatkan SD-nya. Kemiskinan yang menghentikan impian Ibuk untuk melanjutkan sekolah membuat Ibuk melakukan apa saja agar kami tidak mengalami nasib yang sama dengannya.
       
Penghasilan Bapak yang sebagian besar habis untuk memperbaiki angkot yang rusak tidak mematahkan semangat Ibuk menyekolahkan kami. Beliau adalah pengatur strategi keuangan yang hebat. Ibuk  jeli memilih kapan harus menggadaikan barang untuk bayaran SPP anak yang satu atau menghutang untuk membeli sepatu anak lainnya yang jebol. Ibuk piawai berakrobatik agar kelima anaknya bisa mendapatkan asupan makanan bergizi meski harus membagi satu telur dadar untuk bertiga.

Kami menghabiskan masa kecil tanpa pernah memiliki mainan atau buku cerita. Saya bahkan tak pernah punya kamar sendiri dan selalu berpindah-pindah tidur. Rumah kecil kami hanya memiliki dua kamar tidur untuk tujuh penghuninya.
        
Keprihatinan hidup tidak menjadi penghalang kami meraih prestasi. Ketika saya berhasil lolos masuk Jurusan Statistika di IPB lewat jalur PMDK, Ibuk dengan berani mengambil keputusan menjual angkot kami. Itulah perjalanan pertama saya meninggalkan Batu dan rumah kecil kami di Gang Buntu.




9 Summers 10 Autumns

Kepergian saya ke Bogor menambah jumlah rupiah yang harus dipenuhi kedua orang tua saya. Karena selain saya, Bapak dan Ibuk juga harus memikirkan biaya kuliah Mbak Nani di Jurusan Perikanan, Univesitas Brawijaya, Malang serta sekolah Rini dan Mira. Sedangkan Mbak Isa, anak terpintar di keluarga kami, memilih tidak kuliah dan menjadi guru les. Saya tidak akan melupakan pengorbanan Mbak Isa yang sebagian besar honor mengajarnya digunakan untuk membiayai sekolah kami berempat.
        
Semangat untuk membahagiakan keluarga dan mengembalikan uang yang dipinjam untuk membiayai kuliah saya, membuat saya belajar lebih keras dari yang lain. Tapi tidak sedikitpun  terlintas di dalam benak saya bahwa saya bisa berkarier di Jakarta, apalagi sampai menjadi seorang direktur di perusahaan ternama dunia. Semua garis perjalanan hidup saya telah diatur oleh Allah dengan sangat menakjubkan lewat ketulusan doa Ibuk.
         
Meski jarak ribuan kilometer memisahkan kami, tapi Ibuk selalu ada di dekat saya dan mengingatkan agar saya tidak telat makan dan melupakan salat. Saya selalu membawa jiwa Ibuk kemanapun saya pergi. Saya sangat yakin, bahwa itulah yang telah menyelamatkan saya.



Setelah 10 tahun berkarier di New York, saya memutuskan kembali ke Batu. Saya tidak menafikan kalau New York memang sangat mengagumkan dan mampu mengubah kehidupan keluarga saya. Tapi saya tak ingin kehilangan momen penting bersama orang-orang yang telah menyiapkan perahu besar untuk pelayaran saya.

Dua tahun saya di Indonesia, Bapak saya meninggal dunia. Allah telah memberikan saya kesempatan dua tahun untuk lebih dekat dengan Bapak. Itulah dua tahun terbaik  dan terindah yang saya habiskan bersama beliau.

        

Buku “ 9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple” dan “Ibuk,” saya tulis untuk mengenang perjalanan keluarga kami yang berubah berkat mindset Ibu yang luar biasa tentang pendidikan. Saya ingin menuliskan sejarah keluarga ini terutama untuk seluruh keponakan saya. Saya ingin menuliskan dengan sederhana, jujur dan sejernih mungkin agar mereka lebih mencintai keluarga dan menghargai perjuangan orang tua mereka serta kakek nenek mereka. Meski keinginan Ibuk untuk melihat saya segera memiliki keluarga sendiri belum terlaksana, tapi saya tetap berusaha menjaga dan membahagiakannya. Karena cintanya adalah nafas hidup saya.




2 komentar:

  1. Tulisan ini membuat saya jadi mengenal seorang Iwan.S.
    Saya pernah nonton film 9 Summers 10 Autumns. Versi filmnya bagus. Versi novelnya pasti lebih bagus lagi. Saya saya belum membacanya :)

    Tfs mbak Ade

    BalasHapus
  2. sama2 mba.... terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, maaf, blognya masih sederhana banget...

    BalasHapus