Pages

Rabu, 01 April 2015

Ida Daniar Royani: “Dulu, Penampilan Saya Seperti Lady Gaga ...”

Fashion adalah hidupnya. Dia selalu menjadi trendsetter, bahkan ketika dia memutuskan memakai hijab di saat busana tertutup dianggap aneh.

Bagi penggemar musik dan film Indonesia era 70-an, tentu tidak asing  dengan nama Ida Royani. Parasnya yang manis dengan suara merdu dan manja membuat penampilan perempuan kelahiran 24 maret 1953 ini selalu dinanti. Mengawali karier sebagai penyanyi cilik dengan lagu “Sepatu Baru” dan “Gunung Agung”, kiprah Ida terus melesat hingga akhirnya dikenal sebagai pasangan duet Benyamin Sueb. Di rumahnya yang artistik di kawasan Cinere, istri musisi Keenan Nasution ini menceritakan titik balik kehidupannya menjadi seorang pelopor desainer busana muslim.

“Sejak kecil saya sudah menyukai fashion. Saya tidak hanya suka belanja baju dan sepatu tapi juga bereksperimen dengan berbagai materi yang membuat penampilan saya berbeda dari artis lainnya. Saya masih ingat betul tempat-tempat  dimana saya biasa belanja baju. Dulu, di Jakarta hanya ada satu butik, namanya MicMac. Di butik itulah saya membeli segala keperluan saya manggung, mulai dari baju, sepatu dan pernak pernik lainnya. Sedangkan untuk sepatu boots, saya memesannya di Toko Sepatu Vivian. Untuk penataan rambut, saya merupakan pelanggan setia salon Rudi Hadisuwarno.
Hampir semua honor saya menyanyi dan main film habis buat beli baju dan sepatu. Saya biasa pergi ke Singapura pagi-pagi dan pulang sore hanya untuk membeli sepotong baju yang akan saya pakai manggung pada malam harinya. Saya pernah membeli baju seharga Rp 500 ribu di saat harga mobil pada waktu itu Rp 3 juta.  Koleksi sepatu saya mencapai ratusan dengan beragam model dan warna. Saya berani mengecat rambut saya dengan warna ungu dan biru dan menyasaknya setinggi mungkin. Penampilan saya waktu itu tak ubahnya seperti Lady Gaga.
Teguran Benyamin

Meski penampilan saya terbilang nyentrik dan berani, tapi saya tidak pernah merasa risih. Saya biasa  belanja ke Mayestik dengan hanya mengenakan celana super pendek dan sehelai kain yang saya lilit-lilit sekenanya di badan.
Suatu hari di sela istirahat syuting, Benyamin mengajak saya mengobrol serius. Dia hanya mengucapkan beberapa kata saja, tapi rasanya dalam sekali buat saya. “Ida, gue dengar dari nyokap lo kalau lo kagak punya apa-apa selain baju dan sepatu. Padahal seingat gue, honor kita sama malah banyakan elo, karena elo kagak punya tanggungan seperti gue. Tapi dengan honor yang sama, gue udah punya tanah buat semua anak keturunan gue dan gue juga udah menghajikan dan mengumrahkan keluarga gue. Nah, elo punya apaan buat masa depan elo nanti?” Sampai sekarang, kalau ingat kata-kata Benyamin itu, hati saya merasa sesak.
Setelah mendapat teguran dari sahabat seperti Benyamin, saya mulai mengurangi nafsu belanja saya. Setiap membeli baju yang nyaman dipakai, saya membuka semua jahitan baju itu untuk mempelajari polanya. Saya kemudian menjahit sendiri baju panggung saya dan membelanjakan honor dengan lebih bijaksana. Tahun 1975, saya terbang ke London untuk sekolah mode. Sepulang dari menunaikan ibadah haji di tahun 1978,  saya mengejutkan publik dengan penampilan saya yang lain dari sebelumnya. Saya berhijab!
Kenyang Dengan Cemooh

Setelah memutuskan memakai jilbab, saya justru mendapat cemoohan yang sangat menyakitkan. Mulai dari anggapan kalau saya menganut aliran tertentu hingga pengaruh buruk yang akan saya bawa dengan penampilan saya tersebut.
Saya berjuang keras untuk mempertahankan pilihan saya mengenakan jilbab. Saya juga memutuskan berhenti menyanyi meski itu merupakan mata pencarian utama saya. Karena sesuai dengan ilmu yang saya pelajari, suara perempuan itu merupakan aurat.  Berbeda dengan Benyamin yang sudah memiliki rumah dan tanah di mana-mana, saya sama sekali tidak memiliki aset apapun selain baju dan sepatu. Tapi semua itu tidak menggoyahkan hati saya untuk menutup aurat dan berkhidmat kepada Allah SWT.
Pernikahan saya dengan Keenan Nasution menambahkan semangat saya untuk memperdalam agama. Memasuki tahun 1980, saya mulai menjalankan bisnis busana muslim di saat jilbab belum populer di Indonesia, bahkan di dunia. Bisa dikatakan, saya merupakan pelopor di bisnis ini.        
Ketertarikan saya menekuni bisnis ini tak lain karena kedatangan pimpinan Sarinah ke rumah saya dan meminta saya untuk memasok busana muslim di Sarinah dengan sistem jual putus. Sejak itu, saya makin percaya diri dan mulai melahirkan desain-desain busana muslim yang unik, gaya namun tetap memenuhi syariat Islam. Dengan cepat, nama saya mulai dikenal sebagai desainer busana muslim tidak hanya di Indonesia tapi hingga ke Rusia dan Amerika Serikat. Saya memilih berdakwah lewat busana. Karya saya sudah biasa dijiplak dan ditiru orang, saya anggap saja sebagai ladang amal.
Saat  seorang desainer muda berkeluh kesah di akun twitternya bahwa celana model Jodhpur yang didesainnya ditiru orang,  anak saya, Jenahara, yang juga seorang desainer menjawab keluhan tersebut dengan memposting foto-foto celana dengan model  sama karya saya 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah merasa tertinggal meski perkembangan desain busana muslim begitu pesatnya saat ini, karena saya sudah melakukan apa yang sekarang menjadi trend.
Alhamdulillah, dari ke-8 anak saya, Farah dan Jenahara mengikuti jejak saya sebagai desainer. Meski jalan yang mereka tempuh tidak sesukar saat saya memulai merintisnya, tapi saya tetap memberi semangat agar mereka bisa menjadi desainer yang melahirkan karya-karya keren namun tetap berlandaskan syariat  Islam.
Bagi saya, Indonesia telah menjadi kiblat fashion muslim dunia tanpa harus menunggu tahun 2020. Sayangnya, pemerintah kurang mendukung para desainer untuk mengenalkan desain busan muslim Indonesia di ajang bergengsi kelas dunia. Berbeda dengan Malaysia yang pemerintahnya gigih membiayai desainernya melakukan pagelaran ke berbagai belahan dunia. Semuanya dibiayai pemerintah 100 persen! Jadi, jangan pernah salahkan Malaysia kalau mereka bisa merebut posisi sebagai kiblat fashion muslim dunia dari Indonesia.
Saya bersyukur, apa yang selama ini saya lakukan membuahkan manfaat. Busana muslim tidak lagi dianggap aneh malah menjadi trend. Kehidupan ekonomi masyarakat juga ikut terangkat dengan adanya geliat ini. Tak terasa, 32 tahun sudah saya menggeluti bisnis busana muslim dan saya tetap merasa baru kemarin memulainya. Saya berharap kisah ini bisa memberi motivasi bahwa Allah sudah mengatur rezeki semua hamba-Nya dengan sebaik-baiknya, jangan pernah takut karya kita ditiru orang, karena rezeki tidak pernah salah alamat.


Foto: google image

6 komentar:

  1. Kak Adek, tulisan di postingan ini kecik kali. Bisa digedein dikit ga, ya? Pengin baca.

    BalasHapus
  2. Inspiratif. trims Mbak Ade, sudah menuliskan kisah ini :)

    BalasHapus
  3. haya : iya, kekecilan ya, makasih ya haya, ini masih cari-cari layout yang pas

    BalasHapus
  4. Terimakasih mba RF.Dhonna, senang sekali sudah berkenan mampir ke blog saya

    BalasHapus
  5. alhamdulillah dah dapat hidayah
    thanks sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak juga mba ria, sudah berkenan mampir

      Hapus