Pages

Minggu, 26 April 2015

Islam Dan Pesta Ulang Tahun

Perayaan hari ulang tahun, milad maupun maulid tidak ada dalam budaya Islam. Namun, ada ulama yang membolehkan dengan syarat tertentu.
Tradisi merayakan ulang tahun sudah ada sejak zaman Nabi Nuh As. Salah seorang putra Nabi Nuh pernah membuat perayaan di hari kelahirannya. Kebiasaan ini kemudian dilakukan oleh masyarakat Eropa di abad-abad kegelapan. Masyarakat  pada zaman itu percaya, bahwa pada tanggal yang sama dengan kelahiran seseorang, roh-roh jahat akan  berduyun-duyun mendatanginya. Untuk melindungi dari gangguan para makhluk jahat tersebut, maka keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Selain itu, keluarga dan kerabat yang datang juga memberikan hadiah yang  dipercaya akan menciptakan suasana gembira dan  akan membuat roh-roh jahat berpikir ulang untuk  mengganggu  orang yang berulang tahun.
Awalnya, perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Itulah sebabnya, sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring perubahan zaman, orang biasa juga merayakan ulang tahun.
Tradisi ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam Islam. Bahkan Rasulullah Saw tidak pernah mengeluarkan sepotong hadist pun tentang merayakan ulang tahun, termasuk tentang perayaan Maulid Nabi yang kemudian diartikan sebagai momen merayakan hari kelahiran Rasulullah Muhammad Saw.
Peringatan Maulid Nabi sebenarnya berawal dari upaya  Sultan Shalahuddin untuk menyadarkan kaum muslim tentang pentingnya perjuangan lewat tadzikrah kepada Nabi yang kemudian dikenal sebagai Maulid Nabi. Lewat tadzkirah tersebut, semangat jihad kaum muslim  dalam perang salib semakin membara untuk merebut Palestina. Jadi, Maulid Nabi bukan dalil untuk membolehkan pesta ulang tahun.
Halal Bertemu Haram
Merayakan ulangtahun oleh sebagian ulama dinyatakan haram berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang berbunyi : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Karena sesungguhnya pesta ulang tahun bukanlah ajaran Islam melainkan tradisi bangsa Eropa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Namun, sebagian ulama membolehkan perayaan  ulang tahun yang dilakukan dengan mendoakan yang berulang tahun agar selamat, sehat, takwa, panjang umur dan doa-doa baik lainnya asalkan tanpa upacara tiup lilin seperti cara Barat.
Pendapat lain menegaskan bahwa berdoa dan makan-makan hukumnya halal asalkan tidak dilakukan dengan niat merayakan ulang tahun seseorang . Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasyabbuh bil kuffar, karena  bertemu hukum haram dan halal.
Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara’ menyebutkan , “jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal.” (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim). Kegiatan yang mengikuti tradisi umat lain dinamakan juga tasyabbuh. Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bertasyabuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dan Ahmad].
Mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar